Berita

Ilustrasi (Foto: Dok RMOL)

Bisnis

Krisis Selat Hormuz, Melihat Dampak Positif dan Negatif Bagi Indonesia

SELASA, 10 MARET 2026 | 22:46 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Ketegangan di Selat Hormuz mengguncang pasar energi dunia, jalur perdagangan minyak dunia itu kini dipenuhi ketidakpastian. 

Dalam situasi itu, ada hal yang berdampak positif bagi Indonesia. 

Misalnya Indonesia bisa mendiversifikasi energi dan mensubstitusi impor. Krisis Selat Hormuz memberi justifikasi untuk mempercepat program strategis, seperti optimalisasi Kilang Balikpapan dari 260 ribu ke 360 ribu barel per hari. Kemudian, diversifikasi impor minyak dan LPG di luar Timur Tengah, serta percepatan biodiesel B40/B50. 


Selain itu, dengan perjanjian impor energi dari AS senilai 15 miliar Dolar AS juga bisa menciptakan jalur alternatif di luar rute Hormuz.

Di sisi lain, ada penerimaan dari naiknya harga komoditas ekspor. Sebab, dengan naiknya harga energi global turut mendorong kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia yang bernilai energi tinggi, terutama CPO sebagai bahan baku bioenergi alternatif.

Ditambah harga batu bara dan gas bumi yang juga meningkat dapat memperbesar penerimaan negara dari sektor pertambangan energi. Hal positif lain yang didapat Indonesia antara lain juga penguatan posisi diplomasi.

Indonesia memiliki peluang memperkuat peran diplomatiknya di forum internasional (G20, OKI, ASEAN) sebagai mediator untuk mendorong de-eskalasi konflik demi stabilitas jalur energi global.

Sementara dampak negatif yang timbul akibat ketegangan di Selat Hormuz bagi Indonesia, pasti mengakibatkan lonjakan beban fiskal dan subsidi. Kita ketahui, APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak (ICP) 70 Dolar AS per barel.

Secara fiskal, setiap kenaikan 1 Dolar AS harga minyak berpotensi menambah beban subsidi atau kompensasi sekitar Rp4 triliun. Jika harga mencapai 100–110 Dolar AS, tambahan beban fiskal diperkirakan mencapai Rp120–160 triliun, yang berisiko memperlebar defisit hingga 3,6 persen PDB.

Ditambah, risiko pasokan dan harga LPG 3 Kg. Selama ini, Indonesia mengimpor 78–79 persen kebutuhan LPG nasional (6,9 juta ton dari total kebutuhan 8,7 juta ton). 

Dari total impor tersebut, sekitar 30 persen berasal dari kawasan Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz serta lonjakan biaya sistem (cost-exchange) memicu kenaikan harga dan ketidakpastian distribusi yang dapat berujung pada kelangkaan, antrean di pangkalan, dan keresahan publik yang masif.

Krisis di Selat Hormuz merupakan ancaman nyata, yang sangat krusial bagi stabilitas nasional Indonesia. Risiko utama bagi pemerintah bukan sekadar kenaikan harga minyak mentah global, melainkan "biaya sistem" (asuransi dan logistik) yang melonjak seketika serta kerentanan sosial-politik akibat ketergantungan impor LPG yang tinggi. 

Ketergantungan pada rute tunggal di Timur Tengah terbukti menjadi titik lemah yang dapat melumpuhkan fiskal APBN dan memicu efek domino pada sektor pangan dan industri manufaktur.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya