Berita

Presiden RI Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan perdana (Inaugural Meeting) Board of Peace (BoP) di Washington, DC, Amerika Serikat, pada Kamis, 19 Februari 2026. (Foto: Setkab RI)

Publika

Soal BoP, Ikut Tokoh Agama atau Mahasiswa

SENIN, 09 MARET 2026 | 04:23 WIB

ADA ungkapan begini, “Siapa pun awalnya menentang, begitu masuk istana, lalu keluar berubah mendukung BoP.” 

Sebaliknya, yang di luar istana, terutama mahasiswa konsisten menolak BoP. Kalian ikut yang mana? 

Selamat datang di panggung geopolitik Indonesia 2026. Tempat diplomasi internasional berubah jadi tontonan. 


Kadang terasa seperti campuran seminar, debat kampus, dan reality show global. Judul besarnya, Board of Peace (BoP). 

Kedengarannya seperti rapat malaikat penjaga bumi, tetapi ide awalnya datang dari Donald Trump, tokoh yang punya filosofi damai versi gym militer. Kalau ingin damai, pastikan otot bomnya tetap terlatih.

Drama dimulai 22 Januari 2026 di Davos ketika Presiden Prabowo Subianto menandatangani charter BoP. Indonesia berkomitmen mendorong two-state solution, ikut rekonstruksi Gaza, serta mengirim pasukan penjaga perdamaian TNI. 

Skemanya rapi, 1.000 personel berangkat April, sisanya menyusul Juni, total bisa mencapai 8.000 prajurit. Diplomasi kelas dunia, kata sebagian orang. 

Kalkulasi geopolitik yang juga menjaga hubungan dagang dengan Amerika agar tidak berubah menjadi perang tarif, kata sebagian yang lain sambil mengelus dagu penuh kecurigaan.

Presiden juga menegaskan sesuatu terdengar manis seperti lirik dangdut sendu. Kalau forum ini tidak membantu Palestina merdeka, Indonesia bisa keluar kapan saja karena semua kesepakatan bersifat bersama. 

Publik sempat mengangguk, seolah diplomasi global memang bisa menjadi jalan tengah antara idealisme dan realitas.

Februari 2026, Istana mengundang 16 organisasi Islam besar. Ada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia. Hasilnya kompak, dukungan bulat untuk tetap berada dalam forum dan menekan dari dalam.

Ketua PBNU, Yahya Cholil Staquf, terlihat paling optimistis. BoP dianggap bisa dimanfaatkan untuk menurunkan tensi konflik Amerika–Israel vs Iran. 

Pada 5 Maret saat buka puasa bersama di Istana, Gus Yahya kembali santai, apa pun alatnya, gunakan saja demi perdamaian.

Dari Muhammadiyah, Muhadjir Effendy awalnya juga memberi sinyal dukungan. Dari MUI, Cholil Nafis menegaskan pemerintah tetap pro-Palestina dan siap mundur bila forum tidak bermanfaat. Semua pulang dengan senyum lebar, foto bersama Presiden, dan narasi diplomatik, Indonesia menjalankan politik luar negeri aktif.

Lalu akhir Februari datang seperti adegan film aksi. Amerika dan Israel menyerang Iran. Dunia langsung panas. Forum bernama Board of Peace tiba-tiba terlihat seperti Board of War Director’s Cut.

MUI segera mengeluarkan Tausiyah Kep-28/DP-MUI/III/2026 pada 1 Maret 2026 yang mendesak Indonesia keluar dari BoP karena dinilai tidak efektif dan terlalu didominasi Amerika. Dokumen itu ditandatangani Anwar Iskandar dan Amirsyah Tambunan.

Di kubu Muhammadiyah juga muncul suara kritis. Anwar Abbas menyatakan lebih baik keluar daripada terlihat mendukung perang. Gelombang kritik kemudian datang dari berbagai kelompok ulama, aktivis, dan organisasi sipil di banyak daerah.

Namun babak paling berisik datang dari kampus.

Awal Maret 2026, Aliansi Mahasiswa UI yang berisi BEM UI, BEM fakultas, serta kelompok UI Students for Justice in Palestine, mengirim surat resmi kepada Presiden Prabowo Subianto. Isinya tidak main-main, ultimatum 3×24 jam agar pemerintah menarik Indonesia dari BoP.

Mahasiswa menilai keikutsertaan Indonesia dalam forum itu bertentangan dengan konstitusi, khususnya amanat UUD 1945 tentang penolakan segala bentuk penjajahan. 

Bagi mereka, BoP bukan forum perdamaian netral, melainkan proyek geopolitik yang digagas Donald Trump dan berpotensi menyeret Indonesia ke konflik internasional.

Tuntutannya jelas dan tiga lapis. Indonesia keluar dari BoP, menghentikan rencana pengiriman pasukan International Stabilization Force ke Gaza, dan memberi penjelasan kepada publik.

Kalau pemerintah tidak merespons dalam tenggat waktu, mahasiswa mengancam akan memperluas aksi. Demonstrasi pun mulai muncul di berbagai titik politik Jakarta. Narasinya keras. Jangan sampai Indonesia berubah dari negara bebas-aktif menjadi figuran dalam drama perang global.

Organisasi HAM seperti YLBHI dan KontraS ikut menilai BoP tidak memiliki legitimasi internasional yang kuat. Kritik juga datang dari Anies Baswedan yang menyindir, keluar dari forum tidak berarti menolak perdamaian, melainkan menjaga prinsip politik luar negeri Indonesia.

Di tengah semua keributan itu, PBNU tetap relatif tenang. Gus Yahya berpendapat BoP masih bisa dimanfaatkan sebagai alat mediasi walaupun terlihat lemah. Pemerintah sendiri menyatakan masih mencermati semua masukan.

Sampai 8 Maret 2026, keputusan final belum keluar. Ada laporan media luar negeri yang menyebut Indonesia sempat menangguhkan partisipasi, tetapi ada juga yang mengatakan pemerintah masih mengevaluasi.

Akhirnya publik Indonesia seperti menonton laga debat nasional. Di satu sisi tokoh agama yang sebagian memilih bertahan di dalam forum untuk menekan dari dalam, di sisi lain mahasiswa yang mengangkat konstitusi sebagai tameng moral untuk keluar sekarang juga.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya rumit, dalam drama BoP ini, kalian berdiri di barisan tokoh agama atau mahasiswa?

Yang jelas, jika BoP benar-benar Board of Peace, perdamaian dunia tampaknya sedang cuti panjang sambil menonton manusia ribut di panggung politik global. Sementara rakyat Indonesia duduk di tribun demokrasi, seruput koptagul geopolitik, sambil bertanya pelan, ini forum perdamaian dunia atau reality show karya Donald Trump?

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar


Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya