Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Harga minyak dunia melonjak tajam dan ditutup pada level tertinggi dalam hampir empat tahun setelah pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup.
Dikutip dari Reuters, Jumat 13 Maret 2026, pada penutupan Kamis harga minyak mentah Brent berada di level 100,46 Dolar AS per barel, naik 8,48 Dolar AS atau 9,2 persen setelah sempat menyentuh 101,60 Dolar AS selama perdagangan. Sementara minyak mentah Amerika, West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 9,7 persen menjadi 95,70 Dolar AS per barel. Kedua kontrak tersebut merupakan penutupan tertinggi sejak Agustus 2022.
Analis menilai pasar minyak saat ini berada dalam kondisi sangat tidak stabil karena terganggunya jalur pasokan utama dunia. Wakil Presiden sekaligus Kepala Riset Minyak Global S&P Global Energy, Jim Burkhard, mengatakan situasi ini kemungkinan tidak akan cepat membaik.
“Pasar sangat tidak seimbang dan kondisi ini akan terus berlanjut sampai Selat Hormuz dibuka kembali dan operasi produksi serta distribusi kembali normal. Itu tidak akan terjadi dengan cepat,” ujarnya.
Ketegangan meningkat setelah kapal Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak menggunakan kapal bermuatan bahan peledak. Seorang pejabat keamanan Irak mengatakan serangan tersebut memaksa pelabuhan minyak negara itu menghentikan seluruh operasinya.
Sementara itu Oman juga memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan.
Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Angkatan Laut Amerika saat ini belum dapat mengawal kapal dagang melewati Selat Hormuz, meskipun kemungkinan operasi pengawalan bisa dimulai pada akhir bulan. Meski demikian, ia menilai harga minyak global kemungkinan tidak akan melonjak hingga 200 Dolar AS per barel, meskipun serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial terus berlanjut.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global. Lembaga itu telah menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, namun sejumlah analis meragukan seluruh volume tersebut benar-benar akan dilepas ke pasar. Bahkan jika direalisasikan, jumlah itu diperkirakan hanya cukup menutup sekitar 25 hari gangguan pasokan saat ini.
IEA juga mencatat negara-negara Teluk di Timur Tengah telah memangkas produksi minyak sedikitnya 10 juta barel per hari, setara hampir 10 persen dari permintaan minyak dunia. Selain itu, sejumlah kilang di kawasan tersebut juga menghentikan kapasitas pengolahan hingga 2,35 juta barel per hari.