Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Dunia

Iran Disebut Bisa Jadi ‘Vietnam Kedua’ yang Menguras Kekuatan AS

SELASA, 17 MARET 2026 | 15:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang telah berlangsung lebih dari dua pekan terus menunjukkan eskalasi serius.

Pada awalnya, AS diyakini menargetkan kemenangan cepat lewat serangan mendadak ke Iran. Namun, perlawanan kuat dari Teheran justru membuat situasi berbalik dan menekan posisi Washington, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.

Menurut profesor hubungan internasional China, Li Haidong, kondisi ini mengarah pada pola yang mirip dengan Perang Vietnam. Ia menegaskan, Iran kemungkinan besar akan menjadi ‘Vietnam’ lain bagi AS, karena keunggulan militer tidak selalu berujung pada kemenangan politik.


Li menjelaskan bahwa Iran mengadopsi strategi asimetris yang menyerupai taktik “eskalasi horizontal” Vietnam. 

“Keunggulan militer AS yang luar biasa terbukti sulit diterjemahkan menjadi kemenangan politik,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa situasi ini berpotensi berubah menjadi perang berkepanjangan yang mahal, dikutip dari Global Times, Selasa 17 Maret 2026.

Dari sisi militer, Li menilai posisi AS mulai melemah. 

“Pengeluaran militer AS telah meroket… dan penipisan cepat persediaan rudal presisi mengungkap kelemahan fatal,” katanya. 

Dalam minggu pertama saja, biaya operasi disebut telah melampaui 11 miliar Dolar AS.

Dampak konflik juga terasa di dalam negeri AS. Kenaikan harga energi mendorong lonjakan harga bensin, yang berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Li menilai kondisi ini bisa memicu tekanan politik baru, terutama menjelang momentum politik penting di dalam negeri.

Ia juga mengingatkan dampak sejarah Perang Vietnam yang memicu perpecahan sosial besar di AS. “Konflik tersebut akhirnya mendorong AS ke ambang ‘perang saudara’,” ujarnya, menggambarkan betapa dalamnya dampak konflik berkepanjangan terhadap stabilitas domestik.

Di tingkat global, Li melihat mulai muncul keraguan dari sekutu terhadap AS. “Sifat ilegal dan kesewenang-wenangan konflik tersebut telah menimbulkan keresahan luas di komunitas internasional,” ujarnya.

Ia pun memperingatkan bahwa perang sering kali sulit dikendalikan, sehingga AS perlu segera meredakan eskalasi sebelum dampaknya semakin besar.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya