Berita

Kejagung menampilkan wujud uang senilai Rp2 triliun dari total keseluruhan Rp11,8 triliun dalam perkara korupsi pemberian fasilitas ekspor crude palm oil (CPO) alias minyak goreng korporasi.(Foto: RMOL)

Politik

Pemuda Muslimin Indonesia PW DKI Jakarta:

Usulan Perppu Ekonomi Berpotensi Menimbulkan Keseimpangsiuran Penegakan Hukum

MINGGU, 15 MARET 2026 | 17:17 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pemuda Muslimin Indonesia Pimpinan Wilayah (PW) DKI Jakarta menolak usulan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi dan Pemulihan Perekonomian Negara.

Ketua Umum Pemuda Muslimin Indonesia PW DKI Jakarta Rizki menilai regulasi ini berpotensi menimbulkan persoalan serius dalam sistem penegakan hukum nasional.

Pertama, penerbitan Perppu harus memenuhi syarat konstitusional sebagaimana diatur dalam Pasal 22 Undang-Undang Dasar 1945, yaitu adanya hal ihwal kegentingan yang memaksa. Parameter tersebut telah ditegaskan dalam berbagai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mensyaratkan adanya kebutuhan hukum mendesak, kekosongan hukum, serta ketidakmungkinan penyelesaian melalui proses legislasi biasa.


Dalam konteks pemberantasan tindak pidana ekonomi, Indonesia sesungguhnya telah memiliki berbagai instrumen hukum yang cukup komprehensif, seperti Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang Minerba, serta berbagai regulasi lain di sektor perdagangan dan keuangan.

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa argumentasi mengenai kekosongan hukum masih sangat dapat diperdebatkan," kata Rizki dalam keterangannya di Jakarta, Minggu 15 Maret 2026.

Kedua, pengaturan mengenai mekanisme denda damai dalam rancangan Perppu tersebut menimbulkan kekhawatiran serius. Mekanisme yang memungkinkan penghentian perkara setelah pembayaran denda berpotensi menimbulkan preseden buruk dalam penegakan hukum.

Ketiga, rancangan regulasi ini memperlihatkan kecenderungan sentralisasi kewenangan penanganan perkara pada satu institusi melalui pembentukan satuan tugas di bawah otoritas Jaksa Agung yang memiliki kewenangan mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan hingga pemulihan aset.

Keempat, kewenangan pengambilalihan penyidikan (take over) dalam rancangan Perppu tersebut berpotensi menimbulkan konflik kelembagaan serta memperkeruh koordinasi antar aparat penegak hukum. Alih-alih memperkuat sistem penegakan hukum, mekanisme tersebut justru berpotensi menciptakan ketidakpastian dan memperlemah sinergi antar lembaga.

Kelima, substansi rancangan Perppu ini memberikan ruang diskresi yang sangat besar kepada otoritas tertentu dalam menentukan penghentian perkara melalui mekanisme denda damai maupun deferred prosecution agreement. Ruang diskresi yang terlalu luas tanpa mekanisme pengawasan yang kuat berpotensi membuka celah terjadinya kompromi perkara, negosiasi hukum, maupun konflik kepentingan dalam proses penegakan hukum.

Keenam, pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada pemulihan ekonomi negara juga berpotensi menggeser esensi hukum pidana yang menekankan pertanggungjawaban pelaku kejahatan. Pemulihan kerugian negara memang penting, namun tidak boleh mengorbankan prinsip keadilan pidana dan akuntabilitas hukum terhadap pelaku kejahatan ekonomi yang merugikan masyarakat luas.

"Usulan Perppu ini justru berpotensi menimbulkan keseimpangsiuran dalam sistem penegakan hukum ekonomi di Indonesia," kata Rizki.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya