Berita

Pengamat politik Nurul Fatta. (Foto: Dok Pribadi)

Politik

Kritik Publik Bukan Ancaman tapi Masukan bagi Pemerintah

JUMAT, 13 MARET 2026 | 12:48 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kritik dan masukan dari masyarakat sipil seharusnya dipandang sebagai bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan publik. Sayangnya, dalam praktiknya kritik tersebut kerap dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah.

Pengamat politik Nurul Fatta menilai masyarakat sipil selama ini memberikan masukan secara sukarela demi memperbaiki kualitas kebijakan yang dibuat pemerintah.

“Masyarakat sipil pada dasarnya memberikan masukan secara sukarela demi memperbaiki kualitas kebijakan publik. Laporan yang diberikan masyarakat sipil itu gratis loh, cuma-cuma, tanpa dibayar mereka mau mengevaluasi kebijakan pemerintah,” kata Fatta kepada RMOL, Jumat, 13 Maret 2026.


Menurutnya, peran masyarakat sipil seharusnya ditempatkan sebagai mitra kritis pemerintah dalam menjaga kualitas tata kelola pemerintahan.

“Mereka seharusnya diposisikan sebagai mitra kritis pemerintah, bukan pihak yang dimusuhi,” ujarnya.

Nurul menjelaskan, dalam sistem politik yang sehat perbedaan pandangan terhadap suatu kebijakan merupakan hal yang wajar. Selalu ada pihak yang menerima kebijakan, namun tidak sedikit pula yang menolak.

Karena itu, penolakan dari sebagian masyarakat tidak seharusnya dipandang negatif. Justru, respons tersebut dapat menjadi mekanisme evaluasi bagi pemerintah untuk menilai efektivitas kebijakan yang dijalankan.

“Dalam sistem politik yang sehat selalu ada pihak yang menerima kebijakan dan ada pula yang menolak. Penolakan tersebut seharusnya dibaca sebagai mekanisme evaluasi kebijakan agar pemerintah dapat melakukan penyesuaian kebijakan,” jelasnya.

Fatta menekankan, evaluasi tersebut bisa dilakukan dengan memperbaiki implementasi kebijakan maupun menyesuaikan desain kebijakan agar lebih efektif dan tepat sasaran bagi masyarakat.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya