Berita

Ilustrasi (Foto: Babbe)

Bisnis

Cadangan BBM Hanya 20 Hari, Ekonom Ingatkan Risiko Inflasi dan Beban Fiskal

SENIN, 09 MARET 2026 | 09:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keterbatasan cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia kembali menjadi sorotan. Pemerintah menyebut cadangan BBM nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar 20-25 hari, jauh tertinggal dibandingkan Jepang yang mampu menyimpan cadangan energi hingga lebih dari 200 hari.

Direktur Akademika Center for Public Policy Analysis, Edy Priyono, menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari sejumlah persoalan struktural di sektor energi nasional.

Menurut Edy, Indonesia setidaknya menghadapi tiga masalah utama yang membuat cadangan energi sulit ditingkatkan.


“Pertama, produksi minyak mentah kita rendah, sekitar 600 ribu barel per hari. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan beberapa dekade lalu,” kata Edy dalam program NTV Prime Dialog, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 9 Maret 2026.

Masalah kedua, lanjutnya, adalah keterbatasan kapasitas kilang minyak dalam negeri. Kondisi ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Selain itu, yang ketiga, cadangan BBM nasional juga masih terbatas. Edy menyebut cadangan yang dimiliki Indonesia saat ini hanya berada di kisaran 20-an hari.

“Cadangan BBM ini terkait dengan kapasitas tangki penyimpanan. Jika ingin meningkatkan cadangan, kita harus membangun infrastruktur penyimpanan baru, yang tentu membutuhkan investasi besar,” ujarnya.

Edy juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap perekonomian domestik, khususnya inflasi dan daya beli masyarakat.

Ia menilai, jika harga BBM bersubsidi mengalami kenaikan, inflasi hampir pasti akan meningkat. Saat ini saja inflasi tahunan Indonesia sudah mendekati 5 persen, yang menurutnya tergolong tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir.

“Jika harga BBM bersubsidi naik, maka inflasi hampir pasti meningkat. Saat ini saja inflasi tahunan sudah mendekati 5 persen,” kata Edy.

Dalam situasi tersebut, pemerintah menurutnya hanya memiliki dua pilihan kebijakan. Pertama, meningkatkan subsidi energi agar harga BBM di dalam negeri tetap stabil. Kedua, jika subsidi tidak ditambah, maka harga BBM harus disesuaikan mengikuti kenaikan harga minyak dunia.

Karena itu, Edy menilai pemerintah perlu melakukan penataan ulang prioritas anggaran negara.

“Artinya pemerintah harus melakukan prioritas anggaran. Belanja yang tidak terlalu mendesak sebaiknya dikurangi agar subsidi energi bisa diperbesar,” ujarnya.

Di tengah tekanan ekonomi, pemerintah juga dihadapkan pada pertanyaan apakah perlu kembali memberikan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat, seperti yang dilakukan saat pandemi Covid-19.

Namun, Edy menilai ruang fiskal pemerintah saat ini lebih terbatas. Menurutnya, stimulus ekonomi pada dasarnya memerlukan tambahan pengeluaran negara, baik dalam bentuk subsidi bunga, insentif pajak, maupun bantuan langsung kepada masyarakat.

“Memberikan stimulus berarti pemerintah harus mengeluarkan uang, seperti subsidi bunga, insentif pajak, atau bantuan langsung,” kata Edy.

Masalahnya, lanjut dia, penerimaan pajak saat ini sedang menurun, sementara kebutuhan belanja negara tetap tinggi.

Jika pemerintah tetap menambah stimulus tanpa mengurangi belanja lainnya, konsekuensinya adalah peningkatan utang negara.

“Jika pemerintah tidak mengurangi belanja dan tetap memberikan stimulus, maka konsekuensinya utang negara bisa bertambah, seperti yang terjadi pada masa pandemi,” ujarnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

TNI Terima Penyerahan 75 Senjata Peninggalan Konflik Sosial Maluku

Minggu, 04 Oktober 2026 | 03:17

MPSI Dorong Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:50

KDMP: Dari Dukungan Negara Menuju Kemandirian Anggota

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:25

Gibran Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Dugaan Keabsahan Ijazah

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:50

Berpengalaman di Bidang Reserse, Irjen Dadang Didapuk jadi Kapolda Metro

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:20

Ketika Karbon Menjadi Komoditas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:43

Miliki Segudang Pengalaman, Tugas Berat Kini Menanti Herimen sebagai Kabaharkam

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:28

Laporan Keuangan Danantara Ditargetkan Rampung Oktober

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:04

Kapolri Baru Harus Usut Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Mauk Sepatan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:33

Polisi Didesak Ungkap Kasus Pemecahan Kaca Mobil Jurnalis di Depok

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:13

Selengkapnya