Berita

Ilustrasi Roti Kaleng (Sumber: Gemini Generated Image)

Kesehatan

Waspada Jelang Lebaran 2026, Kenali Tanda Roti Kaleng Tidak Layak Konsumsi

KAMIS, 12 MARET 2026 | 22:25 WIB | OLEH: TIFANI

Berbagai jenis makanan khas Lebaran mulai banyak diburu masyarakat, salah satunya roti kaleng. Makanan ini sering dijadikan sajian praktis untuk menjamu tamu atau stok camilan selama libur panjang. 

Selain tahan lama, roti kaleng juga mudah disimpan dan memiliki berbagai varian rasa yang disukai banyak orang. Namun, meskipun dikenal memiliki masa simpan yang cukup panjang, roti kaleng tetap bisa mengalami penurunan kualitas jika disimpan terlalu lama atau dalam kondisi yang tidak tepat. 

Produk yang sudah rusak atau tidak layak konsumsi tentu berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika tetap dikonsumsi. Melansir laman Badan Pengawas obat dan Makanan (BPOM), berikut ciri-ciri roti kaleng yang sudah tidak layak dimakan. 


1. Kaleng Rusak atau Penyok

Kaleng yang rusak atau penyok menjadi salah satu tanda awal yang perlu diperhatikan sebelum membeli atau mengonsumsi roti kaleng. Kemasan kaleng dirancang kedap udara untuk menjaga kualitas makanan di dalamnya. 

Jika kaleng mengalami penyok, retak, atau karat, kondisi tersebut dapat merusak lapisan pelindung di dalam kemasan. Kerusakan ini berpotensi membuat udara atau bakteri masuk sehingga roti di dalamnya bisa terkontaminasi dan tidak lagi aman untuk dimakan.

2. Kaleng Terlihat Mengembung

Kaleng yang terlihat menggembung atau menonjol pada bagian atas maupun bawah juga perlu diwaspadai. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya gas yang dihasilkan oleh aktivitas mikroorganisme di dalam kemasan. 

Jika roti kaleng sudah terkontaminasi bakteri atau mengalami proses pembusukan, gas yang terbentuk dapat membuat kaleng mengembang. Produk dengan kondisi seperti ini sebaiknya tidak dikonsumsi karena berpotensi membahayakan kesehatan.

3. Aroma Tidak Sedap

Roti kaleng yang masih layak konsumsi umumnya memiliki aroma khas roti yang lembut dan tidak menyengat. Jika setelah dibuka muncul bau asam, tengik, atau bau tidak sedap lainnya, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa roti sudah mengalami kerusakan. 

Perubahan aroma biasanya terjadi akibat pertumbuhan mikroorganisme atau reaksi kimia selama penyimpanan yang terlalu lama.

4. Berubah Warna dan Tekstur

Perubahan warna juga menjadi indikator bahwa roti kaleng tidak lagi dalam kondisi baik. Roti yang normal biasanya memiliki warna yang konsisten sesuai jenisnya, seperti cokelat keemasan. 

Jika terlihat menghitam, kehijauan, atau tampak pucat tidak biasa, kondisi tersebut patut dicurigai. Selain warna, tekstur roti juga bisa berubah menjadi terlalu lembek, berlendir, atau justru terlalu keras akibat proses pembusukan.

5. Rasa yang Tidak Normal

Selain aroma dan tampilan, rasa roti juga bisa menjadi penanda penting. Roti kaleng yang sudah rusak biasanya memiliki rasa yang tidak normal, misalnya terasa asam, pahit, atau tengik. 

Perubahan rasa ini terjadi karena aktivitas mikroorganisme yang menguraikan komponen makanan di dalam roti. Jika menemukan rasa yang berbeda dari biasanya, sebaiknya roti tidak dilanjutkan untuk dikonsumsi.

6. Muncul Bercak Berwarna

Ciri lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya bercak atau titik-titik berwarna pada permukaan roti. Bercak tersebut bisa berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan yang biasanya merupakan tanda pertumbuhan jamur. 

Jamur dapat berkembang ketika makanan sudah terkontaminasi atau disimpan terlalu lama. Jika roti kaleng menunjukkan tanda ini, sebaiknya segera dibuang karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi.



Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya