Berita

Ilustrasi Sa’ad bin Abi Waqqash. (Foto: Istimewa)

Publika

Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pembuka Gerbang Persia

RABU, 11 MARET 2026 | 06:37 WIB

KISAH sahabat kali ini tentang komandan perang yang cerdas. Dalam keadaan sakit ia memimpin perang untuk menaklukkan imperium raksasa. Dialah sang pembuka gerbang Persia. 

Sejarah kadang punya cara unik menertawakan manusia. Di satu sisi, banyak tokoh modern sibuk mengukur kehebatan lewat jumlah baliho, kursi kekuasaan, dan konferensi pers yang panjangnya seperti skripsi mahasiswa tingkat akhir. 

Di sisi lain, sejarah Islam menampilkan sosok sederhana bernama Sa’ad bin Abi Waqqash. Seorang pemuda yang tidak punya tim buzzer, tidak punya konsultan politik, tetapi justru membuka gerbang runtuhnya salah satu imperium terbesar dunia.


Lahir di Mekkah sekitar tahun 595 M, Sa’ad berasal dari kabilah Bani Zuhrah, klan yang juga menjadi keluarga dari ibunda Nabi, Aminah binti Wahb. 

Artinya, secara kekerabatan ia masih paman Rasulullah dari jalur ibu. Namun, jangan bayangkan karier Sa’ad lahir dari nepotisme keluarga. Tidak ada jalur cepat kekuasaan di masa itu. Yang ada justru jalur cepat menuju penderitaan.

Pada usia sekitar 17 tahun, Sa’ad memeluk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq. 

Nuan bayangkan suasana Mekkah saat itu, Islam masih kecil, pengikutnya sedikit, tekanan Quraisy seperti badai gurun yang tidak kenal ampun. Masuk Islam bukan tiket popularitas, melainkan tiket menuju penganiayaan.

Namun Sa’ad tidak mundur. Ia pernah berkata dengan bangga, dirinya termasuk orang yang paling awal masuk Islam. Keberanian seperti ini jarang muncul di zaman yang terlalu sibuk menghitung risiko politik.

Ujian terbesar justru datang dari rumah sendiri. Ibunya marah besar saat mengetahui anaknya masuk Islam. Ia bersumpah tidak akan makan dan minum sampai Sa’ad meninggalkan agama baru itu. 

Drama keluarga ini mungkin jika terjadi hari ini sudah menjadi sinetron religi sepanjang 40 episode.

Sa’ad tetap teguh. Ia berkata kepada ibunya, jika ibunya memiliki seratus nyawa lalu satu per satu keluar dari tubuhnya, ia tetap tidak akan meninggalkan Islam. 

Keteguhan itu kemudian menjadi latar turunnya ayat dalam Alquran, khususnya dalam Surah Luqman ayat 14–15: manusia wajib berbakti kepada orang tua, tetapi ketaatan kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh tekanan siapa pun.

Di titik ini Sa’ad mengajarkan satu pelajaran penting yang kadang dilupakan banyak orang, hormat kepada orang tua bukan berarti menyerahkan prinsip hidup.

Selain dikenal karena keteguhan imannya, Sa’ad juga punya keahlian yang membuat musuh Islam sering menelan ludah, memanah. 

Ia dikenal sebagai pemanah ulung. Bahkan dalam beberapa riwayat disebut sebagai orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah.

Dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah, mulai dari Badr, Uhud, hingga pembebasan Mekkah, Sa’ad selalu berada di barisan depan. 

Rasulullah pernah berkata kepadanya, “Lemparlah panah, wahai Sa’ad. Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” Pujian seperti itu bukan kalimat motivasi seminar. Itu pengakuan langsung dari Nabi terhadap keberanian seorang sahabat.

Namun bab paling epik dari kisah Sa’ad terjadi setelah wafatnya Nabi. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, ia ditunjuk memimpin pasukan besar menghadapi Kekaisaran Persia. 

Ini bukan lawan kecil. Yang dihadapi adalah imperium raksasa dengan sejarah panjang, tentara besar, dan reputasi militer yang membuat banyak bangsa gemetar.

Puncaknya terjadi dalam Pertempuran Qadisiyyah tahun 636 M. Di sinilah sejarah seolah ingin membuat cerita yang agak absurd tetapi nyata, panglima pasukan Muslim memimpin perang dalam keadaan sakit rematik parah. Ia tidak bisa menunggang kuda. Sa’ad memimpin dari sebuah tenda.

Namun strategi dan keteguhannya justru membuat pasukan Muslim menang telak. Kemenangan ini membuka jalan menuju runtuhnya kekuasaan Kekaisaran Sassaniyah, imperium Persia yang telah berdiri berabad-abad. 

Dari kemenangan itu pula lahir kota militer baru bernama Kufah, yang kelak menjadi pusat penting peradaban Islam.

Di titik inilah Sa’ad pantas disebut Sang Pembuka Gerbang Persia. Ia bukan sekadar panglima perang, tetapi tokoh yang mengubah arah sejarah dunia.

Yang membuat kisah ini semakin epik adalah penutup hidupnya. Sa’ad termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga. 

Ia wafat sekitar tahun 675 M pada usia sekitar 80 tahun. Meski pernah memimpin kemenangan besar dan memiliki harta dari ghanimah perang, ia hidup sederhana.

Bahkan ia berwasiat agar dikuburkan dengan pakaian sederhana yang pernah dipakainya sejak zaman Nabi. 

Seolah-olah ia ingin memberi pesan kepada generasi setelahnya, kejayaan tidak selalu harus dipamerkan dengan istana, jabatan, atau simbol kekuasaan.

Kadang-kadang, sejarah justru lebih menghormati seorang pemanah sederhana yang membuka gerbang sebuah imperium, daripada orang-orang yang hanya sibuk membuka pintu ruang rapat.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya