Berita

Diskusi lintas generasi yang digelar di Jakarta Selatan pada Selasa malam, 17 Maret 2026.(Foto: Istimewa)

Politik

Kepemimpinan Intrinsik Kunci Memutus Kebuntuan Krisis Sistemik Bangsa

RABU, 18 MARET 2026 | 14:12 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Krisis multidimensi yang terjadi saat ini berakar pada memudarnya standar moral pemimpin yang kini lebih mengandalkan otoritas formal daripada integritas.

Hal ini disampaikan Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said dalam diskusi lintas generasi yang digelar di Jakarta Selatan pada Selasa malam, 17 Maret 2026.

"Dalam masa depan yang sulit, kita butuh pilar kepemimpinan intrinsik. Pemimpin harus memiliki dasar track record dan integritas yang kokoh, bukan sekadar menggunakan otoritas yang diberikan kepadanya dengan cara yang tidak bijaksana," ujar Sudirman, dikutip Rabu 18 Maret 2026.


Ia menyoroti bagaimana sumber kepemimpinan berkualitas kian menurun, berganti dengan penggunaan kekuasaan yang cenderung tidak partisipatif.

Krisis kepemimpinan ini berdampak langsung pada manajemen prioritas negara, terutama di sektor pertahanan. 

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto memberikan catatan tajam mengenai kebijakan alutsista yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan manusia. 

"Negara punya kewajiban bukan sekadar menjaga kedaulatan, tapi juga menyejahterakan rakyatnya. Kita cukup membuat alat yang kita punya mumpuni, daripada membeli banyak tapi dalam beberapa tahun sudah out of date," kata Endriartono.

Ia juga mempertanyakan penambahan struktur dan pangkat di tengah anggaran stagnan yang justru menggerus hak prajurit di tingkat bawah.

Di sisi lain, rusaknya suprastruktur politik menjadi penghambat utama munculnya pemimpin berkualitas. Pakar hukum tata negara, Feri Amsari, membedah tipologi partai politik yang kini bertransformasi menjadi entitas komersial.

"Indonesia tidak bisa dikelola dengan format parpol seperti ini. Syaratnya dibuat sedemikian rupa sehingga hanya orang super kaya yang bisa masuk. Mereka tak peduli demokrasi, yang penting kekayaan meningkat," kritik Feri.

Diskusi turut dihadiri pengusaha, Anton Supit dan tokoh antikorupsi Erry Riyana Hardjapamekas.  



Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya