Berita

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah. (Foto: Istimewa)

Politik

Kabais Diganti, Pengamat: Prabowo Serius soal HAM

JUMAT, 27 MARET 2026 | 00:46 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan respons cepat atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, dengan mengganti Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Letjen TNI Yudi Abrimantyo. 

Langkah ini diambil di tengah dugaan keterlibatan oknum BAIS TNI dalam aksi kekerasan tersebut.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, pergantian Kabais bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah serius menangani persoalan hak asasi manusia (HAM), bahkan ketika dugaan pelanggaran melibatkan aparat negara.


“Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, tetapi indikasi adanya gangguan dalam sistem kontrol intelijen. Karena itu, langkah cepat mengganti pimpinan menjadi penting untuk memulihkan kendali dan kepercayaan,” kata Amir, dikutip Jumat 27 Maret 2026. 

Menurut Amir, dalam perspektif intelijen, keputusan tersebut memiliki makna strategis yang luas, baik untuk konsolidasi internal maupun pesan politik ke publik dan dunia internasional. 

Amir menjelaskan bahwa pergantian Kabais merupakan bentuk penegasan disiplin dalam tubuh intelijen, di mana setiap operasi harus berada dalam kendali komando dan sesuai dengan hukum. 

Dugaan keterlibatan oknum dalam kasus ini, jika terbukti, mencerminkan adanya potensi kelemahan dalam pengawasan internal serta risiko fragmentasi komando yang tidak bisa dibiarkan.

Di sisi lain, langkah tersebut juga dinilai sebagai sinyal politik yang kuat bahwa pemerintahan Prabowo Subianto tidak akan mentoleransi praktik impunitas dalam pelanggaran HAM. 

Dalam konteks global, kata Amir, komitmen terhadap HAM menjadi faktor penting dalam menjaga reputasi Indonesia di mata internasional, termasuk dalam kerja sama pertahanan dan hubungan diplomatik.

“Prabowo sedang membangun positioning bahwa Indonesia tetap demokratis, kuat secara militer, tetapi tetap menjunjung tinggi HAM. Ini penting dalam lanskap geopolitik saat ini,” kata Amir.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya