Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

Serangan KKB di Papua pada Awal Tahun Terstruktur dan Sistematis

SELASA, 17 MARET 2026 | 04:51 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pemerintah diminta membaca pola eskalasi kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua menyusul insiden penyerangan Pos KSTP Kodap XXXIII/Rumana di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, pada 8 Maret 2026. Peninjauan dapat dilakukan dengan membaca data kekerasan KKB sepanjang Januari-Maret 2026.

Pengamat politik Universitas Udayana (Unud), Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menyatakan, KKB melakukan sembilan kekerasan dan serangan selama triwulan I 2026. Aksi-aksi yang dilancarkan tersebut berpola atau tidak dilakukan secara acak.

"Data ini menunjukkan eskalasi yang terukur, baik dari sisi frekuensi, geografis, maupun jenis target. Dari Yahukimo, Mimika, Boven Digoel, Nabire, hingga Tambrauw. Dari aparat keamanan, ke warga sipil, ke tenaga pendidik, ke pegawai honorer, ke pilot, ke fasilitas publik," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin malam, 16 Maret 2026.


Adapun perincian sembilan serangan KKB sejak Januari hingga Maret tahun ini adalah penembakan terhadap pilot dan kopilot Smart Air di Boven Digoel (11 Januari), penembakan pesawat komersial di Yahukimo (14 Januari), pembunuhan Daniel Datti (2 Februari), penembakan terhadap Suwono dan anggota TNI (12 Februari), pembakaran SMA Negeri 2 Dekai (14 Februari), pembakaran mobil Kepala Desa (18 Februari), kontak tembak di Nabire yang melukai Pratu MC (1 Maret), dan penusukan seorang warga sipil di Tambrauw (8 Maret).

Dalam analisis strategi kontra insurjensi, menurut Efatha, pergeseran target dari aparat ke sipil memiliki logika tersendiri. Bahkan, menargetkan warga sipil dinilai memberikan keuntungan strategis bagi KKB.

"Pertama, biaya operasional rendah dengan risiko minimal. Kedua, dampak psikologis luas karena menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat. Ketiga, memprovokasi respons berlebihan dari aparat yang dapat dieksploitasi sebagai propaganda," bebernya.

Dicontohkannya dengan penembakan pesawat sipil di Boven Digoel yang menewaskan pilot dan kopilot. Efatha berpendapat, aksi tersebut tidak hanya bertujuan membunuh, tetapi juga memutus jalur logistik dan mobilitas masyarakat.

"Pembakaran SMA Negeri 2 Dekai pada 14 Februari juga demikian. Menghancurkan fasilitas pendidikan berarti melumpuhkan generasi dan menciptakan trauma kolektif," jelasnya.

Pada aksi kekerasan di Tambrauw, yang menewaskan Abraham Franklin Delano Kambu karena mengalami luka tusuk di punggung. Dalam kajian perilaku kekerasan politik, ungkap Efatha, modus operandi tidak netral, tetapi membawa pesan.

"Menusuk dari belakang adalah bentuk eksekusi yang menghindari konfrontasi. Ini menunjukkan preferensi taktis untuk menghindari kontak langsung dengan aparat sekaligus cara merendahkan korban. Korban tidak diberi kesempatan melihat, melawan, atau membela diri. Ini berbeda dengan modus penembakan pesawat atau kontak tembak di Nabire, yang menunjukkan kapasitas persenjataan dan mobilitas yang berbeda," tuturnya.

"Perbedaan modus ini penting dibaca sebagai indikasi adanya fragmentasi kapasitas antarkelompok. Ada yang mampu melakukan kontak tembak terbuka, ada yang memilih pendekatan asimetris melalui serangan terhadap target lunak," sambung dia.

Pola serangan itu memiliki dampak jangka panjang sehingga perlu dicermati secara serius. Efatha mengatakan, serangan terhadap tenaga publik, seperti guru, perawat, pegawai honorer, dan pilot sipil, menciptakan ruang kosong pelayanan.

Ketika sekolah tutup karena guru takut mengajar, ketika puskesmas sepi karena tenaga kesehatan enggan bertugas, ketika transportasi terhenti karena pilot enggan terbang, maka ruang itu tidak benar-benar kosong. Namun, akan diisi struktur lain.

"Dalam literatur konflik, ini disebut sebagai shadow governance atau pemerintahan bayangan. Kelompok bersenjata dapat mengisi kekosongan dengan memungut pajak ilegal, memberikan perlindungan, merekrut anggota, bahkan membangun otoritas tandingan. Inilah yang menjadikan konflik berkepanjangan sulit diselesaikan hanya dengan pendekatan militer," bebernya lagi.

KKB mengklaim bertanggung jawab atas aksi di Tambrauw. Pembunuhan tersebut dilakukan Thobias Yekwam dari Batalyon Sawok atas perintah Fincen Frabuku, Panglima Kodap XXXIII/Rumana. Sementara itu, penembakan di Nabire diklaim sebagai operasi kelompok Aibon Kogoya.

Bagi Efatha, praktik mengklaim tanggung jawab dengan menyebut nama komandan dan satuan menunjukkan upaya membangun citra sebagai kekuatan militer yang terstruktur, bukan sekadar kelompok kriminal. Ini penting bagi KKB untuk mendapatkan legitimasi di mata pendukung dan audiens internasional.

"Hanya saja ironisnya, klaim tersebut berdiri di atas kontradiksi. Operasi militer yang kredibel memiliki batasan etis dan hukum, termasuk prinsip pembedaan antara kombatan dan nonkombatan. Menyerang warga sipil tak bersenjata justru meruntuhkan klaim tersebut," pungkasnya.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya