Berita

Ilustrasi Amr bin Ash. (Foto: Istimewa)

Publika

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

KAMIS, 12 MARET 2026 | 06:00 WIB

SAHABAT Rasulullah kali ini berjasa besar penyebaran Islam di benua Afrika. Terkenal cerdas dan jago dalam taktik perang. Siapakah beliau? 

Sejarah kadang seperti panggung teater raksasa. Ada tokoh yang sejak awal dipuji sebagai pahlawan, ada pula yang memulai karier sebagai “antagonis utama” sebelum akhirnya berubah menjadi legenda. 

Dialah Amr bin al-Ash, seorang diplomat Quraisy yang dahulu menjadi musuh keras dakwah Islam, lalu berbalik arah dan justru membuka gerbang sebuah benua bagi peradaban Islam. 


Dari Mekah ke Afrika, dari penentang menjadi penakluk. Ini bukan sekadar kisah sejarah. Ini kisah transformasi.

Nama lengkapnya panjang seperti silsilah bangsawan Arab, Abu Abdullah ‘Amr bin al-‘Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Sa’id bin Sahm al-Qurasyi as-Sahmi. 

Ia lahir sekitar tahun 573–585 M di Mekah dari klan Bani Sahm, cabang Quraisy yang terkenal dalam bidang hukum dan perdagangan. 

Ayahnya, al-‘Ash bin Wa’il, pedagang kaya raya yang juga dikenal sebagai salah satu musuh keras dakwah Nabi. 

Ironi sejarah mulai terasa di sini. Dari rumah yang penuh penentangan terhadap Islam justru lahir seorang tokoh yang kelak menjadi pembuka gerbang Afrika bagi umat Islam. Sejarah memang sering menertawakan prediksi manusia.

Sebelum memeluk Islam, Amr sudah dikenal sebagai diplomat ulung. Ia cerdas, fasih berbicara, mahir bernegosiasi, dan terbiasa bepergian dagang ke Syam, Yaman, Mesir, hingga Habasyah. 

Quraisy pernah mengirimnya ke Habasyah untuk meminta Raja Najasyi mengembalikan kaum Muslim yang hijrah. 

Namun misi itu kandas setelah pidato indah Ja'far bin Abi Thalib membuat sang raja tersentuh. 

Di momen itu, mungkin Amr mulai sadar, kekuatan kata-kata yang jujur sering lebih dahsyat dari diplomasi penuh intrik. 

Sesuatu yang sayangnya masih jarang dipahami oleh banyak politisi modern yang lebih percaya pada slogan dari kebenaran.

Tahun 8 Hijriah menjadi titik balik besar. Amr datang ke Madinah bersama dua tokoh Quraisy lainnya, Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah, lalu memeluk Islam di hadapan Muhammad SAW. 

Ketika Nabi menawarkan hadiah ghanimah, Amr menolak dengan tegas. Ia berkata, dirinya masuk Islam bukan karena harta, tetapi karena mencintai agama ini. 

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi siapa pun yang membaca sejarah dengan jujur, pernyataan itu seperti sindiran halus bagi para elite politik zaman sekarang yang bahkan berpindah kubu pun menunggu “paket fasilitas”.

Rasulullah segera melihat potensi luar biasa dalam diri Amr. Ia diangkat menjadi pemimpin pasukan dalam ekspedisi Dzat as-Salasil. Ia juga diutus berdakwah ke Oman dan berhasil mengislamkan penguasa setempat. 

Dari musuh menjadi panglima, dari penentang menjadi pembela. Transformasi itu begitu cepat sehingga jika ada analis politik masa kini mungkin akan menyebutnya manuver oportunis. 

Namun sejarah menunjukkan sebaliknya. Rasulullah memilihnya karena kecerdasan, keberanian, dan kemampuan strategi yang jarang dimiliki orang lain.

Setelah wafatnya Nabi, Amr memainkan peran penting dalam ekspansi Islam pada masa Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab. 

Ia ikut bertempur dalam kemenangan besar di Yarmuk dan Ajnadayn, dua pertempuran yang meruntuhkan dominasi Bizantium di kawasan Syam. 

Namun puncak kejeniusannya terlihat ketika ia mengusulkan penaklukan Mesir kepada Umar. Ide itu awalnya membuat khalifah ragu. Mesir adalah provinsi Bizantium yang kaya dan strategis. 

Menyerangnya dengan pasukan kecil terdengar seperti rencana nekat, jenis rencana yang biasanya membuat birokrat modern langsung membentuk lima panitia dan tiga belas rapat tanpa keputusan.

Umar akhirnya memberi izin dengan pasukan sekitar 3.500–4.000 orang. Angka itu sangat kecil dibanding kekuatan Bizantium. 

Namun Amr bukan panglima yang mengandalkan jumlah pasukan, ia mengandalkan strategi. Pasukannya bergerak cepat melintasi gurun Sinai, menaklukkan Pelusium dan Belbeis, lalu memenangkan pertempuran besar di Heliopolis. 

Benteng Babilon di Old Cairo dikepung berbulan-bulan hingga suplai makanan dan air Bizantium terputus.

Namun senjata paling tajam Amr bukan pedang, melainkan diplomasi. Penduduk Koptik Mesir yang selama ini tertindas oleh Bizantium dijanjikan keadilan dan pajak yang lebih ringan. 

Banyak dari mereka akhirnya membantu pasukan Muslim. Pada tahun 641–642 M, Alexandria, ibu kota Bizantium di Mesir, akhirnya menyerah. 

Penaklukan itu menjadi salah satu ekspedisi militer tercepat dalam sejarah Islam.

Di sana Amr mendirikan kota Fustat, cikal bakal Kairo modern. Ia juga membangun Masjid Amr bin al-Ash, masjid pertama di Afrika yang masih berdiri hingga sekarang. 

Seorang mantan musuh Islam kini menjadi pembuka gerbang benua Afrika. Jika sejarah adalah novel, ini adalah bab yang membuat pembaca berdiri sambil bertepuk tangan.

Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Pada masa Utsman ibn Affan ia sempat dicopot dari jabatan gubernur Mesir. Masa fitnah besar kemudian menyeretnya ke konflik antara Ali ibn Abi Talib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan. 

Dalam Perang Siffin ia mengusulkan strategi mengangkat mushaf Alquran di ujung tombak untuk memaksa perundingan. 

Strategi itu kontroversial, tetapi sekali lagi menunjukkan kecerdasannya membaca momentum politik, sesuatu yang bagi sebagian penguasa modern masih terasa seperti ilmu tingkat dewa.

Akhir hidup Amr justru menunjukkan kerendahan hati yang menggetarkan. Menjelang wafat di Fustat pada tahun 43 H, ia menangis kepada putranya, Abdullah bin Amr bin al-Ash. 

Ia mengingat masa lalunya sebagai musuh keras Nabi dan merasa tidak tahu apakah kekuasaan yang pernah ia pegang menjadi kebaikan atau kebinasaan baginya. Wasiatnya sederhana, kuburkan tanpa kemewahan, jangan puji-puji berlebihan.

Kisah Amr bin al-Ash akhirnya menjadi pelajaran besar bagi sejarah. Seorang diplomat Quraisy berubah menjadi panglima yang membuka gerbang Afrika bagi Islam. Ia membuktikan, kecerdasan, keberanian, dan tobat yang tulus mampu mengubah arah peradaban. 

Bagi generasi sekarang, terutama mereka yang sibuk mengejar kursi kekuasaan, kisah ini seperti cermin raksasa. Kekuasaan tanpa integritas hanya menghasilkan jabatan sementara. Tetapi, strategi yang dipandu iman bisa membuka gerbang sebuah benua.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya