Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi BI)

Bisnis

BI Beri Sinyal Tidak Akan Pangkas Suku Bunga Imbas Gejolak Global

RABU, 18 MARET 2026 | 00:50 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Indonesia (BI) memberi sinyal penahanan suku bunga acuan dalam waktu yang lama imbas meningkatnya risiko global akibat konflik di Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dalam hasil rapat dewan gubernur (RDG) narasi penurunan suku bunga tidak lagi menjadi fokus BI saat ini.

“Dampak perang Timur Tengah ini memang kami kenapa dalam pernyataan ini (hasil RDG) tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Selasa, 17 Maret 2026.


Ia mengklaim langkah tersebut mencerminkan sikap BI yang lebih berhati-hati dalam merespons dinamika global. Menurutnya fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas, termasuk melalui intervensi pasar dan penguatan cadangan devisa.

“Itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI rate selama ini untuk memperkuat intervensi, juga kecukupan cadangan devisa dan menekannya sesuai dinamika yang ada ke depan,” lanjutnya.

Dalam RDG 16–17 Maret 2026, BI memutuskan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility tetap 3,75 persen dan Lending Facility berada di 5,50 persen.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk meredam tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap dalam target.

“Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga capaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” jelas Perry.

BI juga menyoroti dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 kini diproyeksikan melambat menjadi 3,1 persen. 

Lonjakan harga minyak disebut menjadi salah satu pemicu utama tekanan, karena mengganggu rantai pasok global dan mendorong inflasi naik. Tekanan inflasi dunia bahkan diperkirakan meningkat dari 3,8 menjadi 4,1 persen.

Di tengah kondisi tersebut, lanjut Perry, ruang pelonggaran kebijakan moneter global semakin terbatas. Penurunan suku bunga acuan di AS pun berpotensi tertunda lebih lama.

Selain itu, pasar keuangan global turut bergejolak. Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, hingga derasnya arus modal keluar dari negara berkembang akan menjadi tantangan tambahan.

“Suku bunga yield US treasury terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal AS, termasuk kenaikan anggaran untuk pembiayaan perang,” tandasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya