Berita

Maskapai Emirates di Bandara Internasional Dubai. (Foto: tangkapan layar YouTube)

Global

Penerbangan Lumpuh, Saham Maskapai Global Jeblok

RABU, 04 MARET 2026 | 03:24 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Industri maskapai dan pariwisata global kelabakan menghadapi dampak perang udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang terus meluas. Ribuan penumpang terlantar setelah lebih dari 20 ribu penerbangan dibatalkan hanya dalam beberapa hari terakhir.

Sejumlah bandara utama di kawasan Teluk, termasuk Bandara Internasional Dubai yang merupakan bandara tersibuk di dunia masih beroperasi sangat terbatas hingga hari keempat sejak serangan dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Data Flightradar24 mencatat sekitar 21.300 penerbangan dibatalkan di tujuh bandara utama, termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi.


Serangan tersebut mengguncang konektivitas kawasan yang selama ini menjadi simpul bisnis global. Krisis ini juga mempersempit koridor penerbangan jarak jauh antara Eropa dan Asia, sehingga menyulitkan operasional maskapai internasional.

Maskapai seperti Emirates, flydubai, dan Etihad Airways hanya mengoperasikan penerbangan terbatas sejak Senin, 2 Maret 2026, sebagian besar untuk memulangkan penumpang yang terjebak.

Pemerintah Uni Emirat Arab menyebut, 60 penerbangan telah diberangkatkan melalui koridor udara darurat, dengan rencana menambah lebih dari 80 penerbangan berikutnya.

Departemen Luar Negeri AS juga menyiapkan penerbangan militer dan charter untuk mengevakuasi warga negaranya dari Timur Tengah. Otoritas AS mengaku telah berkomunikasi dengan hampir 3.000 warga Amerika yang berada di kawasan tersebut.

“Ini mungkin penutupan terbesar yang kita lihat sejak pandemi COVID-19,” ujar CEO konsultan perjalanan mewah PC Agency, Paul Charles dikutip dari Reuters, Rabu, 4 Maret 2026.

Lonjakan permintaan terhadap rute alternatif pun tak terhindarkan. Pemesanan tiket dan harga pada jalur seperti Hong Kong–London melonjak tajam. Jika konflik berkepanjangan, analis memperkirakan kawasan Timur Tengah berpotensi kehilangan miliaran Dolar AS dari sektor pariwisata.

Di tengah situasi itu, Virgin Atlantic menyatakan akan kembali mengoperasikan penerbangan rute London Heathrow menuju Dubai dan Riyadh sesuai jadwal.

Sementara itu, harga bahan bakar jet melonjak tajam seiring kenaikan harga minyak dunia yang telah naik sekitar 30 persen sepanjang tahun ini akibat konflik.

Kenaikan harga minyak mentah berisiko menekan margin maskapai, mengingat bahan bakar merupakan komponen biaya operasional terbesar kedua setelah tenaga kerja.

Dalam laporan tahunan Delta Air Lines, setiap kenaikan satu sen harga bahan bakar jet per galon dapat menambah beban hingga 40 juta Dolar AS per tahun. Analis Third Bridge memperkirakan kenaikan 10 persen harga bahan bakar dapat menambah biaya Delta hingga 1 miliar Dolar AS pada 2026.

Tekanan juga tercermin di pasar saham. Saham maskapai global mayoritas melemah.

Di Eropa, saham Wizz Air, IAG (induk British Airways), Lufthansa, dan Air France-KLM terkoreksi 5 hingga 8 persen. Di Asia, saham Japan Airlines turun 6,4 persen, sementara Korean Air anjlok 10,3 persen—penurunan terdalam sejak Maret 2020.

Maskapai Australia Qantas Airways dan sejumlah maskapai besar China seperti Air China dan China Southern Airlines juga mencatat pelemahan harga saham antara 2 hingga 4 persen.

Dengan situasi keamanan yang belum menunjukkan tanda mereda, industri penerbangan global menghadapi ketidakpastian berkepanjangan yang berpotensi menggerus kinerja keuangan sepanjang tahun ini.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya