Berita

Ilustrasi kapal berlayar di Selat Hormuz (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube True Globe)

Global

Tak Hanya Minyak, Lumpuhnya Selat Hormuz Ancam Pangan Dunia

KAMIS, 26 MARET 2026 | 14:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejauh ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada dampak perang Iran terhadap minyak dan gas. Namun di balik itu, ada ancaman lain yang tak kalah serius: terganggunya pasokan pupuk global yang bisa berujung pada penurunan hasil panen dan kenaikan harga pangan di berbagai negara.

Konflik yang melibatkan Iran telah memicu gangguan besar di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan dunia. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk global yang dikirim melalui laut melewati selat ini. Sejak perang pecah, lalu lintas kapal di kawasan tersebut nyaris terhenti, bahkan beberapa kapal dilaporkan terkena serangan di sekitar perairan itu. Kondisi ini langsung memukul rantai pasok pupuk yang sangat dibutuhkan sektor pertanian.

Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga pupuk, khususnya urea yang merupakan pupuk nitrogen utama, melonjak tajam. Dari kisaran 400 hingga 490 Dolar AS per metrik ton sebelum konflik, kini harganya menembus sekitar 700 Dolar. Kenaikan ini mencerminkan betapa rapuhnya rantai pasok global ketika jalur distribusi utama terganggu.


Timur Tengah sendiri merupakan salah satu pusat produksi pupuk terbesar dunia. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Iran memiliki peran besar dalam memasok kebutuhan global. Ketika distribusi melalui Selat Hormuz tersendat, sekitar 30 persen pasokan ekspor pupuk dunia praktis tidak tersedia di pasar.

Chris Lawson, analis dari CRU, menegaskan besarnya dampak gangguan ini terhadap pasar global. 

“Dengan terputusnya Selat Hormuz, sebagian besar perdagangan global tidak dapat berjalan saat ini," ujarnya, dikutip dari CNBC International, Kamis 26 Maret 2026.

Ia juga menambahkan bahwa sekitar 30 persen pasokan ekspor pupuk dunia tidak tersedia di pasar, termasuk dari negara-negara utama seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Iran. Bahkan, menurutnya, sekitar 30 persen perdagangan urea global berasal dari kawasan yang kini terdampak langsung oleh gangguan di Selat Hormuz.

Ia juga mengingatkan bahwa rantai pasok pupuk sangat panjang dan tidak fleksibel. Ketika distribusi terganggu, dampaknya tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan terasa dalam beberapa bulan ke depan. “Jika petani tidak mendapatkan urea yang mereka butuhkan, hasil panen pasti akan turun,” ujarnya.

Kekhawatiran semakin besar karena pupuk nitrogen tidak bisa ditunda penggunaannya. Berbeda dengan jenis pupuk lain seperti potash atau fosfat yang masih bisa dilewati satu musim, nitrogen harus diberikan setiap tahun agar tanaman bisa tumbuh optimal. Tanpa pasokan yang cukup, produksi komoditas penting seperti jagung, gandum, dan berbagai sayuran akan menurun secara signifikan.

Selain urea, komoditas lain seperti amonia dan belerang juga ikut terdampak. Bahkan hampir setengah perdagangan global belerang berasal dari kawasan Timur Tengah. Ketika ekspor dari banyak negara sekaligus terganggu, tekanan terhadap pasar menjadi jauh lebih besar dibanding krisis sebelumnya.

Masalah ini juga diperparah oleh gangguan produksi. Sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut terpaksa menghentikan operasinya, sementara keterbatasan penyimpanan membuat produk yang sudah dihasilkan tidak bisa segera dikirim. Di saat yang sama, China sebagai eksportir besar pupuk juga membatasi ekspor untuk melindungi kebutuhan dalam negeri, sehingga memperketat pasokan global.

Meski stok pangan dunia saat ini masih relatif aman karena adanya cadangan, para analis memperingatkan dampak jangka menengahnya. Penurunan hasil panen dalam skala kecil saja sudah cukup untuk memicu inflasi pangan, terutama di negara berkembang yang sangat bergantung pada impor.

Wilayah seperti Afrika dan Asia Selatan menjadi yang paling rentan. Negara-negara dengan daya beli lebih rendah akan paling terdampak karena mereka cenderung berada di posisi terakhir dalam mengakses pasokan ketika harga melonjak. Dalam situasi seperti ini, krisis pupuk tidak lagi sekadar isu pertanian, tetapi berubah menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan global.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya