Berita

Ilustrasi (Imagined by Babbe)

Bisnis

Minyak Iran Tetap Mengalir Bebas di Selat Hormuz Saat Negara Lain Terhenti

KAMIS, 12 MARET 2026 | 14:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ekspor minyak mentah Iran tetap berjalan hampir normal melalui Selat Hormuz meskipun konflik di Timur Tengah semakin memanas. 

Data pelacakan kapal tanker menunjukkan minyak Iran terus mengalir, sementara ekspor dari negara-negara Teluk lainnya justru terganggu akibat serangan di jalur pelayaran tersebut.

Dikutip dari Reuters, Kamis 12 Maret 2026, sejak serangan militer oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada 28 Februari, Iran telah mengekspor sekitar 13,7 juta barel minyak mentah. Angka ini berdasarkan analisis dari TankerTrackers.com, perusahaan intelijen maritim yang melacak pergerakan kapal tanker minyak, termasuk armada bayangan yang digunakan negara-negara yang terkena sanksi Barat.


Sementara itu, data dari perusahaan pelacakan kapal Kpler bahkan memperkirakan ekspor Iran dalam 11 hari pertama Maret mencapai sekitar 16,5 juta barel.

Serangan balasan Iran terhadap operasi militer Israel dan AS mencakup serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta infrastruktur energi di berbagai wilayah Timur Tengah. Akibatnya, lalu lintas kapal tanker non-Iran melalui jalur utama ekspor minyak kawasan itu hampir terhenti, sehingga sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk terpaksa mengurangi produksi.

Namun, kemampuan Iran untuk tetap mengekspor minyak tanpa gangguan besar cukup mengejutkan. Hal ini berbeda dengan tindakan AS terhadap Venezuela beberapa tahun lalu, ketika Washington melakukan blokade laut dan menyita kapal-kapal yang mengangkut minyak negara tersebut.

Direktur di Blackstone Compliance Services, David Tannenbaum, mengatakan ia heran mengapa AS belum melakukan tindakan serupa terhadap tanker Iran.

“Saya terkejut AS tidak memulai kampanye penyitaan kapal seperti yang mereka lakukan terhadap Venezuela sebelum konflik ini dimulai, atau bahkan hingga saat ini,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai tindakan menghentikan kapal tanker Iran justru berisiko memicu eskalasi konflik. Jika kapal-kapal Iran disita, Teheran bisa saja menutup Selat Hormuz sepenuhnya, misalnya dengan menempatkan ranjau laut.

Menurut analis pelayaran dari Next Barrel, Matias Togni, selama Iran masih dapat mengirim kapal melalui wilayah tersebut, negara itu memiliki kepentingan untuk menjaga jalur laut itu tetap terbuka.

Pendiri perusahaan investasi pelayaran Cavalier Shipping, James Lightbourn, juga menilai hal yang sama.

“Jika AS mulai menyita tanker, Iran akan merasa tidak punya banyak kerugian lagi untuk menutup Selat Hormuz sepenuhnya,” katanya.

Data pelacakan menunjukkan ekspor minyak Iran sejak 28 Februari hingga 11 Maret berkisar 1,1 juta hingga 1,5 juta barel per hari. Angka ini sedikit di bawah rata-rata ekspor Iran tahun lalu yang mencapai 1,69 juta barel per hari.

Citra satelit juga menunjukkan sejumlah kapal tanker minyak raksasa masih memuat minyak di terminal ekspor utama Iran di Pulau Kharg, menandakan ekspor kemungkinan masih akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Sejauh ini, beberapa kapal tanker yang berangkat dari Iran telah membawa jutaan barel minyak menuju Asia. Empat supertanker yang membawa sekitar 8 juta barel minyak bahkan telah tiba di perairan sekitar Singapura.

Menariknya, kapal-kapal tersebut berlayar tetap berada di zona ekonomi eksklusif Iran, yang memberi perlindungan tambahan karena masih berada di wilayah perairan negara tersebut. Strategi ini dinilai membantu tanker Iran tetap beroperasi meskipun ketegangan di kawasan meningkat.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya