Berita

Yudhi Hertanto. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Bisakah Hukum Lingkungan Menjinakkan Ambisi Ekonomi?

MINGGU, 15 MARET 2026 | 17:19 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

ANOMALI! Iklim semakin tidak mudah diprediksi, dunia dalam kepungan kekacauan pola cuaca. Sepanjang tahun terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan bencana hidrometeorologi yang masif akibat kenaikan suhu global yang kini menyentuh angka 1.35 derajat, di atas level pra-industri.
 
Kondisi panas ekstrem dan banjir bandang, kini rutin menghiasi tajuk berita. Lalu sejauh mana hukum lingkungan mampu melindungi alam dari ambisi ekonomi yang tak terbendung?

Wajah hukum lingkungan, adalah cermin dialektika antara pertumbuhan dan kelestarian. Sejak UU Cipta Kerja berlaku, politik hukum Indonesia bergeser dari paradigma konservasi menuju pola yang lebih eksploitatif (Pambudhi & Ramadayanti, 2021).
 

 
Transformasi terjadi, dari izin lingkungan menjadi persetujuan lingkungan, bukan hanya masalah administrasi, melainkan sinyal pelemahan kontrol sosial yang berisiko meminggirkan hak masyarakat adat dan kelestarian ekosistem esensial (ICEL, 2024).
 
Manusia dan Alam
 
Kita sering terjebak dalam lingkup antroposentrisme, dimana alam hanya dianggap sebagai pelayan bagi kepentingan manusia (Al Munir, 2023). Kini, realitas krisis iklim memaksa hukum untuk melirik perspektif ekosentrisme, sebuah pandangan bahwa alam memiliki nilai intrinsik yang wajib dilindungi terlepas dari nilai ekonominya (Keraf, 2010).
 
Dalam praktik peradilan, harapan itu mulai tumbuh melalui dua senjata hukum ampuh: tanggung jawab mutlak -strict liability dan asas in dubio pro natura. Di mana dengan konsep strict liability, memungkinkan korporasi dihukum tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan, jika aktivitasnya menimbulkan ancaman serius (Wibisana, 2023).
 
Penegakan hukum dengan menggunakan mekanisme tersebut, membutuhkan ketegasan dan keberanian untuk melindungi kepentingan publik dari dampak atas kerusakan lingkungan alam yang terjadi, sebagai konsekuensi aktivitas bisnis korporasi.
 
Sedangkan asas in dubio pro natura menyatakan, bahwa prinsip utamanya mengharuskan hakim untuk memihak pada aspek perlindungan lingkungan, saat terjadi keraguan dalam memutuskan sebuah perkara.
 
Termasuk diantaranya, menegaskan bahwa satwa langka, adalah korban yang tak bersuara (voiceless victim) yang harus dilindungi secara hukum. Model keputusan seperti itu, menjadi oase di tengah gersangnya penegakan hukum yang sering berpihak pada pemilik modal.
 
Gugatan Iklim

Perlawanan publik, kini tak lagi terbatas pada ruang sidang domestik. Fenomena gugatan iklim (climate litigation) menjadi tren global. Kasus nelayan Pulau Pari yang menggugat raksasa semen pada pengadilan Swiss, menjadi bukti bahwa warga negara bisa menuntut tanggung jawab atas emisi karbon yang menenggelamkan ruang hidup mereka (WALHI, 2025).
 
Pokok argumen yang diajukan perihal keadilan antargenerasi (intergenerational justice), menjadi basis untuk memastikan generasi mendatang tidak mewarisi bumi yang rusak (Moeckli et al., 2014).
 
Jalan Terjal Keberlanjutan
 
Perjalan menuju keadilan ekologis masih terjal. Sebagaimana laporan Gakkum KLH yang menangani 921 perkara lingkungan sepanjang 2025, terdapat hambatan eksekusi putusan masih menjadi momok (Antara, 2025).
 
Korporasi seringkali menggunakan celah hukum dalam menghalangi proses penilaian aset, sehingga kemenangan perkara, sulit menjadi pemulihan nyata di lapangan (Maskun et al., 2022).
 
Pemerintah perlu melakukan reevaluasi terhadap simplifikasi perizinan dalam UU Cipta Kerja. Dibutuhkan sistem pengawasan yang inklusif, dimana partisipasi publik tidak dibatasi hanya pada mereka yang terkena dampak langsung (ICEL, 2024).
 
Selain itu, penguatan kapasitas hakim melalui kodifikasi yurisprudensi lingkungan sangat krusial agar standar pembuktian ilmiah tidak lagi menjadi celah bagi perusakan alam (Amar, 2025).
 
Eksistensi hukum lingkungan merupakan benteng terakhir peradaban. Tanpa keberanian dalam menempatkan ekologi setara dengan ekonomi, maka kita sedang menunggu waktunya sampai akhirnya alam memberikan keputusan yang tak bisa lagi kita banding di pengadilan mana pun.
 
Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya