Berita

Gambar Kadis PUPRPKP Pemkab Rejang Lebong, Hary Eko Purnomo saat dikejar petugas KPK. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Hukum

KPK Bekuk Kadis Rejang Lebong Pembawa Uang Suap Lewat Drama Kejar-kejaran

RABU, 11 MARET 2026 | 19:00 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap ijon proyek di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rejang Lebong, Bengkulu, diwarnai aksi pengejaran hingga larut malam.

Jurubicara KPK, Budi Prasetyo mengatakan, tim penindakan sejak awal telah mengikuti pergerakan sejumlah pihak yang diduga terkait dalam praktik suap proyek tersebut.

"Pada 9 Maret 2026, tim terus mengikuti para pihak yang diduga terkait dengan perkara ini, di antaranya adalah saudara HEP (Hary Eko Purnomo) yang merupakan Kadis PUPRPKP Pemkab Rejang Lebong, yang saat itu dibonceng oleh saudara SAG (Santri Ghozali)," kata Budi kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Maret 2026.


Tim KPK menaruh perhatian pada pergerakan Hary karena diduga membawa tas ransel yang berisi uang terkait praktik suap proyek.

"Nah, ini tim terus mengikuti karena diduga HEP ini membawa ransel yang berisi uang, yang itu diduga adalah bagian dari suap ijon proyek dalam perkara dimaksud," jelas Budi.

Dalam proses pembuntutan tersebut, tim KPK sempat kehilangan jejak karena para pihak masuk ke sejumlah gang kecil di wilayah Bengkulu.

"Pihak-pihak ini kemudian sempat masuk di beberapa jalan kecil atau gang dan tim juga sempat kehilangan jejak," terang Budi.

Namun tidak lama kemudian tim kembali menemukan posisi Hary yang saat itu telah berganti kendaraan menggunakan mobil.

"Namun kemudian tim mendapatkan lagi di mana yang bersangkutan HEP ini berganti, kemudian menggunakan mobil. Nah, ini terus diikuti oleh tim," terangnya lagi.

Tim KPK akhirnya melakukan penindakan saat Hary bersama sejumlah pihak tengah berbuka puasa di sebuah lokasi di Bengkulu.

"Kemudian sampai pada akhirnya tim mengamankan saudara HEP ini bersama pihak-pihak lainnya saat berbuka puasa," tutur Budi.

Dari penindakan tersebut, tim KPK mengamankan uang ratusan juta rupiah yang diduga terkait praktik suap proyek.

"Di mobil yang ditumpangi oleh saudara HEP, tim mengamankan uang tunai senilai Rp310 juta," jelasnya.

Penggeledahan kemudian dilanjutkan ke rumah Hary yang menghasilkan temuan uang tambahan ratusan juta rupiah.

"Kemudian berselang beberapa menit kemudian, tim juga mengamankan uang senilai Rp357 juta di rumah HEP," beber Budi.

Tak hanya itu, tim KPK juga menemukan uang lain dari rumah pihak lain yang diduga terlibat.

"Tim kemudian mengamankan kembali uang senilai Rp90 juta dari rumah SAG yang disimpan di bawah meja TV," ungkapnya.

Operasi tersebut bahkan berlanjut hingga malam hari untuk mengejar pihak lain yang diduga terkait dalam perkara tersebut. Salah satunya Bupati Rejang Lebong, Muhammad Fikri Thobari yang ditangkap di rumah pribadi di Bengkulu.

"Tim juga masih terus melakukan pengejaran hingga pukul setengah 12 malam kepada saudara IRS. Ini sempat terjadi kejar-kejaran mobil dan akhirnya berhasil diamankan sekitar pukul 23.30 yang berlokasi di Bengkulu,” jelasnya lagi.

Secara keseluruhan, KPK mengamankan 13 orang dalam OTT tersebut. Mereka langsung dilakukan pemeriksaan awal di Polres Kepahiang dan juga di Polresta Bengkulu.

"Yang selanjutnya di antaranya sembilan orang kami bawa ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," pungkas Budi.

Dalam kegiatan OTT yang berlangsung Senin, 9 Maret 2026, KPK mengamankan 13 orang. Sembilan di antaranya dibawa ke Jakarta, yakni Muhammad Fikri Thobari selaku Bupati Rejang Lebong, Hendri selaku Wakil Bupati Rejang Lebong, Hary Eko Purnomo selaku Kepala Dinas PUPRPKP.

Selanjutnya, Irsyad Satria Budiman dari PT Statika Mitra Sarana, Edi Manggala dari CV Manggala Utama, Youki Yusdiantoro dari CV Alpagger Abadi, serta tiga ASN Dinas PUPRPKP yakni Rendy Novian, Santri Ghozali, dan B Daditama yang merupakan orang kepercayaan Bupati.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Pasar Minyak Wait and See Situasi Terkini Hormuz

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:14

Kedekatan dengan Megawati Menguntungkan Pemerintahan Prabowo

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:04

Telur Jatuh di Bawah Harga Impas, BGN Turun Tangan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:51

Kebakaran Hebat di Kemayoran Ludeskan 250 Rumah

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:38

Video Parade ALF di Perbatasan Aljazair Jadi Sorotan Internasional

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:32

Anies Angkat Topi untuk Dino Patti Djalal: Bukan Diplomat Karbitan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:31

IHSG Loncat 1,35 Persen, Rupiah Tertekan Pagi Ini di Rp17.888 per Dolar AS

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:26

Iran Ancam Hentikan Negosiasi Jika Israel Terus Serang Lebanon

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:09

Wildan Hakim: Gandengan Tangan Prabowo dan Megawati Peristiwa yang Natural

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:58

GREAT Institute: Shangri-La Dialogue Krusial untuk Navigasi Ketidakpastian Geopolitik

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya