Berita

Logo KPK (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Hukum

Selain Rokok, KPK Usut Dugaan Korupsi Cukai Miras di DJBC

KAMIS, 12 MARET 2026 | 10:32 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus dugaan praktik rasuah dalam pengaturan cukai minuman keras (miras) di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Temuan awal tersebut muncul saat lembaga antirasuah mengusut kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengaturan cukai rokok.

Deputi Bidang Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu mengatakan, informasi awal terkait dugaan permainan cukai itu ditemukan penyidik ketika mengembangkan perkara suap yang melibatkan sejumlah pejabat Bea Cukai. Temuan itu mengarah pada dugaan pengondisian cukai rokok dan miras.

"Kemudian terkait dengan cukai ya, cukai rokok dan juga miras. Jadi ada yang diperoleh oleh penyidik itu dalam penanganan perkara di DJBC, itu terkait cukainya itu memang ada cukai rokok dengan cukai miras," kata Asep kepada wartawan, Kamis, 12 Maret 2026.


Asep menjelaskan, saat ini penyidik lebih memfokuskan pendalaman terhadap dugaan rasuah cukai rokok karena informasi yang diperoleh lebih banyak. Meski demikian, dugaan permainan cukai miras dipastikan tetap menjadi bagian dari pengembangan penyidikan.

"Jadi kita sementara fokus ke yang paling banyak dulu informasinya. Tapi bukan berarti ditinggalkan. Nanti yang mirasnya pun tentu akan kita dalami," tegas Asep.

Menurut Asep, temuan awal praktik pengaturan cukai tersebut terdeteksi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, dugaan praktik itu disebut mengarah ke wilayah Semarang.

"Tentu, karena kalau dilihat dari volumenya dan sebarannya juga cukup besar juga ya. Cukup besar gitu ya kalau rokok itu banyak, tapi kecil. Maksudnya kecil itu harganya lebih rendah. Kalau miras ini memang lebih sedikit produksinya dari rokok tetapi harganya lebih tinggi. Jadi cukainya juga lebih tinggi," jelas Asep.

Dalam proses pengusutan, KPK juga membuka kemungkinan memanggil sejumlah pihak yang diduga mengetahui atau terlibat dalam praktik tersebut, termasuk produsen dan distributor rokok dan miras. KPK mengimbau seluruh pihak terkait bersikap kooperatif.

Pada 26 Februari 2026, KPK menetapkan Budiman Bayu Prasojo, Kepala Seksi Intelijen Cukai Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) DJBC, sebagai tersangka baru. Ia langsung ditangkap di kantor pusat DJBC dan resmi ditahan di Rutan KPK pada 27 Februari 2026.

Bayu diduga memerintahkan bawahannya, Salisa Asmoaji, untuk membersihkan sebuah safe house di Jakarta Pusat.

Kasus ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 4 Februari 2026 yang menjerat sejumlah pejabat DJBC dan pihak swasta dari perusahaan Blueray.

Dalam konstruksi perkara, diduga terjadi pengaturan jalur pemeriksaan impor sehingga barang milik perusahaan tersebut dapat lolos tanpa pemeriksaan fisik. Sebagai imbalan, pihak swasta diduga memberikan uang secara rutin kepada oknum DJBC.

KPK juga menyita barang bukti senilai sekitar Rp40,5 miliar, termasuk uang tunai, logam mulia lebih dari 5 kilogram, dan satu jam tangan mewah.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya