Berita

Pemudik sepeda motor melintasi Bekasi. (Foto: RMOL)

Publika

Selamat Lebaran, Indonesia

SELASA, 24 MARET 2026 | 02:01 WIB

ADA satu momen dalam hidup sebuah bangsa ketika ia berhenti sejenak -- bukan karena kalah, bukan karena lelah, tetapi karena sadar: ada yang harus dibersihkan, bukan di jalanan, bukan di gedung-gedung, melainkan di dalam dirinya sendiri.

Lebaran adalah momen itu.

Ia bukan sekadar perayaan setelah sebulan menahan lapar. Ia adalah jeda yang memberi makna pada perjalanan panjang sebuah kesadaran. 


Ia adalah ruang sunyi, tempat manusia --dan mungkin juga bangsa -- berani mengakui: kita pernah keliru, kita pernah menyimpang, kita pernah terlalu percaya diri pada hal-hal yang rapuh.

Indonesia, dalam banyak hal, seperti manusia yang sedang berpuasa panjang—bukan hanya dari makanan, tetapi dari kejujuran yang utuh.

***

Kita adalah bangsa yang lahir dari harapan yang besar. Dari tangan-tangan yang kosong, dari suara-suara yang nyaris tak terdengar, dari keberanian yang kadang lebih besar dari logika. 

Kita pernah percaya bahwa kemerdekaan adalah pintu menuju keadilan. Kita pernah yakin bahwa kekuasaan bisa dijaga agar tidak menjadi kerakusan.

Namun waktu mengajarkan sesuatu yang lain.

Bahwa kemerdekaan tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Bahwa demokrasi tidak selalu menghasilkan keadilan. Bahwa hukum bisa menjadi alat, bukan penjaga. Dan bahwa kekuasaan, seperti air, selalu mencari celah untuk menggenang.

Di situlah kita mulai lupa.

Lupa bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya dengan strategi, tetapi dengan pengorbanan. 

Lupa bahwa negara bukan sekadar mesin kekuasaan, tetapi ruang moral tempat manusia diuji. Lupa bahwa rakyat bukan angka, melainkan suara yang harus didengar.

Dan dalam lupa itu, kita pelan-pelan membangun sesuatu yang tidak kita sadari: sistem yang rapi, tetapi tidak adil; stabilitas yang tenang, tetapi rapuh; kemajuan yang terlihat, tetapi tidak merata.

Lebaran datang bukan untuk menutup cerita itu.

Ia datang untuk membukanya kembali.

Seperti seorang anak yang pulang ke rumah setelah lama tersesat, Lebaran adalah ajakan untuk kembali. 

Kembali kepada apa yang pernah kita janjikan, kepada apa yang pernah kita cita-citakan, kepada apa yang pernah kita anggap benar.

Dalam bahasa agama, itu disebut taubat . Dalam bahasa bangsa, mungkin itu adalah koreksi diri. 

Sebuah keberanian untuk berkata: kita salah.

Dan lebih dari itu -- sebuah tekad untuk tidak mengulanginya.

Tetapi bangsa tidak seperti individu. Ia tidak bisa menangis sendirian di malam hari, lalu bangun keesokan pagi dengan hati yang bersih. 

Ia terdiri dari jutaan kepentingan, ribuan struktur, dan lapisan-lapisan kekuasaan yang saling bertaut.

 Maka pertobatan sebuah bangsa bukanlah peristiwa emosional. Ia adalah proses. 

Proses yang panjang, kadang menyakitkan, sering kali tidak populer.

Ia membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan keberanian untuk membongkar kebiasaan. 

Untuk mengubah cara kerja. Untuk menata ulang relasi antara kekuasaan dan rakyat. Untuk mengembalikan hukum pada fungsinya—bukan sebagai alat, tetapi sebagai batas.

***

Lebaran, dalam pengertian itu, bukan akhir dari perjalanan spiritual. Ia adalah awal dari perjalanan politik yang jujur.

Namun di tengah semua itu, kita tidak boleh lupa: Indonesia bukan hanya kumpulan masalah.

Ia juga kumpulan kekuatan.

Di balik kegaduhan politik, ada ketahanan sosial yang luar biasa. Di balik ketimpangan ekonomi, ada kreativitas yang tak pernah padam. 

Di balik kelemahan institusi, ada masyarakat yang terus belajar, terus bergerak, terus mencari cara untuk memperbaiki keadaan.

Kita adalah bangsa yang sering kali jatuh—tetapi tidak pernah benar-benar berhenti berjalan.

Itulah yang membuat harapan tetap hidup.

Bahwa di antara semua kekhilafan, selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki. Bahwa di antara semua distorsi, selalu ada titik-titik kecil kebenaran yang bisa diperbesar. 

Bahwa di antara semua kepentingan, masih ada ruang untuk kepentingan bersama.

Mungkin, pada akhirnya, Lebaran bukan tentang kembali ke masa lalu.
Ia tentang membawa masa lalu itu ke masa depan—dengan kesadaran yang lebih jernih.

Tentang mengakui bahwa kita tidak sempurna, tetapi tidak menyerah pada ketidaksempurnaan itu. 

Tentang memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari perjalanan, tetapi bukan alasan untuk berhenti memperbaiki.

Dan tentang satu hal yang sering kita lupakan: bahwa sebuah bangsa menjadi besar bukan karena ia tidak pernah salah, tetapi karena ia berani belajar dari kesalahannya.

Selamat Lebaran, Indonesia.

Mari kita mulai lagi -- dengan lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih berani.

Radhar Tribaskoro
Pendiri Forum Aktivis Bandung dan
Anggota Komite Eksekutif KAMI

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya