Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

Hadapi Disrupsi Tatanan Dunia, Indonesia Perlu Kembali ke UUD 1945 Asli

SELASA, 31 MARET 2026 | 04:18 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Tatanan dunia yang terus mengalami disrupsi di tengah konflik Timur Tengah membuat Indonesia perlu berbenah melakukan transformasi untuk kembali kepada jati dirinya.

Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) sekaligus pemerhati kebangsaan, Prof. Daniel M. Rosyid dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin malam, 30 Maret 2026.

“Transformasi NKRI sebagai respons eksistensial menghadapi disrupsi tatanan dunia yang penuh konflik saat ini menuntut kita untuk kembali ke UUD 18 Agustus 1945 (UUD 1945 Asli) sebagai kompas moral berupa nilai-nilai bersama kesepakatan para pendiri bangsa dan inovasi penyempurnaannya serta GBHN sebagai haluan stratejik sesuai tuntutan zaman,” kata Daniel. 


Lanjut dia, usai diubahnya UUD 1945 menjadi UUD 2002, tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara makin tidak pasti yang terus terseret dengan dinamika global yang penuh konflik saat ini.  

“UUD 10 Agustus 2002 hasil reformasi telah merusak kapasistas stratejik bangsa ini melalui korupsi dan fragmentasi sosial, ekonomi dan politik yang menyulitkan Prabowo untuk mengkonsolidasikan semua potensi rakyat semesta dalam menghadapi ancaman ini,” ungkapnya.

Daniel menilai dengan adanya hegemoni partai-partai politik, kepemimpinan Prabowo menjadi tidak stabil. Di lain sisi, ia meyakini bahwa Prabowo sebagai seorang patriot memiliki niat untuk kembali ke UUD 18 Agustus 1945 sesuai amanat dalam AD/ART Partai Gerindra. 

“Transformasi ini dihambat partai-partai politik yang menikmati monopoli politik selama 25 tahun terakhir. Kaum sekuler radikal terus melontarkan semua kritik pada Presiden kecuali pada partai-partai politik yang disebut Noam Chomsky sebagai organisasi yang paling berbahaya di planet ini,” jelasnya. 

Sementara, sambung Daniel, pimpinan-pimpinan Ormas dan kampus sibuk berpuas diri menikmati keuntungan menetes dari sistem yang berjalan sekarang. 

Ia menegaskan bahwa UUD 2002 telah membuat bangsa ini kekenyangan demokrasi sebagai sistem yang diadopsi dari AS dan memiliki daya mematikan serta merusak suatu bangsa.

“Bangsa ini perlu keluar maksiat dengan puasa demokrasi untuk kembali pada fitrah cita negara proklamasi sesuai UUD 18 Agustus 1945. Syahwat demokrasi itu telah melahirkan korupsi dan fragmentasi sosial, ekonomi, dan politik secara sistemik yang jika dibiarkan akan menjadi neraka kebangsaan yang mengancam eksistensi NKRI,” pungkasnya.  


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya