Berita

Mojtaba Khamenei (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CBS)

Dunia

Dijuluki The Power Behind The Probes, Siapa Sebenarnya Mojtaba Khamenei?

SENIN, 09 MARET 2026 | 07:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mojtaba Khamenei resmi dipilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Pria berusia 56 tahun itu diperkirakan akan melanjutkan garis kebijakan keras yang selama ini dijalankan ayahnya dalam memimpin Republik Islam Iran.

Berbeda dengan ayahnya yang selama puluhan tahun tampil sebagai tokoh publik utama negara, Mojtaba dikenal sangat tertutup. Ia hampir tidak pernah muncul di depan publik, tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, serta jarang memberikan pidato atau wawancara. Foto dan video dirinya yang beredar pun sangat terbatas.

Meski begitu, selama bertahun-tahun Mojtaba kerap disebut memiliki pengaruh besar di balik layar dalam struktur kekuasaan Iran. Sejumlah kabel diplomatik Amerika Serikat yang bocor melalui WikiLeaks pada akhir 2000-an bahkan menggambarkannya sebagai "the power behind the robes" atau "kekuatan di balik jubah”, yang dianggap sebagai sosok cakap dan berpengaruh dalam rezim Iran.


Mengutip laporan BBC, Senin 9 Maret 2026, Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad, Iran timur laut. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Khamenei.

Ia menempuh pendidikan menengah di Sekolah Agama Alavi di Teheran. Saat berusia 17 tahun, Mojtaba sempat menjalani dinas militer dalam beberapa periode selama Perang Iran-Irak, konflik berdarah selama delapan tahun yang memperdalam kecurigaan Iran terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang mendukung Irak saat itu.

Pada 1999, Mojtaba pindah ke Qom, kota suci yang menjadi pusat pendidikan teologi Syiah, untuk memperdalam studi agama. Keputusan ini dianggap tidak biasa karena ia baru masuk seminari pada usia sekitar 30 tahun, sementara kebanyakan ulama memulai pendidikan agama jauh lebih muda.

Dalam hierarki ulama Syiah, Mojtaba selama ini dikenal sebagai ulama tingkat menengah. Status ini sempat dipandang sebagai hambatan bagi kemungkinan dirinya menjadi pemimpin tertinggi.

Beberapa hari terakhir, sejumlah media dan pejabat yang dekat dengan pusat kekuasaan Iran mulai menyebut Mojtaba dengan gelar “Ayatollah”, sebuah gelar tinggi dalam hierarki ulama Syiah. Banyak pengamat menilai penyebutan ini sebagai upaya untuk meningkatkan legitimasi keagamaannya agar dianggap layak memimpin negara.

Dalam sistem ulama Iran, gelar Ayatollah dan kemampuan mengajar tingkat lanjut biasanya menjadi salah satu syarat penting bagi seseorang untuk dipilih sebagai pemimpin tertinggi. Hal serupa pernah terjadi pada ayahnya. Pada 1989, Ali Khamenei juga dengan cepat mendapatkan gelar Ayatollah setelah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Nama Mojtaba pertama kali menjadi sorotan publik pada pemilihan presiden Iran tahun 2005 yang dimenangkan oleh politikus garis keras Mahmoud Ahmadinejad.

Kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut campur dalam pemilu melalui jaringan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan milisi Basij, yang disebut menyalurkan uang kepada kelompok agama untuk membantu kemenangan Ahmadinejad.

Empat tahun kemudian, tuduhan serupa kembali muncul setelah Ahmadinejad terpilih kembali pada 2009. Hasil pemilu tersebut memicu demonstrasi besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau, ketika jutaan warga Iran turun ke jalan menuduh pemilu dicurangi. Sejumlah demonstran saat itu bahkan meneriakkan slogan menolak kemungkinan Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi.

Kini, setelah terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, banyak pihak memperkirakan Mojtaba akan melanjutkan kebijakan keras ayahnya terhadap Barat. Beberapa analis juga menilai pengalaman pribadinya kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan AS dan Israel, dapat membuatnya semakin tidak mungkin tunduk pada tekanan Barat.

Namun Mojtaba juga menghadapi tantangan besar. Ia harus memastikan kelangsungan Republik Islam Iran di tengah krisis politik, ekonomi, dan konflik militer yang sedang berlangsung.

Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa penunjukannya dapat memicu ketidakpuasan publik karena dianggap mencerminkan suksesi turun-temurun, sesuatu yang bertentangan dengan prinsip awal Republik Islam Iran yang lahir dari revolusi 1979 untuk menggulingkan monarki.

Di sisi lain, ancaman terhadap keselamatannya juga meningkat. Menteri Pertahanan Israel bahkan menyatakan bahwa siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran akan menjadi “target yang jelas untuk dieliminasi.”

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya