Berita

Novel berjudul “1984” karya George Orwell. (Foto: pelakubisnis.com)

Politik

Ulasan Novel ‘1984’:

Negara Bisa Menjadi Totaliter Lewat Teror dan Teknologi

RABU, 18 MARET 2026 | 23:28 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Benih-benih teror negara atau state terrorism dinilai mulai tumbuh dan menjadi ancaman serius bagi masa depan demokrasi Indonesia. Hal itu seiring maraknya intimidasi terhadap aktivis dan kebebasan sipil beberapa tahun terakhir.

Demikian pesan yang disampaikan ekonom senior Prof. Didik J Rachbini dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita bertajuk "Teror kepada Aktivis dan Masa Depan Demokrasi Indonesia" yang digelar secara virtual, Rabu, 18 Maret 2026.

Didik menilai novel berjudul “1984” karya George Orwell relevan sebagai peringatan terhadap ancaman totalitarianisme di masa kini.


"Teror ini bisa menghapus pikiran-pikiran demokrasi. Kan yang dilakukan oleh (Andrie Yunus) Yunus adalah dia menentang otoritarianisme lewat sistem legal. Dia, negara ingin menaklukkan individu. Dan kalau ini terjadi, maka negara itu akan menjadi negara totaliter," kata Didik. 

Ia menegaskan bahwa kekuatan negara yang berlebihan akan mengikis kontrol demokrasi.

"Apa relevansi novel 1984 itu? Ini peringatan kita. Peringatan bagi kita. Kalau negara itu terlalu kuat, maka kontrol demokrasi itu makin hilang," tegasnya.

Didik juga menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi informasi oleh negara. 

"Kemudian risiko menggunakan penyalahgunaan teknologi, termasuk Twitter itu. Twitter itu kalau ada di tangan negara, dia menjadi alat propaganda yang mematikan dan membunuh pikiran-pikiran demokrasi. Dan juga manipulasi informasi di era sekarang," pungkas Didik.

Dalam acara ini, turut dihadiri beberapa narasumber lainnya, yakni Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur, pakar hukum tata negara Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Jentera Bivitri Susanti, dan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Anis Hidayah.


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya