Berita

Ilustrasi bahaya air keras/Wikimedia Commons.

Kesehatan

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

SABTU, 14 MARET 2026 | 09:52 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Istilah "air keras" kembali menjadi sorotan tajam publik setelah terjadinya tragedi kekerasan di ibu kota baru-baru ini.

Pada Kamis malam, 12 Maret 2026, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal (OTK) saat mengendarai sepeda motor di kawasan Jalan Salemba I, Senen, Jakarta Pusat.

Akibat serangan brutal dari arah depan tersebut, Andrie mengalami luka parah di bagian tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta mata kanannya.


Saat ini, korban tengah menjalani perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSCM.

Kasus ini sedang dalam penyelidikan menyeluruh oleh Polres Metro Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya untuk mengungkap motif dan menangkap pelakunya.

Tragedi ini menjadi pengingat kelam bahwa di balik wujudnya yang cair dan sering kali bening menyerupai air biasa, air keras menyimpan potensi destruktif yang masif.

Memahami fakta air keras adalah sebuah keharusan dalam upaya mitigasi risiko dan keselamatan publik.

Definisi dan Jenis-jenis Air Keras yang Sering Ditemui

Secara kimiawi, air keras adalah sebutan awam untuk larutan asam kuat yang memiliki tingkat keasaman (pH) sangat rendah, biasanya di bawah 2.

Perbedaan utama antara asam kuat dan cairan lainnya terletak pada reaktivitasnya; asam kuat terdisosiasi (terurai) secara sempurna dalam air, melepaskan ion hidrogen (H+) dalam jumlah masif yang sangat reaktif mencari ikatan elektron baru.

Beberapa jenis air keras yang paling sering ditemukan di sektor industri maupun rumah tangga meliputi:

Asam Sulfat (H2SO4): Sangat umum digunakan sebagai cairan pengisi aki kendaraan (battery acid) dan bahan baku pupuk. Zat ini sangat dehidrator (menyerap air dengan kuat).

Asam Klorida (HCl): Sering dimanfaatkan dalam konsentrasi tertentu sebagai cairan pembersih porselen atau penghilang karat.

Asam Nitrat (HNO3): Digunakan dalam industri bahan peledak dan pemurnian logam (emas/perak).

Reaksi Kimia pada Jaringan Tubuh Manusia

Ketika cairan biasa menyentuh kulit, ia hanya akan membasahi atau menguap. Namun, saat kulit terpapar asam sulfat (H2SO4) atau asam kuat lainnya, terjadilah bencana mikroskopis.

Paparan asam kuat memicu kondisi medis yang disebut luka bakar kimia (chemical burns).

Mekanisme utama kerusakan sel akibat asam kuat adalah koagulasi nekrosis (kematian jaringan akibat penggumpalan). Ion hidrogen dari asam akan menyerang ikatan hidrogen dalam protein sel tubuh.

Hal ini memicu protein denaturation (denaturasi protein), di mana protein kehilangan struktur tiga dimensinya, terurai, dan menggumpal. Kematian sel ini membentuk lapisan jaringan mati yang keras (eschar).

Sebuah studi klinis menegaskan bahwa meskipun pembentukan eschar ini membatasi penetrasi asam lebih dalam (berbeda dengan zat basa yang terus menembus jaringan), kerusakan yang terjadi di permukaan hingga dermis sangatlah fatal dan ireversibel (Palao, R., et al., 2010, Chemical burns: pathophysiology and treatment - PubMed).

Selain itu, asam seperti H2SO4 menyerap air dari jaringan dengan sangat cepat, memicu reaksi panas ekstrem (eksotermik) yang menambah luka bakar termal di atas luka bakar kimia.

Dampak Jangka Panjang dan Prosedur Pertolongan Pertama

Efek korosif dari air keras tidak berhenti pada rasa sakit awal, seperti yang ancamannya kini dialami oleh korban pada insiden di Salemba.

Dampak jangka panjangnya meliputi cacat anatomis parah (kontraktur jaringan parut), kehilangan penglihatan permanen jika mengenai area okular (mata), hingga trauma psikologis berat.

Oleh karena itu, intervensi pada "menit-menit emas" (golden minutes) sangat menentukan prognosis korban. Berikut adalah langkah pertolongan pertama jika terjadi paparan:

Amankan Diri: Pastikan penolong menggunakan sarung tangan agar tidak ikut terkontaminasi.

Lepaskan Pakaian Terkontaminasi: Segera lepaskan pakaian atau jam tangan yang terkena cairan asam. Jangan menarik pakaian melewati kepala.

Irigasi Air Mengalir Secara Masif: Bilas area yang terpapar dengan air bersih yang mengalir selama minimal 20-30 menit. Air akan mengencerkan (dilusi) konsentrasi asam.

Hindari Zat Penetral: Jangan mencoba menetralisir asam dengan cairan basa (seperti soda kue). Reaksi netralisasi asam-basa menghasilkan panas yang justru memperparah kerusakan jaringan.

Cari Bantuan Medis: Segera hubungi ambulans atau bawa korban ke rumah sakit terdekat.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya