Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Publika

Enam Bulan Purbaya, Rupiah Melemah tiap Bulan

MINGGU, 15 MARET 2026 | 04:08 WIB

DALAM ekonomi, angka bisa bercerita tentang kepercayaan, arah kebijakan, dan ekspektasi pasar. Dan jika melihat pergerakan rupiah sejak Purbaya Yudhi Sadewa menjabat Menteri Keuangan pada September 2025, cerita yang muncul bukanlah tentang penguatan, melainkan tentang tren pelemahan yang konsisten.

Data nilai tukar menunjukkan bahwa sejak pergantian Menteri Keuangan, rupiah bergerak dalam satu arah. Melemah perlahan, bulan demi bulan.

Pada September 2025, rupiah berada di kisaran Rp16.531 per dolar AS. Sebulan kemudian naik menjadi Rp16.595. November Rp16.687. Desember Rp16.693. Januari 2026 Rp16.815. Februari Rp16.824. Dan pada Maret 2026, rupiah menyentuh sekitar Rp16.913 per dolar.


Jika dihitung sederhana, rupiah melemah sekitar Rp382 atau sekitar 2-3 persen dalam enam bulan.

Bagi orang awam, angka ini mungkin terlihat kecil. Tetapi di pasar valuta asing, arah tren jauh lebih penting daripada besarannya. Dan tren rupiah selama enam bulan terakhir sangat jelas. Hampir tidak pernah menguat secara berarti.

Pasar keuangan jarang bergerak tanpa alasan. Nilai tukar biasanya menjadi indikator pertama yang bereaksi terhadap perubahan persepsi risiko.

Ketika investor melihat potensi tekanan fiskal, ketidakpastian kebijakan, atau perubahan arah ekonomi, reaksi tercepat biasanya muncul di pasar valuta asing.

Dalam konteks Indonesia hari ini, beberapa sinyal risiko memang muncul bersamaan. Pemerintah mulai membicarakan kemungkinan pelebaran defisit fiskal. 

Beban pembayaran bunga utang negara terus meningkat. Harga energi global bergejolak akibat ketegangan geopolitik. Di saat yang sama, yield obligasi negara juga menunjukkan tren kenaikan, tanda bahwa investor meminta premi risiko lebih tinggi.

Dengan latar belakang seperti itu, pelemahan rupiah bukanlah sesuatu yang aneh. Justru itu adalah respon pasar yang cukup rasional.

Yang menjadi masalah bukanlah pelemahan rupiahnya. Dalam ekonomi terbuka, semua mata uang bisa naik dan turun. Masalahnya adalah ketika pemerintah merespon kritik dengan retorika, bukan dengan analisis.

Pernyataan bahwa yang mengkritik rupiah adalah “orang yang tidak punya duit” adalah contoh komunikasi ekonomi yang keliru. 

Kritik terhadap nilai tukar bukanlah soal siapa yang kaya atau miskin. Ia adalah bagian dari mekanisme kontrol publik terhadap kebijakan ekonomi.

Banyak pihak yang mengkritik rupiah justru berasal dari kalangan yang paling memahami pasar. 

Ekonom, analis keuangan, investor institusional, hingga pelaku industri. Mereka membaca data, bukan sekadar menyebarkan pesimisme.

Dalam ekonomi modern, kredibilitas pemerintah adalah aset yang sangat mahal. 

Pasar tidak hanya melihat angka APBN, tetapi juga memperhatikan bagaimana pemerintah berbicara tentang ekonomi. 

Pernyataan yang defensif atau meremehkan kritik sering kali dibaca sebagai tanda ketidaknyamanan terhadap fakta.

Jika rupiah terus bergerak menuju level psikologis Rp17.000 per dolar, pasar tentu akan semakin sensitif. 

Bukan hanya karena angka itu sendiri, tetapi karena ia bisa menjadi simbol menurunnya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi.

Stabilitas mata uang tidak ditentukan oleh seberapa keras pemerintah membantah kritik. 

Ia ditentukan oleh disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas komunikasi ekonomi.

Dan selama enam bulan terakhir, pasar tampaknya sedang mengirim pesan yang cukup jelas.

Rupiah mungkin belum jatuh. Tetapi arahnya sudah terlihat.

Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya