Potret Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Tangkapan layar RMOL dari siaran BBC)
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran memicu kontroversi di dalam negeri. Putra kedua dari mendiang Ali Khamenei itu dinilai naik ke puncak kekuasaan bukan semata melalui proses politik yang lazim, melainkan juga karena dorongan kuat dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Sejumlah sumber senior Iran yang dikutip dari Reuters, Rabu 11 Maret 2026 menyebut Garda Revolusi melihat Mojtaba sebagai figur yang paling sejalan dengan agenda mereka.
Dengan pengaruh militer yang semakin besar sejak konflik di kawasan memanas, IRGC disebut memiliki kemampuan untuk menekan keberatan dari sebagian ulama dan politisi pragmatis yang sebelumnya menolak pencalonan Mojtaba.
Kontroversi juga muncul karena penunjukan Mojtaba dianggap menyerupai suksesi turun-temurun?"sesuatu yang sejak lama dikritik oleh sebagian ulama Iran.
Sistem semacam ini dinilai tidak sejalan dengan prinsip politik Republik Islam Iran, yang secara teoritis menempatkan kepemimpinan tertinggi sebagai hasil pilihan kolektif para ulama, bukan pewarisan keluarga.
Beberapa ayatollah khawatir keputusan tersebut dapat merusak citra pemerintahan Iran dan semakin menggerus dukungan publik.
Analis dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai posisi Mojtaba sangat bergantung pada dukungan Garda Revolusi.
Menurutnya, kekuatan politik Mojtaba kemungkinan tidak akan sebesar ayahnya.
“Mojtaba berutang posisinya kepada Garda Revolusi, sehingga kemungkinan ia tidak akan sekuat atau sesuprem ayahnya,” ujar Vatanka.
Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Assembly of Experts, lembaga yang beranggotakan 88 ulama.
Namun dalam kasus ini, beberapa sumber menyebut IRGC memberikan tekanan kuat kepada anggota majelis agar segera memilih Mojtaba. Alasannya, Iran dianggap membutuhkan pemimpin yang tegas di tengah konflik regional dan mampu menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.
Sebagian tokoh politik juga khawatir proses ini akan semakin memperkuat dominasi militer dalam politik Iran. Jika pengaruh Garda Revolusi terus meningkat, mereka dikhawatirkan akan memiliki peran paling besar dalam menentukan keputusan strategis negara.
Hingga hampir dua hari setelah diumumkan sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba belum muncul di hadapan publik maupun menyampaikan pernyataan resmi.
Situasi ini memicu berbagai spekulasi, termasuk kabar bahwa ia mungkin terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya. Namun hingga kini, informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.