Berita

Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Azmi Syahputra. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Paradoks Keadilan: Saat Pembajak Hukum Mengkriminalisasi Korban

JUMAT, 06 MARET 2026 | 15:50 WIB

FENOMENA atas kejadian di salah satu cafe resto Bibi Kelinci di wilayah Jakarta Selatan pada 19 September 2025, di mana sekelompok orang muda pesan minuman 11 makanan dan 3 minuman, terus karena dianggapnya lama pelayanan disajikan, oleh komplotan anak muda tadi mereka marah, ngamuk, lakukan intimidasi dan ancaman karyawan, fakta rekaman CCTV dan bukti pesanan merupakan bukti absolut adanya peristiwa dan kerugian materiil.

Sebagaimana diketahui para pelaku yang memiliki mens rea (niat jahat) untuk mendapatkan keuntungan materiil tanpa kewajiban membayar dan nyata melakukan intimidasi dan tidak membayar (non-payment).

Ini adalah perbuatan melawan hukum, inilah yang menjadi kausalitas absolut bahwa tindakan mengunggah video adalah akibat langsung yang tidak terpisahkan dari tindakan tidak bayar dan intimidasi para pelaku.


Tanpa aksi premanisme tersebut, tidak akan pernah ada reaksi unggahan di media sosial. Artinya, peristiwa "fitnah" yang mereka adukan digerakkan dan didorong oleh perilaku buruk mereka sendiri jadi pemilik cafe mengunggah video adalah bentuk self-help (upaya membela hak), bukan niat memfitnah (animus injuriandi).

Saya mengingatkan penyidik pada semangat KUHP baru, dengan memperhatikan Pasal 70 ayat (1) huruf h KUHP Nasional. jika ditemukan keadaan pemantik kontribusi tertentu sebab hukum tidak boleh buta warna. Peristiwa fitnah yang dilaporkan para pengunjung dan pembeli cafe ini tidak berdiri di ruang hampa,  ia adalah reaksi dari sebuah aksi kejahatan awal mereka.

Bagaimana mungkin institusi hukum dalam hal ini kepolisian memberikan panggung kepada mereka para pelaku yang jelas-jelas menggerakkan terjadinya peristiwa pidana dengan cara mengintimidasi karyawan cafe dan tidak membayar pesanan?

Jika mengacu Pasal 70 huruf h, kontribusi kesalahan korban (pelapor fitnah) adalah faktor yang menggugurkan urgensi pemidanaan bagi pemilik cafe. Menghukum pemilik cafe berarti melegalkan perilaku culas para “oknum premanisme” pengunjung untuk membungkam korbannya.

Jika keadaan dan perbuatan para pelaku terutama dasar hukum Pasal 70 huruf h ini diabaikan, maka Bareskrim sedang menciptakan preseden buruk, bahwa siapapun boleh berbuat onar di resto, tidak bayar, dan jika pemiliknya mengadu ke publik, pemiliknya bisa dipenjara.

Ini bukan penegakan hukum, ini adalah pembajakan hukum oleh pelaku kejahatan.

Apalagi pemilik cafe dalam kasus ini tidak mengarang cerita, di mana faktanya dan ditegaskan para pelaku atas perbuatan dan keadaannya, mereka memang tidak bayar sehingga mengunggah peristiwa yang terjadi di cafe tersebut via media sosial Instagram adalah cara terakhir karena adanya intimidasi di lokasi.

Karenanya melihat fakta dari peristiwa penetapan tersangka bagi pemilik cafe harus gugur demi hukum termasuk laporan para anak muda tersebut harus di-SP3 (dihentikan) karena merupakan exceptio doli mala (tuntutan yang didasarkan pada itikad buruk/kecurangan atas kontribusi perbuatan mereka  sendiri).

Hukum pidana tidak boleh menjadi tempat berlindung bagi para social climber yang berperilaku tidak patut bagai “preman”. Jika seseorang makan tidak bayar lalu marah saat divideokan, maka dia telah melepaskan haknya untuk dilindungi nama baiknya.

Nama baik hanya milik mereka yang beritikad baik, melaksanakan kewajibannya. Menuntut pemilik membayar Rp1 miliar atas ketidakmampuan membayar makanan yang dipesannya sekitar Rp530.150, adalah lelucon hukum yang sangat menyakitkan rasa keadilan.
 
Dalam hukum pidana dikenal juga adanya doktrin noodweer (pembelaan terpaksa) ada juga  pembelaan atas kepentingan umum. Pasal 310 ayat (3) KUHP menyatakan: "Tidak merupakan pencemaran jika perbuatan dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri".

Secara moral dan hukum, seseorang yang melakukan kejahatan dengan tidak membayar makanan, semestinya tidak boleh menggunakan mekanisme hukum dengan melapor delik fitnah untuk menyerang korbannya. Ini adalah abuse of right penyalahgunaan hak hukum.
 
Hukum tidak boleh mengalahkan moral. secara sosiologis, masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada institusi Polri jika perilaku premanisme justru dilindungi oleh pasal fitnah atau pencemaran nama baik.

Namun, sebab fakta materiil dalam kasus ini malah pemilik cafe justru "dikunci" menjadi tersangka fitnah oleh Bareskrim dengan tuntutan fantastis Rp1 miliar, hal ini jelas menunjukkan adanya anomali penegakan hukum.

Azmi Syahputra
Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti; Sekretaris Jenderal Masyarakat Hukum Pidana Indonesia. (Sekjen Mahupiki)

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya