Berita

Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: RMOL)

Publika

Demokrasi Bermartabat di Bilik Pemilu

RABU, 18 MARET 2026 | 16:32 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

PESTA rakyat! Pemilihan Umum (Pemilu) bukan sekadar hajatan elektoral, melainkan ujian bagi jiwa bangsa (volkgeist) dalam memaknai kedaulatan rakyat. Dinamika yang terjadi terjadi saat ini, tidak ubah bak pentas drama, mulai dari perilaku politik uang hingga sengketa hasil.

Demokrasi hari ini, masih jauh dari memuliakan kepentingan publik. Pemilu justru hanya menjadi panggung bagi ambisi kekuasaan. Besaran angka partisipasi proses elektoral, belum menjadi cerminan kualitas demokrasi.

Filsafat Pemilu


Sejatinya, demokrasi bersanding dengan supremasi hukum. Dengan demikian, secara filosofis, hukum pemilu tidak boleh kering dari moralitas. Sejalan dengan prinsip teori keadilan bermartabat, yang pada prinsipnya hukum berorientasi pada upaya memanusiakan manusia.

Dalam konteks Pemilu, pemilih tidak boleh dianggap hanya sebagai komoditas yang suaranya bisa dibeli. Para aktor politik kerap berpikir pragmatis, suara menjadi sebatas efek kalkulatif. Padahal, publik merupakan subjek mulia yang memegang kedaulatan tertinggi.

Problemnya, realitas pada ruang politik praktis, seringkali jauh dari idealisme moral. Terlebih ketika mengukurnya dengan positivisme hukum yang kaku, dimana keabsahan dilihat secara sempit dari teks undang-undang, tanpa peduli pada kecacatan etik di tingkat implementasi.

Padahal, proses pemilu yang jujur dan adil adalah syarat menuju kehidupan demokrasi yang lebih baik. Karena itu, bila timbangan kepastian hukum tanpa dibarengi dengan martabat kemanusiaan, menjadikan pemilu sebagai ajang kepalsuan yang melukai nurani publik.

Luka Konstitusi

Putusan untuk menggelar karpet merah bagi dinasti politik, menjadi bentuk penundukan hukum oleh kepentingan politik. Pada aspek sosiologis, fenomena tersebut menurunkan optimisme publik terhadap supremasi hukum.
 
Terlebih ketika penjaga gerbang demokrasi yakni Mahkamah Konstitusi, memiliki konflik kepentingan secara nyata, konsekuensinya marwah keadilan dipertaruhkan.

Integritas moral bagi penyelenggara pemilu perlu tegak dan terjaga. Sehingga, mereka yang terpilih, haruslah memiliki standar etika individu yang tinggi. Jangan sampai posisi yang mulia tersebut, justru diisi dengan figur bermasalah sebagai bentuk politik kompromi.

Perlu dilakukan perbaikan sistem rekrutmen penyelenggara negara. Dalam perspektif keadilan bermartabat, seorang pemimpin yang kehilangan kompas moralnya, maka secara otomatis kehilangan haknya untuk memandu bahtera kedaulatan rakyat.

Ancaman Gentong Babi

Belajar dari pengalaman sebelumnya, secara sosiologis, legitimasi Pemilu dibayangi masifnya politisasi bantuan sosial (Bansos) jelang pemungutan suara.
 
Praktik itu dikenal sebagai pork barrel politics atau politik gentong babi, yang mengeksploitasi rendahnya literasi politik masyarakat dengan menukar suara melalui imbalan ekonomi sesaat.
 
Situasi ini seakan menjadi antitesis dari demokrasi yang bermartabat, karena bersifat mereduksi kedaulatan rakyat menjadi sekadar transaksi dagang.
 
Sementara itu, di sisi lain, teknologi yang seharusnya membawa transparansi, seperti sistem Sirekap, justru memicu ketidakpastian. Banyaknya perbedaan data antara formulir fisik dengan tampilan digital, menciptakan kecurigaan adanya manipulasi sistematis.
 
Kegagalan teknis dan kurangnya audit teknologi yang transparan, pada akhirnya menggerus kepercayaan publik pasca-pemilu.

Jalan Pulang

Ditengah berbagai kekacauan tersebut, publik tetap harus memiliki harapan. Bagaimana memulihkan martabat demokrasi? Perlu reorientasi politik hukum yang bersifat transformatif.
 
Termasuk diantaranya; (i) Koherensi regulasi proses elektoral, secara yuridis dibutuhkan unifikasi peraturan Election Law. Sehingga terjadi sinkronisasi Pemilu dan Pilkada secara bermakna. (ii) Penguatan pengawasan dan peran lembaga peradilan etik kepemiluan.

Di mana etika menjadi panglima, bukan sekadar pelengkap administratif. (iii) Peningkatan literasi politik serta peran partisipasi publik. Memastikan pendidikan politik berkelanjutan, agar publik mampu menolak politik uang dan mencegah terjadinya disinformasi digital.
 
Demokrasi yang bermartabat, bukan sekadar angka partisipasi yang tinggi, melainkan proses yang menjunjung tinggi kehormatan publik. Prinsip utamanya, hukum tanpa etika adalah buta, dan politik tanpa hukum adalah liar.
 
Sudah saatnya mengembalikan kedaulatan rakyat, agar di masa depan pemimpin terpilih memiliki mandat moral yang kokoh, membawa bangsa ini menuju kesejahteraan yang adil dan bermartabat.

Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya