Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Dolar AS Kembali Perkasa: Indeks DXY Rebound di Tengah Gejolak Timur Tengah

RABU, 25 MARET 2026 | 08:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kurs Dolar AS di pasar uang New York kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan Selasa 24 Maret 2026 Waktu setempat. 

Mata uang greenback ini berhasil bangkit setelah investor mulai meragukan prospek perdamaian kilat di Timur Tengah, membalikkan sentimen optimistis yang sempat muncul sehari sebelumnya.

Kekuatan Dolar AS tercermin jelas melalui pergerakan Indeks DXY (yang mengukur nilai Dolar terhadap enam mata uang utama dunia). Indeks ini terpantau naik 0,2 persen ke level 99,42, pulih setelah sempat menyentuh titik terendah dua minggu pada Senin lalu.


Sepanjang Maret 2026, Indeks DXY telah melonjak 1,8 persen. Ini menjadi catatan kenaikan bulanan tertangguh sejak Oktober, didorong oleh status Dolar sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global.

Penguatan Dolar kali ini dipicu oleh dua sentimen utama. Pertama, eskalasi militer, terkait rencana Pentagon mengirim ribuan pasukan tambahan dari 82nd Airborne Division ke Timur Tengah. Ini memberikan sinyal bahwa ketegangan belum benar-benar mereda, meski ada upaya dialog dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Kedua, klarifikasi sentimen. Pasar mulai bersikap lebih realistis setelah pihak Iran membantah klaim adanya negosiasi langsung dengan AS. Hal ini membuat optimisme "penyelesaian total" yang sempat melambungkan pasar pada Senin menjadi lebih terukur.

Keperkasaan Dolar AS menekan mata uang global lainnya secara signifikan. Yen Jepang terpuruk setelah  Dolar menguat 0,3 persen menjadi 158,98 Yen. 

Euro melemah 0,3 persen ke posisi 1,1584 Dolar AS. Sedangkan Poundsterling terkoreksi cukup dalam sebesar 0,5 persen menjadi 1,3383 Dolar AS. 

Berhentinya pasokan minyak melalui Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini memaksa pasar merombak ekspektasi mereka terhadap kebijakan bank sentral. Alih-alih berharap ada pemangkasan, pasar kini justru memproyeksikan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun, yang sangat sensitif terhadap proyeksi bunga, melompat 8,7 basis poin ke level 3,919 persen.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya