Berita

Bendera Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

Publika

Amerika Serikat Sudah Kalah

KAMIS, 12 MARET 2026 | 05:44 WIB

DALAM perang modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki rudal paling presisi atau jet tempur paling canggih. 

Terkadang kemenangan ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana -- energi.

Dalam konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, justru minyaklah yang menjadi faktor penentu. Dan dalam perang ini, Amerika Serikat sesungguhnya telah kalah.


Bukan karena kekuatan militer Iran mampu menandingi Amerika secara konvensional. Bukan pula karena rudal balistik atau drone Iran menghancurkan kekuatan militer Washington. 

Amerika kalah karena Iran memiliki kemampuan untuk mengguncang sistem energi dunia.

Selat Hormuz adalah kuncinya.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari, menjadikannya salah satu chokepoint energi paling vital di planet ini.

Ketika konflik dengan Amerika dan sekutunya meletus pada akhir Februari 2026, Iran segera mengubah selat tersebut menjadi senjata strategis.

Hasilnya langsung terasa. Lalu lintas kapal tanker melalui selat itu anjlok hingga sekitar 97 persen, praktis menghentikan aliran energi dari Teluk Persia ke pasar global.

Dunia langsung panik.

Harga minyak melonjak tajam hingga mendekati US$120 per barel, sementara pasar global bergejolak karena ancaman krisis energi baru. 

Infrastruktur energi di kawasan Teluk juga mulai terganggu -- dari terminal LNG Qatar hingga fasilitas minyak di Arab Saudi dan Irak.

Masalahnya, dunia modern tidak bisa hidup tanpa energi.

Setiap lonjakan harga minyak langsung menjalar ke inflasi global. Biaya transportasi naik. Harga pangan naik. Industri terguncang. 

Risiko resesi global meningkat. Dengan kata lain, perang yang terlalu lama di Teluk Persia berpotensi memicu krisis ekonomi dunia.

Di titik inilah Iran memahami keunggulan strategisnya.

Iran mungkin tidak mampu menenggelamkan armada kapal induk Amerika. Tetapi Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur energi yang menjadi urat nadi ekonomi global. 

Selama Selat Hormuz tidak aman, dunia akan menekan pihak mana pun yang dianggap memperpanjang konflik.

Dan dunia tahu siapa yang memulai perang.

Tekanan internasional pun segera muncul. Negara-negara industri, pasar keuangan, perusahaan energi, hingga lembaga internasional mulai mendorong de-eskalasi. 

Bahkan negara-negara G7 mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar.

Tidak mengherankan jika Washington sendiri mulai memberi sinyal bahwa perang ini akan segera berakhir. 

Presiden Amerika Serikat bahkan menyatakan konflik tersebut “hampir selesai,” sebuah pernyataan yang langsung menurunkan harga minyak dunia.

Artinya jelas. Bukan medan perang yang menentukan akhir konflik, melainkan pasar energi.

Inilah paradoks geopolitik abad ke-21. Kekuatan militer Amerika mungkin saja hebat. Namun sistem ekonomi global membuat Washington tidak bebas menggunakan kekuatan tersebut tanpa batas. 

Setiap konflik besar di kawasan penghasil energi akan langsung mengguncang stabilitas ekonomi dunia -- dan pada akhirnya memaksa perang dihentikan.

Iran memahami logika ini dengan sangat baik.

Strategi Teheran bukan memenangkan perang militer secara total. Strateginya adalah menaikkan biaya ekonomi perang hingga level yang tidak bisa ditoleransi oleh dunia.

Begitu harga minyak melonjak dan jalur energi global terancam, tekanan terhadap Amerika akan muncul dengan sendirinya --dari sekutu, dari pasar, bahkan dari masyarakat domestik.

Dalam perang seperti ini, yang menentukan bukan siapa yang menembakkan rudal terakhir.

Yang menentukan adalah siapa yang mampu membuat perang menjadi terlalu mahal untuk dilanjutkan.

Dan dalam hal itu, Iran telah menemukan senjata yang jauh lebih kuat daripada rudal, yaitu minyak.

R Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya