Ilustrasi (Gambar: Babbe)
Pasar saham Eropa ditutup melemah tajam pada akhir pekan, dengan tekanan utama berasal dari lonjakan harga energi dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kekhawatiran terhadap skenario stagflasi, kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lemah, kembali membayangi sentimen investor di kawasan tersebut.
Indeks utama Eropa bergerak negatif, dengan STOXX 50 zona Euro turun 1,1 persen dan STOXX 600 melemah 0,9 persen.
Kenaikan harga minyak, yang dipicu oleh konflik Iran serta ketidakpastian kebijakan AS, memperburuk ekspektasi inflasi. Data awal dari Spanyol bahkan menunjukkan lonjakan inflasi ke level tertinggi sejak 2024, menegaskan tekanan harga yang semakin luas di kawasan.
Pernyataan Presiden ECB, Christine Lagarde, turut memperkuat kekhawatiran pasar. Ia menilai bahwa dampak guncangan energi terhadap ekonomi global, khususnya Eropa, masih berpotensi diremehkan. Hal ini membuka peluang kebijakan moneter yang tetap ketat lebih lama.
Tekanan terjadi hampir di seluruh sektor. Sektor perbankan tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi. Saham seperti BBVA, UniCredit, dan Deutsche Bank turun signifikan.
Sektor industri dan manufaktur melemah seiring prospek permintaan yang memburuk, dengan Siemens dan Schneider Electric mencatat penurunan tajam, masing-masing 2,3 persen dan 3,3 persen
Sektor teknologi da utilitas turut terkoreksi di tengah ketidakpastian makro.
Di Jerman, indeks DAX tertekan 1,4 persen ke level sekitar 22.315, mendekati level terendah dalam satu tahun terakhir.
Penurunan dipimpin oleh saham industri dan pertahanan seperti MTU Aero Engines dan Rheinmetall, serta saham teknologi dan energi.
Meski demikian, BASF menjadi pengecualian dengan kenaikan setelah ekspansi bisnis di China. Secara mingguan, DAX mencatat pelemahan sekitar 0,3 persen.
Di Prancis, CAC 40 turun 0,9 persen menjadi 7.702, dengan mayoritas saham berada di zona merah. Sektor industri dan teknologi kembali memimpin penurunan.
Saham konsumen mewah seperti LVMH dan Hermès juga melemah, mencerminkan kekhawatiran terhadap daya beli global. Di sisi lain, Pernod Ricard melonjak signifikan berkat kabar potensi merger.
Di Inggris, indeks FTSE 100 cenderung datar, mencerminkan sikap wait-and-see investor terhadap perkembangan geopolitik dan negosiasi AS-Iran. Data domestik yang lemah, seperti penurunan penjualan ritel dan melemahnya kepercayaan konsumen, turut membatasi pergerakan.
Saham Rolls Royce jatuh lebih dari 3 persen, sebaliknya, saham AstraZeneca naik 3 persen.
Selama belum ada kejelasan terkait konflik Iran maupun arah kebijakan moneter ECB, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi dan sentimen investor cenderung berhati-hati.