Berita

Ilustrasi gandum (Artificial Inteligence)

Politik

Tantangan Impor Pangan RI di Tengah Gejolak Global

RABU, 25 MARET 2026 | 08:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dalam lanskap geopolitik global yang kian tidak menentu, isu ketahanan pangan Indonesia kembali mengemuka. 

Di tengah tekanan rantai pasok dan dinamika energi dunia, ketergantungan terhadap impor, khususnya kedelai dan gandum, menjadi titik lemah yang semakin sulit diabaikan.

Pengamat agrifood, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, menilai bahwa meskipun sejumlah komoditas pangan domestik relatif stabil, dua komoditas tersebut masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, terutama dari Amerika Serikat.


Dalam wawancara dengan CNBC, ia menegaskan bahwa ketergantungan ini tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan jalur distribusi global.

“Jika kita fokus pada produk yang masih bergantung pada impor seperti kedelai dan gandum, itu memang menjadi sorotan utama dari Amerika Serikat,” ujarnya, dikutip redaksi Rabu 25 Maret 2026. 

Kerentanan tersebut semakin nyata ketika dikaitkan dengan jalur distribusi global. Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, arteri perdagangan yang tidak hanya penting bagi energi, tetapi juga bagi logistik komoditas dunia.

Ketegangan di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok sekaligus meningkatkan biaya pengiriman. Artinya, gangguan geopolitik di satu wilayah dapat langsung berdampak pada harga pangan di dalam negeri.

Selain faktor geopolitik, harga energi turut memainkan peran besar. Meskipun harga minyak global sempat mengalami koreksi, levelnya masih cukup tinggi untuk membebani distribusi pangan.

Biaya logistik yang meningkat pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih mahal. Dalam konteks ini, ketahanan pangan tidak lagi sekadar soal produksi, tetapi juga efisiensi distribusi.

Upaya diversifikasi sumber impor memang terus didorong. Berdasarkan data dari USDA dan FAO, negara seperti Argentina, Brasil, dan Paraguay merupakan eksportir utama kedelai selain Amerika Serikat.

Namun demikian, diversifikasi ini tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Jalur distribusi dari negara-negara tersebut tetap berpotensi melewati titik-titik rawan seperti Selat Hormuz, sehingga kerentanan terhadap gangguan global tetap ada.

Ega juga menyoroti posisi China sebagai importir kedelai terbesar dunia. Meski memiliki cadangan besar, tingginya konsumsi domestik membuat harga dari China kurang kompetitif dalam situasi darurat.

Dalam kondisi seperti ini, Amerika Serikat tetap menjadi pilihan utama, baik dari sisi efisiensi, stabilitas pasokan, maupun kemudahan transaksi.

Untuk komoditas gandum dan serealia lainnya, alternatif seperti Malaysia dan Vietnam kerap disebut sebagai opsi.

Namun, pendekatan ini tidak selalu efektif. Jika negara-negara tersebut juga bergantung pada impor dari Amerika Serikat, maka jalur distribusi tidak langsung justru dapat menambah biaya serta memperpanjang rantai pasok.

Lebih jauh, Ega menyoroti implikasi perjanjian dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia diwajibkan mengimpor 2 juta metrik ton gandum per tahun selama lima tahun pertama, 3,5 juta metrik ton kedelai per tahun, dan  3,8 juta metrik ton soymeal per tahun.

Setelah periode awal, volume impor memang akan menurun, namun kewajiban tetap berlanjut.

Menurut Ega, kesepakatan ini pada dasarnya tidak mengubah pola impor secara signifikan, mengingat Amerika Serikat memang telah lama menjadi pemasok utama. Namun, hal ini sekaligus menegaskan bahwa dalam jangka menengah, ketergantungan terhadap impor masih sulit dihindari.

Dengan berbagai tekanan tersebut, kebutuhan akan strategi jangka panjang menjadi semakin mendesak. Diversifikasi impor tetap penting, tetapi tidak cukup.

Peningkatan produksi dalam negeri, efisiensi distribusi, serta penguatan cadangan pangan nasional menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak global.

Dalam dunia yang semakin terhubung, ketahanan pangan bukan lagi isu domestik semata—melainkan bagian dari strategi menghadapi dinamika geopolitik global yang terus berubah.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya