Berita

Bani Ismail: Sejarah yang terlupakan tentang leluhur Nabi Muhammad dan Bangsa Arab. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Resensi

Mengulas Kisah Leluhur Nabi Muhammad

MINGGU, 22 MARET 2026 | 06:27 WIB

JUDUL Buku: Bani Ismail - Sejarah yang terlupakan tentang leluhur Nabi Muhammad dan Bangsa Arab
Penulis: Dr. Abdul Hamid Judah as-Sahar
Penerjemah: Misbahul Munir
Penerbit: Alvabet
Cetakan 1, November 2023
424 halaman; 13 x 20 cm

424 halaman; 13 x 20 cm
ISBN 978-623-220-164-4

Ada satu hal yang sering kita lewatkan ketika membaca sejarah: kita hanya mengenal potongan-potongan besar, tapi jarang menyelami alur cerita utuhnya. Buku Bani Ismail: Sejarah yang Terlupakan tentang Leluhur Nabi Muhammad dan Bangsa Arab karya Dr. Abdul Hamid Judah as-Sahar datang untuk mengisi kekosongan itu dan melakukannya dengan cara yang tidak biasa.

Sejak halaman pertama, buku ini terasa berbeda. Ia tidak ditulis seperti buku sejarah kaku yang penuh tanggal dan nama. Sebaliknya, ia mengalir seperti novel -- hidup, emosional, dan penuh imajinasi yang terikat pada sumber-sumber otoritatif. Ini bukan sekadar membaca sejarah, tapi seperti menyaksikan kisah besar umat manusia yang selama ini tersembunyi di balik teks-teks suci.

Yang membuat buku ini semakin menarik adalah penggunaan dua sudut pandang sekaligus. Kita diajak mengikuti perjalanan keturunan Nabi Ismail di Mekkah, sekaligus menyusuri garis keturunan Nabi Ishaq yang berkembang di Mesir. Dua jalur sejarah ini berjalan paralel, lalu perlahan beririsan, menciptakan gambaran besar tentang asal-usul peradaban dan bangsa Arab. 

Tak hanya itu, narasi dalam buku ini juga disambungkan dengan ayat-ayat Alquran yang relevan. Ini bukan sekadar hiasan, tapi menjadi penguat bahwa kisah yang disampaikan memiliki akar spiritual yang kuat. Di saat yang sama, penulis juga menggunakan Kitab Perjanjian Lama sebagai rujukan, sehingga pembaca mendapatkan perspektif yang lebih luas dan komparatif tentang sejarah para nabi dan umat terdahulu.

Sebagai pembaca, saya menemukan banyak detail yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Kisah-kisah tentang para utusan Tuhan yang biasanya hanya disebut sekilas, di sini dihidupkan dengan lebih mendalam. Ada dimensi manusiawi, konflik batin, hingga dinamika sosial yang jarang dibahas dalam buku-buku populer. Ini membuat sejarah terasa lebih dekat, bukan sekadar cerita masa lalu, tapi refleksi tentang perjalanan manusia itu sendiri.

Latar belakang penulis sebagai sastrawan dan penulis skenario film benar-benar terasa kuat. Alur cerita disusun dengan ritme yang pas, dialog terasa hidup, dan deskripsi tempat maupun peristiwa mampu membuat kita seolah berada di dalamnya. Tidak berlebihan jika saya katakan, buku ini punya kualitas sinematik. Ia bukan hanya dibaca, tapi “ditonton” dalam imajinasi.

Bagi Gen Z yang mungkin merasa sejarah itu membosankan, buku ini bisa jadi pintu masuk yang berbeda. Ia membuktikan bahwa sejarah, jika dituturkan dengan cara yang tepat, bisa seintens dan semenarik novel atau bahkan film. Apalagi, ini bukan sembarang cerita ini adalah kisah tentang leluhur Nabi Muhammad, tentang akar peradaban yang membentuk identitas umat Islam hari ini.

Dengan rujukan utama Alquran dan Kitab Perjanjian Lama, buku ini juga memberikan fondasi yang kuat bagi pembaca yang ingin memperdalam pemahaman sejarah berbasis teks suci. Ia tidak hanya memperkaya pengetahuan, tapi juga memperluas cara pandang. Tidak lupa, saya harus apresiasi penerjemah buku ini yang mampu menyajikan naskah terjemahan yang cukup akurat dan membuat narasi dalam buku ini menarik.

Pada akhirnya, Bani Ismail bukan hanya buku untuk dibaca, tapi untuk dimiliki. Ia adalah investasi intelektual dan spiritual -- terutama bagi umat Islam yang ingin mengenal lebih dalam sejarahnya sendiri. Di tengah derasnya konten cepat dan dangkal, buku ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, menyelam lebih dalam, dan menyadari satu hal penting: bahwa memahami masa lalu adalah kunci untuk memahami diri kita hari ini.


Ryo Disastro 
Peneliti Senior Nusantara Centre


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya