DI Eropa Abad Pertengahan, terdapat sebuah fenomena yang menggerakkan roda ekonomi dan politik pada masa itu, yaitu kultus relik.
Antara tahun 1000 dan 1200 M, masyarakat Eropa tidak hanya memuja orang suci yang disebut santo atau santa, tetapi juga terobsesi pada sisa-sisa fisik dan benda-benda milik mereka.
Relik, atau benda-benda suci ini -- baik itu berupa potongan tulang, helai rambut, hingga serpihan kayu -- dipandang sebagai jembatan antara dunia fana dan Tuhan.
Kepercayaan utama yang mendasari fenomena ini adalah konsep praesentia, atau kehadiran fisik orang suci dalam benda-benda tersebut.
Relik tidak dianggap sekadar pengingat sejarah, melainkan juga wadah yang menyimpan mukjizat. Ini melahirkan hierarki kesucian, mulai dari relik kelas satu (bagian tubuh), kelas dua (benda milik pribadi), dan kelas tiga (benda yang pernah disentuh relik asli).
Secara sosial dan ekonomi, kultus ini mengubah Eropa. Kota-kota yang memiliki relik bergengsi menjadi pusat wisata spiritual atau ziarah massal seperti Santiago de Compostela. Para peziarah datang membawa sumbangan besar yang kemudian membiayai pembangunan katedral-katedral megah.
Namun, nilai ekonomi yang tinggi ini juga memicu sisi kelam, yaitu munculnya pasar gelap, pencurian relik, hingga pemalsuan yang dilakukan oleh para penjual relik.
Obsesi ini melahirkan karya kriya bernama
reliquary. Karena benda di dalamnya dianggap tak ternilai, wadah penyimpannya pun dibuat dari emas, perak, dan permata.
Desain
reliquary dibuat menyerupai bagian tubuh yang disimpannya -- seperti kotak berbentuk lengan untuk menyimpan tulang lengan --sebagai pernyataan visual akan keagungan isinya.
Di antara ribuan relik yang tersebar di seluruh Eropa, tidak ada yang memicu perdebatan sedalam dan sepanjang Kain Kafan Turin (The Shroud of Turin) yang dipercayai dimiliki oleh Yesus Kristus.
Sehelai kain linen sepanjang 4,4 meter ini bukan hanya sekadar peninggalan sejarah. Ia adalah titik temu antara iman yang dogmatis dengan sains yang empiris.
Kain kafan yang disimpan di Katedral Santo Yohanes Pembaptis, Turin, ini menampilkan gambar samar seorang pria yang memiliki luka-luka penyaliban yang sangat detail, yang bagi jutaan orang, diyakini sebagai kain pembungkus jenazah Yesus Kristus.
Pada tahun 1898, dunia terkejut ketika fotografer Secondo Pia menemukan gambar kain yang menghebohkan. Detail anatomi, wajah, dan luka-luka yang nyaris tak terlihat oleh mata biasa muncul dalam klise foto.
Penelitian modern dengan pemindai VP-8 menunjukkan gambar tersebut adalah gambar tiga dimensi yang mustahil ditemukan pada lukisan dari Abad Pertengahan.
Namun tiga laboratorium independen menyimpulkan bahwa kain tersebut berasal dari rentang tahun 1260-1390 M, yang menempatkannya sebagai artefak Abad Pertengahan. Meski begitu, perdebatan tidak berakhir sampai di sana. Banyak ilmuwan skeptis terhadap hasil tersebut.
Mereka berpendapat bahwa sampel yang diuji diambil dari bagian kain yang telah terkontaminasi atau ditambal ulang setelah peristiwa kebakaran hebat pada abad ke-16.
Di samping Kain Kafan Turin, banyak relik lain yang dianggap suci. Salib Sejati (True Cross) adalah serpihan kayu yang diyakini berasal dari salib tempat Yesus dieksekusi.
Relik ini tersebar di berbagai gereja di seluruh Eropa, namun koleksi terbesarnya dikumpulkan oleh Santa Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus Agung.
Relik Mahkota Duri (Crown of Thorns) dipercayai sebagai mahkota duri yang dikenakan kepada Yesus waktu disalib. Relik ini disimpan di Sainte-Chapelle, Paris, sebelum dipindahkan ke Katedral Notre Dame. Mahkota ini berhasil diselamatkan dari kebakaran besar Notre Dame pada tahun 2019 lalu.
Relik Cawan Suci (Holy Grail) diyakini sebagai cawan perjamuan terakhir Yesus Kristus. Gelas atau mangkuk ini dipercayai digunakan oleh Yesus Kristus saat perjamuan terakhir bersama para murid.
Cawan ini juga diyakini digunakan oleh Yusuf dari Arimatea untuk menampung darah Yesus saat penyaliban. Meskipun keberadaan cawan masih menjadi misteri dan sering bercampur dengan legenda Raja Arthur, Katedral Valencia di Spanyol mengklaim menyimpan cawan yang asli.
Relik Darah San Gennaro (Santo Januarius) ada di Napoli, Italia. Relik ini menjadi terkenal karena fenomena mencairnya darah sang santo yang sudah kering. Bagi mereka yang percaya, darah tersebut mencair secara ajaib beberapa kali dalam setahun di hadapan ribuan peziarah.
Pada Abad Pertengahan, memiliki relik yang suci berarti memiliki kekuasaan dan kekayaan.
Karena minat masyarakat yang sangat tinggi, muncul praktik yang dikenal dengan istilah furta sacra atau “pencurian suci”. Pencurian dianggap sebagai tindakan yang direstui oleh Tuhan.
Logikanya begini. Jika seorang santo tidak ingin dipindahkan, dia akan menunjukkan kemarahannya melalui mukjizat atau bencana.
Jika pencurian berhasil, itu dianggap sebagai bukti bahwa sang santo ingin pindah ke tempat yang baru karena tempat lamanya tidak lagi layak atau kurang memberikan penghormatan.
Kasus pencurian paling terkenal terjadi di Venesia pada tahun 828 M. Dua pedagang Venesia mencuri tubuh Santo Markus dari Alexandria, Mesir.
Untuk melewati pemeriksaan penjaga Muslim, mereka menyembunyikan jenazah tersebut di bawah tumpukan daging babi (yang dianggap haram sehingga tidak diperiksa).
Keberhasilan ini menjadikan Venesia sebagai pusat ziarah utama dan Santo Markus menjadi pelindung kota tersebut hingga hari ini.
Pada tahun 1087 M, sekelompok pelaut dari Bari, Italia, menyatroni makam Santo Nikolas di Myra (Turki).
Mereka membawa lari tulang-tulang sang santo ke Bari. Aksi ini didorong oleh persaingan ekonomi untuk menarik wisatawan yang datang untuk berziarah.
Pada abad ke-9, seorang biarawan dari Conques menghabiskan waktu sepuluh tahun berpura-pura menjadi anggota biara lain di Agen hanya untuk mencuri relik Santa Foy.
Setelah berhasil mencurinya, ia membawa relik itu ke Conques, yang kemudian mengubah desa kecil tersebut menjadi perhentian penting dalam rute ziarah ke Santiago de Compostela.
Meluasnya obsesi akan relik menciptakan hukum pasar yang sederhana. Permintaan tinggi tetapi pasokan terbatas. Akibatnya, pada abad ke-12 hingga ke-14, Eropa dibanjiri oleh benda-benda "suci" yang asal-usulnya sangat meragukan.
Banyak pedagang relik (reliquari) muncul sebagai pengusaha yang memanfaatkan kepolosan jemaat. Beberapa penelitian modern menggunakan penanggalan karbon menunjukkan bahwa beberapa tulang santo ternyata adalah tulang babi atau domba yang dibungkus kain sutra.
Ada begitu banyak gereja yang mengklaim memiliki Tengkorak Yohanes Pembaptis. Saat dikritik, pihak gereja terkadang berargumen bahwa Tuhan melakukan "mukjizat penggandaan" agar lebih banyak jemaat bisa menyembahnya.
Meskipun kritik tajam datang dari tokoh Reformasi Protestan seperti Martin Luther dan John Calvin pada abad ke-16 -- yang menganggap praktik ini sebagai bentuk penyembahan berhala dan penipuan -- kultus relik tidak pernah benar-benar berhenti.
Hingga hari ini banyak katedral di Eropa yang masih memamerkan relik-relik tersebut. Ini menjadi saksi sejarah tentang bagaimana sebuah keyakinan pada "benda suci" mampu membentuk struktur masyarakat dan kebudayaan Barat selama berabad-abad.
John Calvin, dalam risalahnya berjudul Treatise on Relics (1543), menulis kritik yang sangat tajam dan lucu. "Jika semua fragmen kayu yang diklaim sebagai Salib Yesus dikumpulkan, mereka akan membentuk muatan kapal besar," tulisnya.
Mengenai Susu Bunda Maria, Calvin menulis, "Seolah-olah Bunda Maria adalah seekor sapi perah, karena jumlah susu yang disimpan di berbagai katedral lebih banyak daripada yang bisa dihasilkan seorang ibu."
Dan mengenai gigi Yesus, Calvin mengatakan ada begitu banyak gigi Yesus di berbagai biara. Jika dikumpulkan, kata Calvin, Yesus mungkin memiliki gigi sebanyak gigi ikan hiu.
Bagi masyarakat Eropa saat itu, relik adalah jaminan keselamatan. Memiliki relik di sebuah kota berarti memiliki "pintu gerbang" langsung ke surga.
Ini mendorong munculnya arsitektur Gothic dan Romanesque yang menggerakkan ekonomi lewat ziarah. Dan ini pula yang menyatukan identitas Eropa di bawah satu payung budaya dan agama yang sama.
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara