Berita

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat konferensi pers pertama sejak dimulainya perang dengan Iran,. Video inilah yang diduga buatan AI (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube IsraeliPM)

Dunia

Video Pidato Netanyahu Viral, Warganet Ramai-ramai Curigai Unsur AI

SABTU, 14 MARET 2026 | 11:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kemunculan publik pertama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak perang Iran memicu perdebatan besar di media sosial. 

Banyak pengguna internet terutama di platform X menuduh video tersebut kemungkinan dibuat atau dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Spekulasi bermula ketika sejumlah pengguna media sosial meneliti pidato video Netanyahu secara sangat detail. Mereka menemukan satu frame gambar yang memperlihatkan tangan Netanyahu tampak aneh saat berada di dekat mikrofon.


Beberapa orang mengklaim bahwa gambar tersebut memperlihatkan enam jari, bukan lima seperti biasanya. Hal ini sering dianggap sebagai salah satu ciri khas gambar yang dihasilkan AI, karena teknologi generatif sebelumnya kerap mengalami kesulitan membuat bentuk tangan manusia secara akurat.

Tak lama kemudian, potongan gambar yang diperbesar serta video yang diperlambat mulai beredar luas. Banyak unggahan menambahkan tanda panah dan keterangan seperti “lihat tangan ini” atau “ini glitch khas AI”.

Dalam hitungan jam, unggahan tersebut menyebar dengan cepat dan ditonton jutaan kali. Berbagai teori bermunculan di internet. 

Sebagian pengguna menduga video itu adalah rekaman propaganda digital yang sengaja dibuat untuk menyampaikan pesan pemerintah tanpa kehadiran langsung Netanyahu.

Ada juga unggahan yang mempertanyakan keberadaan Netanyahu secara langsung. Salah satu pengguna menulis:

“Video terbaru pemerintah Israel terlihat dihasilkan AI karena Netanyahu punya 6 jari. Apakah Netanyahu sudah meninggal?”

Namun hingga kini, tidak ada bukti yang memastikan bahwa video tersebut benar-benar dibuat menggunakan AI.

Kontroversi video Netanyahu terjadi di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang di Timur Tengah. Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu banjir konten perang di media sosial.

Berbagai video serangan misil, foto medan perang, hingga gambar satelit beredar luas setiap hari. Namun banyak di antaranya ternyata menyesatkan, lama, atau sudah dimodifikasi secara digital.

Fenomena lain yang muncul adalah tren analisis video oleh warganet. Banyak pengguna dunia maya kini mencoba membongkar keaslian video viral sendiri, tanpa menunggu investigasi jurnalis atau ahli. Dalam kasus video Netanyahu, beberapa pengguna memperlambat video frame demi frame, memperbesar gambar, hingga menggunakan alat AI untuk memeriksa kemungkinan manipulasi.

Praktik ini sering disebut sebagai “citizen forensics”. Meski kadang berhasil menemukan manipulasi nyata, metode ini juga kerap memicu kesalahpahaman karena artefak teknis dianggap sebagai bukti rekayasa.

Tangan manusia memang sering menjadi fokus ketika orang mencoba mendeteksi gambar AI. Pada generasi awal teknologi AI, sistem sering menghasilkan tangan dengan bentuk aneh, jari berlebih, atau jari yang menyatu. Karena itu, di internet muncul lelucon populer: “Kalau ragu, hitung saja jarinya.”

Ketika screenshot dari video Netanyahu terlihat memiliki bentuk tangan yang tidak biasa, reaksi netizen pun langsung meledak. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, kontroversi ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat memandang informasi.

Selama puluhan tahun, video dianggap sebagai bukti paling kuat. Namun di era AI generatif, kepercayaan terhadap gambar dan video mulai menurun. Kini, setiap rekaman, terutama yang melibatkan pemimpin dunia seperti  Netanyahu, bisa langsung diperiksa dan diperdebatkan oleh jutaan orang di internet.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya