Berita

Ilustrasi militer AS. (Foto: Reuters)

Publika

Pembicaraan Deadlock

AS Bersiap Serang Iran dengan Kekuatan Terbesarnya

MINGGU, 29 MARET 2026 | 05:37 WIB

AMERIKA SERIKAT (AS) mengajukan syarat untuk akhiri perang, tapi Iran menolak. Begitu juga sebaliknya. Keduanya punya kepentingan yang tidak bisa dipertemukan.

Amerika ingin mengendalikan geopolitik Timur Tengah. Menguasai dan mengontrol kebijakan negara-negara gurun. Sementara Iran ingin Amerika hengkang dan tidak intervensi negara-negara di Timur Tengah. Memberikan kemerdekan, kebebasan dan kemandirian negara-negara kawasan gurun ini, termasuk Iran.

Iran merasakan begitu berbahayanya kehadiran Amerika di Timur Tengah. Ini bentuk penjajahan modern yang sangat sistematis dan masif. 


Negara-negara Arab sadar bahwa apa yang dilakukan Amerika ini merupakan bentuk nyata dari kolonialisasi. 

Tapi, negara-negara gurun ini tidak bisa berbuat apa-apa. Para penguasa memilih untuk mengakomodir kepentingan Amerika dari pada mereka kehilangan kekuasaan yang puluhan tahun telah mereka jaga dalam sistem monarki. 

Mereka belajar dari kudeta Afghanistan, Irak, Mesir, bahkan Venezuela. Terakhir yang sedang digarap Amerika adalah Iran. Negara manapun yang membangkang akan dihabisi. Kecuali Rusia, China dan Korut karena terlalu kuat dan punya nuklir 

Iran lain. Selama 47 tahun diembargo, tetap eksis. Presidennya mati dan para elitnya dibunuh, tetap masih tegak. Bahkan ketika pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khameini dibantai bersama keluarganya, Iran masih bisa melawan.

Saat ini, Iran menolak untuk mengakhiri perang. "Anda yang memulai, jangan anda lari", itu prinsip Iran. Jika harus diakhiri, Iran minta Amerika membebaskan semua negara teluk, khususnya Iran, dari intervensi dan penetrasi Amerika. 

"Pergi dari wilayah ini, tarik semua tentara dan peralatan perangnya, kita setara dan sama-sama berdiri sebagai negara yang berdaulat". Inilah hal paling pokok dari lima syarat diakhirinya perang oleh Iran.

Semua syarat tak mungkin bisa dipenuhi oleh Amerika. Sambil mengulur waktu, lobi sana sini, kalkulasi risiko dan dampak, kendalikan negara-negara yang berpotensi membantu Iran, Amerika sedang mematangkan diri untuk melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Iran.

Bagi Amerika, Iran adalah batu sandungan serius bagi Amerika untuk menguasai dunia. Oleh Amerika, Iran tidak akan didiamkan. 

Perang dan penyerangan sudah dimulai. Amerika sedang bersiap untuk menggempur Iran habis-habisan. At all cost. Bagi Amerika, yang penting Rusia, China dan Korut tidak terlibat. 

Ketika Amerika berhasil kendalikan tiga megara nuklir itu, penyerangan berikutnya akan dilakukan. Bahkan ini lebih dahsyat. Amerika akan menggunakan semua kekuatannya untuk menghabisi Iran. Tidak menutup kemungkinan ada opsi terakhir yaitu jatuhkan bom nuklir.

Jika Iran tidak mengambil langkah lebih dulu untuk mengantisipasi dan melumpuhkan kekuatan Amerika, maka tak lama serangan Amerika akan dilakukan. Serangan ini lebih merusak dan lebih komprehensif dari sebelumnya.

Yang dihitung Amerika hanya dua hal. Pertama, Iran tidak menggunakan senjata nuklir. Kalau Iran punya senjata nuklir dan siap diluncurkan ke Israel misalnya, Amerika akan berhitung ulang untuk menyerang.

Kedua, Amerika harus memastikan Rusia dan China tidak terlibat langsung dalam perang. Sebab, keterlibatan langsung Rusia dan China akan memicu perang dunia ketiga.

Jika Iran tidak punya senjata nuklir yang siap diluncurkan, juga tidak ada keterlibatan secara langsung Rusia dan China, maka tak ada kendala lagi bagi Amerika untuk menyerang Iran dengan semua kekuatannya.

Bagaimana dengan negara-negara teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Dubai dan UEA? Mereka tak ada pilihan kecuali ikut bersama-sama Amerika dan Israel untuk menyerang Iran. 

Serangan ini hanya tunggu waktu saja.

Bagi negara-negara Teluk ini, bersama Amerika akan memberikan jaminan keberlangsungan kekuasaan mereka. Melawan Amerika sama saja menyerahkan leher kekuasaannya untuk "digorok". 

Sejatinya, negara-negara Teluk ingin merdeka dari Amerika. Tapi, pilihan ini tak tersedia. Mereka harus realistis, bahkan pragmatis, bahwa hanya dengan mengakomodir kepentingan Amerika, kelanggengan kekuasaannya akan terus mendapat jaminan.

Perang Iran vs Amerika (Israel) akan panjang, seperti Amerika menghancurkan Iraq. Diprediksi butuh waktu paling sedikit 18 bulan.

Jika Iran tidak melunakkan negosiasinya atau tidak lebih dulu menghabisi kekuatan Israel dan juga kekuatan Amerika di Timur Tengah serta menyiapkan rudal berhulu ledak nuklir, maka Iran hanya menunggu waktu untuk menjadi Irak kedua.

Iran besar kemungkinan akan tumbang. Luluh lantah seperti Irak. Kali ini bukan hanya Amerika dan Israel yang menyerang Iran, tapi juga hampir semua negara Teluk. Dalam hal ini, Amerika sangat piawai dalam mengkosolidasikan negara-negara menggunakan janji dan jalur ancaman. 

Anggaran, Alutsista dan dukungan dari negara-negara lain terhadap Amerika jauh lebih besar dan melampaui kekuatan yang dimiliki oleh Iran. Iran itu macan gurun, tapi Amerika itu gagak besar yang bisa memangsa macan. Kecuali jika Iran punya rudal berhulu ledak nuklir. Gagak itu tak akan berani mendarat.

Bagaimana nasib dunia? Dunia akan krisis energi. Pada akhirnya akan merembet ke krisis moneter dan ekonomi. Saat petaka ini datang, maka ada sejumlah pemimpin negara yang bakal tumbang. Mereka ikut menjadi tumbal serangan Amerika ke Iran.

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Pasar Jaya Minta Maaf soal Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Minggu, 29 Maret 2026 | 00:01

BRIN Gandeng UAG University Kolaborasi Perkuat Talenta Peneliti Indonesia

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:40

Masyarakat Apresiasi Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30

Menata Ulang Skema Konsesi Bandara

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:00

Tak Bisa Asal Gugat, Sengketa Partai Harus Selesai di Internal Dulu

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:41

Peradilan Militer Punya Legitimasi dan Tak Bisa Dipisahkan dari Sistem

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:21

Pasar Murah di Monas, Pemerintah Salurkan Ratusan Ribu Paket Sembako

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:05

Juara Hafalan Al-Quran di Lybia, Pratu Nawawi Terima Kenaikan Pangkat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41

Rudal Israel Hantam Mobil Pers, Fatima Ftouni Jurnalis Al Mayadeen Gugur

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:37

DPR Optimistis Diplomasi Pemerintah Amankan Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:17

Selengkapnya