Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Wall Street Rontok: Tiga indeks Utama Kompak Parkir di Zona Merah

JUMAT, 13 MARET 2026 | 08:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Amerika Serikat ditutup merosot tajam di tengah semakin memanasnya konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

Dikutip dari Reuters, Jumat, 13 Maret 2026, pada penutupan Kamis indeks Dow Jones Industrial Average turun 739,42 poin atau 1,56 persen menjadi 46.677,85. S&P 500 melemah 103,22 poin atau 1,52 persen ke level 6.672,58, sementara Nasdaq Composite jatuh 404,15 poin atau 1,78 persen ke posisi 22.311,98. 

Penurunan ini menjadi salah satu pelemahan terbesar dalam beberapa pekan terakhir, dengan hampir semua sektor mengalami tekanan kecuali sektor energi.


Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan depan ditutup melonjak 9,7 persen, sementara Brent naik 9,2 persen hingga menyentuh sekitar 100 Dolar AS per barel. 

Kenaikan tajam ini terjadi setelah peristiwa terbakarnya kapal tanker di kawasan Timur Tengah serta ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Lembaga energi dunia International Energy Agency memperingatkan bahwa perang terhadap Iran berpotensi menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi, yang pada akhirnya bisa mendorong inflasi global kembali meningkat.

Di tengah tekanan tersebut, investor juga mulai mencermati kebijakan Federal Reserve yang akan menggelar pertemuan pada 17 Maret. 
Meski inflasi sebelumnya terlihat mulai terkendali, lonjakan harga minyak akibat perang berpotensi mengubah proyeksi ekonomi bank sentral. Pasar kini menilai peluang penurunan suku bunga tahun ini semakin kecil jika harga energi terus melonjak.
Saham sektor perbankan ikut tertekan karena meningkatnya kekhawatiran terhadap kualitas kredit. Saham Morgan Stanley turun 4,1 persen setelah membatasi penarikan dana pada salah satu dana kredit swastanya, sementara JPMorgan Chase melemah 1,6 persen setelah menurunkan valuasi sejumlah pinjaman terkait kredit swasta. 

Kekhawatiran ini muncul di tengah peringatan bahwa tingkat gagal bayar kredit swasta dapat meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya