Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa dan Roy Suryo. (Foto: Dokumentasi Dokter Tifa)
Usai Rismon Hasiholan Sianipar mengajukan restorative justice (RJ) dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo, kini tinggalah pegiat media sosial dr. Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa dan mantan Menpora Roy Suryo yang masuk dalam klister dua yang masih bertahan.
Dokter Tifa mengatakan, sejak awal langkah menggugat ijazah Jokowi dimulai, Roy Suryo yang masih waras selalu menguatkan perjuangan.
"Ia tidak sekadar hadir. Ia mengayomi. Ia tidak sekadar berbicara. Ia menguatkan," kata Dokter Tifa lewat akun X miliknya, dikutip Jumat 20 Maret 2026.
Dalam setiap tekanan, setiap gempuran, setiap tudingan yang datang tanpa henti dari berbagai arah, kata Dokter Tifa, Roy Suryo berdiri seperti dinding yang kokoh.
"Setahun ini bukan waktu yang pendek. Rangkaian hari-hari panjang yang menguras tenaga, emosi, bahkan keyakinan terdalam," kata Dokter Tifa.
Namun di tengah itu semua, lanjut Dokter Tifa, Roy Suryo tetap tegak, dengan stamina yang seakan tak habis, dan mental yang tak retak.
"Namun ada satu hal yang sering luput dilihat orang, saat kita sedang letih dan lemah. Mas Roy yang selalu ceria, yang tawanya berderai-derai," kata Dokter Tifa.
"Ringan, lepas, seolah ingin mencairkan segala beban yang kami pikul bersama.
Tawa dan cerianya bikin kami naik semangat," sambungnya.
Di mata Dokter Tifa, Roy Suryo hampir tak pernah berkata tidak. Menurutnya, selalu ada “iya” di setiap permintaan, di setiap kebutuhan, di setiap kelelahan yang kami rasakan.
"Dan lebih dari itu, ia selalu berusaha menyenangkan semua orang," kata Dokter Tifa.
Di tengah kerasnya perjuangan, lanju Dokter Tifa, Roy Suryo memilih menjadi pribadi yang hangat. Di tengah gelapnya tekanan, ia memilih menjadi penerang yang sederhana: tawa, kehadiran, dan kesediaan.
"Ia benar-benar Abang. Bukan hanya karena usia. Tapi karena jiwa," kata Dokter Tifa.
Saat ini, ketika Rismon memilih jalannya sendiri, meninggalkan ruang perjuangan yang pernah diisi bersama, ada kekosongan yang tak bisa dipungkiri.
"Kini kami berdiri sebagai Dwitunggal. Bukan karena segalanya menjadi lebih ringan, justru sebaliknya. Tapi karena kami tahu, amanah ini tidak boleh jatuh," kata Dokter Tifa.