Berita

Ketua Banggar DPR Said Abdullah. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

Ketua Banggar DPR:

MBG Wajib Masuk Klaster Anggaran Pendidikan, Tidak Bisa Ditawar

KAMIS, 12 MARET 2026 | 21:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Banggar DPR menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi bagian dari program prioritas nasional telah masuk dalam klaster mandatori anggaran pendidikan sehingga wajib dilaksanakan.

Demikian ditegaskan Ketua Banggar DPR Said Abdullah saat menjawab pertanyaan mengenai urgensi program-program proyek strategis nasional (PSN) pemerintahan Presiden Prabowo Subianto seperti MBG dan Koperasi Desa (Kopdes).

“Kalau MBG dalam klaster mandatori anggaran pendidikan, itu wajib. Sudah nggak bisa ditawar. Namanya juga anggaran pendidikan, wajib dilaksanakan,” ujar Said kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.


Kendati begitu, Said mengakui pelaksanaan program tersebut di lapangan tetap membutuhkan perbaikan dari sisi tata kelola agar berjalan lebih efektif.

“Bahwa di lapangan perlu perbaikan tata kelola, setuju. Tapi hukumnya wajib karena mandatori tadi, pendidikan ya,” kata Legislator Fraksi PDIP ini.

Sementara itu terkait program Koperasi Desa Merah Putih, Said menilai implementasinya tidak dapat dilakukan secara sekaligus di seluruh desa.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah juga menyadari keterbatasan tersebut sehingga pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap.

“Kopdes kan tidak bisa seketika langsung. Dan pemerintah menyadari itu,” tegas Said.

Lebih jauh, Said juga mengusulkan sejumlah langkah strategis kepada pemerintah untuk mengamankan APBN.

Langkah ini dinilai krusial di tengah rentetan tekanan ekonomi global dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Said meminta pemerintah segera mengevaluasi dan menyeleksi ulang program-program yang ada agar APBN tidak jebol.

"Saya sampaikan, agar tidak berlarut-larut, alangkah baiknya pemerintah melakukan penajaman program terhadap prioritas. Lakukan penajaman," ujarnya.

Said menyarankan agar pemerintah berani memilah antara program yang mendesak dan yang bisa ditunda penyelesaiannya.

"Ya, yang memang mendesak, wajib terus dilakukan. Terhadap program-program prioritas yang tidak begitu mendesak, bisa dilakukan tahun jamak," pungkasnya.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya