Berita

Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. (Foto: Istimewa)

Publika

Kabais Mundur atau Dimundurkan?

JUMAT, 27 MARET 2026 | 04:29 WIB

MENDADAK kursi Kabais TNI kosong. Bukan karena pensiun, bukan pula karena rotasi biasa. Ini lebih mirip adegan sinetron. Tiba-tiba tokoh utama pamit, tapi alasan resminya bikin dahi berkerut. 

Baru kali ini, jabatan dalam tubuh TNI yang terkenal super komando itu pakai istilah “mengundurkan diri”. Lah, ini institusi militer atau kantor startup? Langsung muncul bisik-bisik netizen, ini mundur beneran atau “dimundurkan dengan sopan”?

Letjen Yudi Abrimantyo resmi melepas jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada Rabu, 25 Maret 2026. TNI bilang ini bentuk pertanggungjawaban atas ulah oknum prajurit BAIS yang diduga menyiram aktivis KontraS, Andrie Yunus, dengan air keras. 


Empat prajurit sudah diamankan, diproses di Puspom TNI. Sementara sang jenderal pamit dengan istilah elegan, “penyerahan jabatan”. Istilah yang rasanya setara dengan kalimat, “kita break dulu ya,” padahal salah satu pihak sudah uninstall perasaan.

Masalahnya, ini bukan drama receh. Ini badan intelijen strategis. Levelnya harus main di dunia senyap, penuh taktik kelas dewa. Eh, yang muncul malah adegan siram-siraman pakai cairan pemakan daging. Ini bukan air galon isi ulang, ini air keras. 

Bukan konten prank TikTok yang bisa dihapus kalau kena report. Ini aksi yang bikin orang trauma keluar rumah hanya karena menjalankan kerja advokasi HAM.

TNI langsung bergerak cepat. Pelaku ditangkap, pimpinan “bertanggung jawab”. Sekilas terlihat keren. Institusi besar, responsnya tegas. Tapi kalau dipikir lagi, masa iya satu kursi kosong bisa menghapus luka bakar di tubuh korban? Kayak ngehapus dosa pakai tombol reset. 

Padahal kata KontraS dan Andrie Yunus sendiri, ini baru permukaan. Dalang intelektualnya siapa? Motifnya apa? Apakah ini aksi liar oknum, atau ada rantai komando yang lebih panjang dari antrean proyek negara?

Yang lebih absurd, saat ditanya apakah ini mundur atau dicopot, Kapuspen TNI malah menghindar dari konferensi pers. Entah karena takut salah ngomong, atau memang naskahnya belum final. Publik disuguhi pertunjukan setengah matang. Aktor sudah keluar panggung, tapi plotnya masih digantung.

Di satu sisi, kita patut kasih kredit. Jarang-jarang ada institusi sebesar TNI yang langsung menunjukkan “atasan ikut tanggung jawab”. Biasanya, yang kena ya level bawah saja. 

Sementara atasannya tetap duduk manis sambil bilang, “itu di luar kendali saya.” Kali ini beda, kursi Kabais ikut goyang. Lumayan, ada rasa keadilan, meski baru secuil.

Tapi di sisi lain, skeptisisme publik juga valid. Karena kita sudah terlalu sering nonton episode yang sama. Oknum lapangan dihukum. 

Pimpinan digeser halus. Lalu, kasusnya pelan-pelan tenggelam. Besok-besok muncul lagi cerita serupa dengan judul baru, aktor baru, tapi naskahnya copy-paste.

Sementara itu, Andrie Yunus tetap harus menghadapi dampak nyata dari kejadian ini. Luka fisik, trauma psikologis, dan rasa tidak aman yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu konferensi pers dan satu “penyerahan jabatan”. 

Ini bukan soal citra institusi, ini soal manusia yang diserang dengan cara brutal.

So, kita sekarang ada di titik klasik Indonesia banget. Panggung pertanggungjawaban megah. Dialognya terdengar meyakinkan. Tapi, endingnya masih abu-abu. 

Apakah ini awal dari pembongkaran besar sampai ke akar? Atau cuma pergantian pemain supaya cerita cepat dilupakan?

Semoga saja ini bukan sekadar ganti aktor utama. Karena kalau hanya itu, siap-siap saja kita nonton sekuelnya, “Penyerahan Jabatan Jilid 2”. 

Seperti biasa, penontonnya tetap kita-kita lagi, duduk, geleng-geleng kepala, sambil berharap kali ini plot twist-nya benar-benar bernama keadilan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya