Berita

Bos Maktour Travel, Fuad Hasan Masyhu. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Hukum

Fuad Hasan Masyhur Terseret Alur Dugaan Korupsi Kuota Haji Tambahan 2023

KAMIS, 12 MARET 2026 | 21:08 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeberkan konstruksi perkara dugaan korupsi pengelolaan kuota tambahan haji tahun 2023 yang menyeret sejumlah pejabat di Kementerian Agama (Kemenag).

Deputi Bidang Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu mengatakan, kasus tersebut bermula ketika pemerintah Arab Saudi memberikan tambahan kuota haji kepada Indonesia.

"Pada Mei 2023, pemerintah Arab Saudi memberikan kuota haji tambahan sebanyak 8.000 kepada pemerintah Indonesia," kata Asep kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada Kav 4, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis malam, 12 Maret 2026.


Menurut Asep, setelah tambahan kuota tersebut diberikan, Dewan Pembina Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (SATHU), Fuad Hasan Masyhur, mengirimkan surat kepada Menteri Agama (Menag) saat itu, Yaqut Cholil Qoumas.

"Surat tersebut bertujuan untuk memaksimalkan penyerapan kuota tambahan," terang Asep.

Dalam rapat Komisi VIII DPR bersama Yaqut pada Mei 2023, lanjut dia, disepakati bahwa kuota tambahan 8.000 tersebut dialokasikan seluruhnya untuk jemaah haji reguler. Namun dalam proses berikutnya, terjadi perubahan kebijakan.

Asep menjelaskan, Fuad Hasan kemudian berkomunikasi dengan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) saat itu, Hilman Latief, terkait surat Forum SATHU tersebut.

"Hilman Latief kemudian mengusulkan kepada Menteri Agama agar kuota haji tambahan dibagi menjadi 92 persen untuk kuota reguler dan 8 persen untuk kuota khusus," jelas Asep.

Usulan tersebut kemudian disetujui Yaqut dengan menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 467/2023 pada 19 Mei 2023.

"Dengan komposisi 7.360 kuota untuk reguler dan 640 kuota untuk haji khusus," tutur Asep.

KPK juga menemukan adanya pengaturan dalam pengisian kuota haji khusus tambahan tersebut. Asep mengungkapkan, keputusan Dirjen PHU kemudian diterbitkan untuk melonggarkan kebijakan terkait T0 atau jemaah yang baru mendaftar namun bisa langsung berangkat haji. Keputusan itu disusun mantan Kasubdit Perizinan, Akreditasi, dan Bina Penyelenggaraan Haji Khusus Kemenag, Rizky Fisa Abadi.

"Sepanjang Mei hingga Juni 2023, RFA melakukan pertemuan dengan asosiasi penyelenggara ibadah haji khusus terkait penyerapan kuota haji khusus tambahan sebanyak 640 jemaah," jelasnya lagi.

Dalam proses tersebut, Rizky menetapkan kuota jemaah untuk 54 Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) agar bisa memberangkatkan jemaah tanpa antrean.

"RFA juga memberikan perlakuan khusus kepada PIHK tertentu untuk bisa mengisi kuota haji khusus tambahan dengan jemaah haji khusus T0 atau TX," ungkap Asep.

KPK juga menemukan adanya pungutan dalam percepatan keberangkatan tersebut. Asep menjelaskan, Rizky memerintahkan stafnya untuk mengumpulkan fee percepatan dari PIHK yang mendapatkan kuota T0 atau TX.

"Fee percepatan tersebut sebesar USD 5.000 atau sekitar Rp84,4 juta per jamaah," ungkapnya lagi.

Salah satu modus yang digunakan, yakni dengan mengalihkan jemaah haji yang menggunakan visa mujamalah menjadi jemaah haji khusus.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan tim KPK, RFA juga memberikan fee percepatan tersebut kepada Menteri Agama saat itu, Inspektur Jenderal Kementerian Agama, serta sejumlah pejabat di Kementerian Agama,” pungkas Asep.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya