Berita

Rudal-rudal Iran berhasil menembus pertahanan Iron Dome milik Israel. (Foto: Reuters/Gideon Markowicz)

Publika

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

SELASA, 24 MARET 2026 | 06:02 WIB

ANEH juga sikap Israel. Setelah membunuh ribuan warga Iran, sekarang malah playing victim. Minta PBB mengukum berat Iran setelah membom Tel Aviv. Mungkin Iran tersenyum dengan sikap kekanak-kanakan Israel. 

Langit Timur Tengah kini bukan lagi biru, lebih mirip layar IMAX penuh ledakan, asap, dan soundtrack rudal. Di tengah panggung apokaliptik itu, muncul satu tokoh dengan aura sinetron tingkat dewa, Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Israel. Berdiri gagah di reruntuhan Arad, ia menunjuk langit seperti sedang mengutuk takdir, lalu berteriak ke PBB. 

“Hukum Iran! Sanksi berat! Dunia jangan diam!”


Ungkapan itu kalau dibaca budak Pontianak akan bilang, "Raselah...!" Atau, "Sokooor..!" kata orang Betawi.

Kalimat itu meluncur dengan dramatis, penuh getaran emosi, seolah dunia baru saja menemukan konsep bernama “perang”. Padahal kalau sejarah tidak dihapus seperti chat mantan, kita tahu, ini bukan bab pertama.

Mari kita rewind, 28 Februari 2026. Saat duet maut Amerika Serikat dan Israel membuka “festival kehancuran” di Iran. Targetnya bukan kaleng-kaleng. Supreme Leader Ali Khamenei syahid, pejabat tinggi ikut tumbang, fasilitas nuklir dan militer dihancurkan, bahkan sekolah dan rumah sakit ikut jadi korban.

Ribuan warga sipil Iran berguguran. Tapi entah bagaimana, narasi global tetap sama. Yang menyerang duluan, sekarang paling kencang teriak “kami korban”.

Iran? Jangan kira mereka figuran. Mereka balas dengan rudal dan drone seperti hujan meteor edisi kiamat. Israel, pangkalan AS, sampai negara Teluk kena cipratan. Tanggal 22 Maret 2026, Arad dihantam. Lebih dari 100 warga sipil Israel terluka.

Lalu… panggung kembali milik Itamar Ben-Gvir. Kali ini bukan sebagai politisi garis keras, tapi aktivis kemanusiaan full paket, lengkap dengan nada getir dan tuntutan sanksi.

Nah, di sinilah plot twist yang bikin dahi berkerut sambil ketawa pahit. Israel minta PBB menghukum berat Iran. Seolah-olah sanksi itu tombol sakti yang baru ditemukan kemarin sore.

Padahal Iran? Mereka sudah hidup dalam mode “embargo hardcore” sejak puluhan tahun lalu. Sejak 1979, sanksi datang silih berganti dari Amerika Serikat, PBB, hingga Uni Eropa, mulai dari larangan perdagangan, pembatasan minyak, sampai pembekuan aset. 

Ekonom bahkan mencatat, sanksi ini bikin ekonomi Iran terpukul berat. Inflasi melonjak, mata uang rontok, investasi kabur. Tapi lucunya, negara itu tetap bertahan, seperti karakter game yang sudah kebal damage. 

Ketika ada yang bilang, “Ayo kita sanksi Iran!”, reaksinya mungkin bukan takut, tapi lebih ke, “Lah, nambah lagi?”

Ini seperti nyuruh Rismon melakukan penelitian lagi, ups.

Masuk ke panggung berikutnya. Dewan Keamanan PBB, tempat yang katanya penjaga perdamaian dunia, tapi lebih mirip ruang VIP geopolitik. Resolusi 2817 (2026) lahir, mengecam Iran, didukung 135 negara. Tepuk tangan. Standing ovation.

Tapi ketika giliran resolusi yang mengecam AS-Israel diajukan? Langsung tamat oleh veto Amerika Serikat. Satu tombol, satu klik, keadilan global langsung buffering tanpa sinyal.

Di titik ini, teori konspirasi mulai terasa seperti laporan tahunan. Apakah konflik ini benar-benar ingin diselesaikan? Atau justru dipelihara, agar industri senjata tetap hidup, harga minyak tetap liar, dan elite global tetap punya alasan untuk terus “bermain”?

Berita terbaru menyebut perang ini sudah mengguncang ekonomi dunia, harga minyak melonjak, risiko resesi global mengintai. Tapi panggung tetap berjalan.

Sekjen António Guterres tampil, membaca naskah diplomasi. Kecam semua pihak, ajak damai, minta dialog. Indah. Menenangkan. Lalu… tidak mengubah arah rudal sedikit pun.

Hukum internasional itu seperti payung. Hanya terbuka untuk yang punya kuasa, dan tertutup untuk yang kehujanan.

Itamar Ben-Gvir teriak minta sanksi. Iran santai seperti veteran yang sudah kebal embargo. PBB tetap duduk, mencatat, dan mungkin… menunggu sponsor berikutnya.

Karena ini bukan lagi perang. Ini industri.

Kita, penikmat Koptagul? Penonton yang mulai sadar, ini bukan drama yang gagal selesai. Ini drama yang memang sengaja tidak pernah diakhiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya