Berita

Bendera Iran. (Foto: Istimewa)

Publika

Kenapa Pemimpin Iran Mudah Sekali Diserang Israel-AS

SABTU, 21 MARET 2026 | 01:07 WIB

SATU per satu pemimpin Iran gugur. Muncul pertanyaan, kok mudah sekali diserang oleh Israel-AS? 

Apakah tidak ada perlindungan anti bom? Nah, bagian ini yang akan saya narasikan. 

Tahun 2026, Timur Tengah berubah jadi panggung battle royale premium. Bukan PUBG, bukan Mobile Legends, ini versi real, tanpa revive, tapi anehnya… tetap ada yang “respawn.” 


Hari pertama, 28 Februari 2026, langsung pembuka sinetron level dewa, Ali Khamenei tumbang. Disusul nama-nama elite seperti Ali Larijani, Gholam Reza Soleimani, Esmaeil Khatib, Amir Nasirzadeh, sampai Mohammad Pakpour. Ini bukan daftar kabinet, ini daftar “yang berhasil di-lock target.”

Kok bisa sepresisi itu? Jawabannya sederhana tapi menyeramkan. Mossad dan CIA sudah main di level “Tuhan tahu segalanya, tapi ini versi berlangganan premium.” Lokasi rapat ketahuan, pergerakan dilacak, bahkan mungkin mereka tahu siapa yang lagi pura-pura sibuk biar tidak ikut rapat.

Ini bukan kejadian dadakan. Dulu Qasem Soleimani dilenyapkan drone di 2020. Ilmuwan Mohsen Fakhrizadeh juga ditembak dengan teknologi absurd. Tahun 2026? Ini season final. 

Semua teknologi dikeluarkan, mulai dari drone, rudal presisi, cyber attack, plus timing yang lebih tepat dari janji kampanye yang jarang tepat.

Sebelum bom jatuh, United States Cyber Command bikin Iran seperti orang bangun tidur tapi lupa PIN ATM. Komunikasi lumpuh, koordinasi kacau. Lalu datang serangan udara, dan pertahanan Iran? Ya, ibarat pakai payung buat nahan hujan meteor.

Di sisi lain, kondisi internal Iran lagi goyah. Ekonomi megap-megap, protes rakyat Januari 2026 ditekan, sekutu seperti Hezbollah melemah. Ini momen emas bagi Donald Trump dan Benjamin Netanyahu untuk menjalankan strategi “decapitation strike”potong kepala, biar badan bingung.

Masalahnya… Iran bukan badan biasa.

Begitu Khamenei jatuh, sistem langsung aktif. Tidak ada drama, tidak ada panik. Konstitusi Pasal 111 langsung jalan, dewan sementara dibentuk. 

Masoud Pezeshkian, Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i, dan Alireza Arafi duduk rapi seperti tim darurat yang sudah latihan berkali-kali.

Lalu masuk Assembly of Experts, 88 ulama yang bukan cuma ahli agama, tapi juga ahli menentukan siapa pegang remote kekuasaan. Tanpa debat panjang, tanpa talkshow, tanpa polling Instagram, mereka langsung menunjuk pengganti.

Tanggal 9 Maret 2026, Mojtaba Khamenei resmi naik. Cepat? Sangat. Bahkan lebih cepat dari proses pengambilan keputusan di negeri yang kalau rapat bisa menghasilkan… ya, rapat lagi.

Belum selesai.

Di militer, Iran pakai sistem deep bench. Artinya? Setiap posisi penting sudah punya daftar pengganti rahasia. 

Jadi saat Mohammad Pakpour syahid, langsung muncul nama seperti Ahmad Vahidi sebagai pengganti sementara. Saat Gholamreza Soleimani gugur, sistem langsung isi kursi kosong.

Sebelumnya, Hossein Salami gugur 2025, Pakpour naik. Polanya jelas, ini bukan reaksi, ini skenario.

Iran hidup dengan survival protocol. Sebelum satu jatuh, pengganti sudah siap. Ini bukan sekadar sistem, ini mentalitas “kami mungkin diserang, tapi tidak akan kosong.”

Sekarang kita lihat absurditas yang indah sekaligus mengerikan. AS-Israel sibuk memenggal dengan presisi tinggi, Iran sibuk menumbuhkan kembali dengan kecepatan administratif level dewa.

Kesimpulannya sederhana tapi pahit. Ini bukan soal pemimpin Iran lemah. Ini soal mereka sedang menghadapi kombinasi teknologi, intelijen, dan momentum yang terlalu rapi untuk dilawan. Ketika satu pihak sudah main catur 5D, pihak lain masih sibuk cari papan.

Kita di sini? Duduk manis, nonton, sambil sesekali merasa, “kok pola-pola begini familiar ya?” Bedanya, di Timur Tengah pakai drone, di sini cukup pakai isu dan opini, hasilnya sama. Yang kena tetap yang tidak siap.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya