IRAN ingin menjadi penentu nasibnya sendiri,” demikian kata Ayatullah Khomeini pada masa puncak Revolusi Iran. Pada 1979, 47 tahun silam, rakyat Iran menentang dan menggulingkan pemerintahan Shah Reza Pahlavi yang dianggap semena-mena dan tak becus mengurus negeri.
Revolusi Iran 1979 adalah pergerakan rakyat yang menumbangkan monarki otoriter Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung Barat, dan mengubah Iran menjadi Republik Islam berbasis teokrasi.
Dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, revolusi ini berakar pada ketimpangan sosial, represi negara, dan keinginan untuk berdaulat dari Revolusi Iran 1979. Gelombang protes massal yang berlangsung sejak 1978 memaksa Shah Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan negara pada Januari 1979.
Kembalinya Khomeini: Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali dari pengasingan selama 15 tahun pada 1 Februari 1979, disambut jutaan pendukung di Teheran. Pada 1 April 1979, Iran secara resmi menjadi Republik Islam melalui referendum nasional, mengadopsi sistem pemerintahan berdasarkan Vilayat-i Faqih (perwalian ulama).
Revolusi ini membawa perubahan drastis, termasuk penerapan hukum Islam yang ketat, seperti kewajiban jilbab bagi perempuan. Revolusi ini secara signifikan mengubah geopolitik Timur Tengah, memicu ketegangan dengan negara-negara Barat (terutama krisis sandera AS).
Revolusi ini unik karena keberhasilannya menumbangkan rezim militer yang kuat melalui kekuatan rakyat dan ideologi berbasis Islam Syiah. Iran secara resmi menjadi Republik Islam pada 1 April 1979 ketika sebagian besar Bangsa Iran menyetujuinya melalui referendum nasional.
Revolusi 1979 Saat kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang dimulai pada September 1941 setelah mewarisi kekuasaan dari ayahnya, masyarakat Iran mulai gerah.
Program Nuklir Iran
Program nuklir Iran memiliki akar historis yang telah berlangsung sejak dekade 1950-an, bermula lewat inisiatif “Atoms for Peace” dari AS dan program penelitian di bawah pemerintahan Shah Pahlevi.
Pada 2002, rakyat dan pengamat internasional dikejutkan dengan bocornya fasilitas nuklir tersembunyi di Natanz (untuk pengayaan uranium) dan Arak (reaktor air berat), yang kemudian memicu penyelidikan IAEA dan Resolusi PBB menuntut penangguhan aktivitas pengayaan.
Program ini semakin menguat di era Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2005-2013), dengan pembangunan fasilitas bawah tanah seperti Fordow dan peningkatan jumlah sentrifugal, hingga mengurangi waktu "breakout" (kemampuan mencapai uranium senjata) yang diperkirakan menjadi beberapa bulan.
KTT JCPOA di Wina, yang membahas proliferasi nuklir Iran. Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Juli 2015 menjadi babak baru, menetapkan batas pengayaan (maksimum 3,67-persen U-235), pengurangan stok uranium, dan pengawasan intensif oleh IAEA sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Namun, keluarnya sepihak AS dari JCPOA pada Mei 2018 kembali memicu peningkatan aktivitas nuklir Iran. Di antaranya pengayaan hingga 60?persen dan pembalakan pelaksanaan protokol tambahan.
Menurut laporan IAEA dan intelijen AS-Uni Eropa, meski Iran telah menyisihkan batasan teknis tersebut, belum ada bukti yang meyakinkan tentang pengembangan senjata nuklir aktif; Iran tetap dinilai sebagai “threshold state” yang memiliki potensi, bukan kapabilitas langsung.
Sejak pertengahan 1995, Benjamin Netanyahu secara konsisten mendorong narasi bahwa Iran “sangat dekat” untuk memiliki bom nuklir, dan sejak saat itu dia kembali mengulangi klaim serupa di berbagai forum internasional. Secara berkali?kali ia menyatakan bahwa program nuklir Iran bukanlah damai, melainkan dimaksudkan untuk senjata, dan bahwa Iran “hanya tinggal beberapa tahun, mungkin bulan, atau bahkan minggu” dari kedekatan dengan bom nuklir.
Pada 27 September 2012, dalam Sidang Umum PBB, Netanyahu menampilkan diagram grafis menyerupai bom dengan sumbu waktu, menyatakan bahwa Iran telah menyelesaikan fase pertama pengayaan uranium dan “oleh musim semi berikutnya, paling lambat musim panas, akan menyelesaikan tingkat pengayaan menengah, dan hanya beberapa bulan atau minggu dari bom”.
Pengeboman situs-situs nuklir Iran pada Juni 2025 merupakan kelanjutan retorika dan narasi lama yang telah lama diusung oleh Benjamin Netanyahu. Kini pada 2025, serangan udara Israel terhadap fasilitas seperti Natanz dan Fordow -- yang disebut sebagai "Operation Rising Lion" dilancarkan dengan alasan bahwa Iran telah “cukup dekat” untuk memproduksi bom nuklir dalam hitungan bulan atau minggu.
Pada awal Juni 2025, ketegangan di kawasan Teluk dan Levant meningkat tajam. Pada 5 Juni, milisi Houthi, yang merupakan proksi Iran melancarkan serangan balistik ke Bandara Ben Gurion di Israel, praktik yang kemudian ditindak oleh pasukan IDF dan memicu pembatasan jalur penerbangan dari maskapai internasional.
Di saat bersamaan, IDF melancarkan serangkaian serangan udara terhadap fasilitas drone produksinya di pinggiran Beirut, yang diduga digunakan oleh Hizbullah untuk mempersenjatai serangan lintas perbatasan. Laporan intelijen menyebutkan bahwa sejak awal Juni, Israel telah membentuk komando Iran khusus di dalam Israeli Air Force dan menjalankan latihan militer besar “Glorious Spartan 08” yang melibatkan lebih dari 100 jet tempur F-15 dan F-16, menandakan persiapan yang matang terhadap potensi serangan terbuka.
Situasi pasca serangan Israel di Teheran. Memasuki pertengahan Juni, situasi semakin memanas. Pada 10 Juni, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) secara resmi menyatakan bahwa Iran telah melanggar kewajiban non-proliferasi nuklir untuk pertama kalinya sejak 2005.
Menanggapi putusan ini, Iran mempersiapkan pembukaan fasilitas pengayaan uraniumnya yang ketiga, sementara pemimpinnya memberikan peringatan keras bahwa jika serangan datang, balasannya akan “lebih kuat dan destruktif”.
Sementara itu, Amerika Serikat mulai menarik personel non-esensial dari beberapa kedutaan di wilayah Timur Tengah termasuk Baghdad, Yerusalem, dan sekitarnya karena risiko yang meningkat.
Israel juga dilaporkan telah melakukan komunikasi dengan Washington mengenai kemungkinan serangan langsung, yang menurut laporan Wall Street Journal dapat terjadi “segera pada akhir minggu jika Teheran menolak tawaran kurangi program nuklir”.
Ketegangan ini mencapai titik kritis pada malam 12-13 Juni. Israel melancarkan operasi rahasia “Operation Rising Lion”, yang dimulai dengan infiltrasi Mossad menggunakan drone kamikaze yang diluncurkan dari pangkalan tersembunyi di dalam Iran, yang menonaktifkan sistem pertahanan udara dan peluncur rudal permukaan ke permukaan.
Tepat pada 13 Juni malam, IAF meluncurkan serangkaian serangan udara dan rudal jet tempur terhadap lokasi-lokasi strategis seperti fasilitas Natanz, Fordow, depot misil Shahab dan Isfahan, serta menargetkan sejumlah komandan IRGC.
Kena Sanksi Embargo
Kenyang dengan sanksi membuat negara ini jadi kebal. Berkali-kali Amerika memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk menghentikan program nuklirnya, namun tidak pernah membuahkan hasil.
Sampai-sampai Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, "Kami tidak akan mati kelaparan jika mereka menolak berunding dengan kami atau menjatuhkan sanksi," kata Pezeshkian sebagaimana dikutip oleh media pemerintah tentang pembicaraan dengan Washington.
"Kami akan menemukan cara untuk bertahan hidup," ujarnya dikutip dari Reuters.
Iran Chaos
Iran tengah bergejolak karena dihantam krisis ekonomi hingga politik. Kondisi ini membuat kekayaan negara tersebut ikut disorot. Gelombang demonstrasi yang melanda Iran memasuki fase paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir.
Di tengah pemadaman komunikasi dan pengerahan besar-besaran aparat keamanan, kelompok pemantau hak asasi melaporkan jumlah korban tewas telah menembus angka 2.000 orang, sementara warga untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir kembali bisa menghubungi dunia luar.
Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, hingga Selasa (13/1/2026), jumlah korban jiwa akibat protes nasional di Iran mencapai sedikitnya 2.003 orang. Angka ini jauh melampaui korban dalam setiap putaran unjuk rasa atau kerusuhan lain di Iran selama puluhan tahun, bahkan mengingatkan pada kekacauan yang menyertai Revolusi Islam 1979.
Iran bisa dibilang negara kaya di Timur Tengah yang erat kaitannya dengan minyak dan gas bumi (migas). Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar ke-3 dan cadangan gas alam terbesar ke-2 di dunia.
Lantas, seberapa kaya dan komoditas apa saja yang dimiliki Iran? Berikut adalah posisi ekonomi Iran di kancah global. Iran memiliki peran penting dalam peta ekonomi global, terutama karena menjadi salah satu produsen dan eksportir terbesar minyak di dunia.
Data Administrasi Informasi Energi (EIA), ekspor minyak mentah dan kondensat Iran mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari pada tahun 2023, kemudian meningkat menjadi sekitar 1,5 juta barel per hari selama delapan bulan pertama tahun 2024.
Produksi minyak mentah Iran menembus 3,163 juta bpd pada Januari 2024. Sementara itu data EIA hanya menyebut 2,93 juta bpd. Iran memiliki beberapa tujuan utama ekspor impor ke China sebagai mitra dagang terbesar Iran, dengan nilai ekspor sebesar 18,9 miliar Dolar AS dan impor sebesar 3,47 miliar Dolar AS. India, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, dan Italia juga menjadi tujuan ekspor utama Iran.
Sementara itu, dalam hal impor, Iran mengimpor komoditas seperti jagung, beras, kedelai, dan tembakau gulung dengan China sebagai negara asal utama.
Ketegangan Iran
Iran menolak kesepakatan yang diusulkan pada hari Kamis, kata seorang pejabat senior AS. “Mereka tidak mau mengatakan bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Sangat sederhana,” kata Trump kepada NBC News.
Presiden Donald Trump memerintahkan serangan terhadap Iran setelah semakin berlarut. Kesempatan terakhir untuk menghindari perang dengan Iran terwujud pada hari Kamis di Jenewa, di mana para pejabat pemerintahan Trump mengatakan kepada rekan-rekan mereka dari Iran bahwa mereka tidak boleh mengambil langkah-langkah tertentu yang diperlukan untuk membangun bom nuklir.
Ketika delegasi AS memaparkan posisinya bahwa Iran tidak dapat memperkaya uranium selama 10 tahun ke depan, pihak Iran menolak, kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump yang menjelaskan pertemuan tersebut dengan syarat anonim.
Iran memiliki "hak yang tak dapat dicabut" untuk memperkaya uranium, kata Abbas Araghchi, menteri luar negeri Iran, kepada Amerika. Dan AS memiliki "hak yang tak dapat dicabut" untuk menghentikan Anda, jawab Steve Witkoff, anggota delegasi AS.
Trump memperingatkan Iran bahwa mereka 'sebaiknya tidak' melakukan pembalasan lebih lanjut setelah serangan AS dan Israel.
Setelah mendengar tuntutan AS, Araghchi mulai berteriak pada Witkoff, yang didampingi dalam pertemuan itu oleh menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, dan beberapa orang lainnya, kata pejabat senior tersebut.
“Jika Anda mau, saya bisa pergi,” kata Witkoff.
Perwakilan Araghchi tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Setelah itu, delegasi Amerika melaporkan kembali kepada Trump tentang apa yang telah terjadi. Trump "bingung," kata pejabat senior itu.
Pada Sabtu pagi, AS telah terlibat perang. “Operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran telah dimulai, kata Trump dalam sebuah video yang dirilis pukul 2:30 pagi ET di situs media sosialnya.
Presiden Trump Mengamati Operasi Epic Fury dari Mar-a-Lago. Bekerja sama dengan Netanyahu dalam operasi Roaring Lion (Gangguan Singa). “Operasi Epic Fury” dimulai pukul 1:15 pagi ET hari Sabtu (9:45 pagi di Teheran). AS mengerahkan pesawat pembom siluman B-2, jet tempur, rudal, roket, dan sistem senjata lainnya yang tidak diungkapkan oleh Departemen Pertahanan. Mereka menargetkan angkatan laut Iran, lokasi rudal, markas komando dan kendali, serta sistem pertahanan udara.
Waktu pertemuan itu bukanlah suatu kebetulan. Baik badan intelijen AS maupun Israel telah melacak keberadaan Khamenei. Intelijen menunjukkan bahwa ia akan bertemu dengan para wakil seniornya pagi itu, menurut dua orang yang diberi informasi tentang masalah tersebut.
Alih-alih melancarkan operasi di malam hari, para pemimpin memindahkan serangan ke siang hari dengan harapan dapat membunuh dia dan para pengikutnya, kata orang-orang tersebut.
Trump mengatakan dalam wawancaranya dengan NBC News bahwa operasi tersebut "lebih cepat dari jadwal, dan jelas, ketika kita mendapatkan 48 pemimpin, itu adalah peristiwa besar."
Serangan akhir pekan mengguncang Iran dan memicu serangan balasan oleh rezim tersebut. Ledakan terdengar di pusat Teheran dekat Kementerian Intelijen , dan ratusan target terkena serangan.
Sirine serangan udara berbunyi di Israel, memperingatkan akan datangnya rudal Iran. Serangan balasan Iran di Kuwait menewaskan tiga anggota militer AS dan melukai lima lainnya, kata dua pejabat AS .
Dalam pernyataan publiknya selama akhir pekan, Trump, yang kini menjadi presiden di masa perang, tampaknya mempersiapkan warga Amerika untuk menghadapi lebih banyak korban.
“Sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak lagi sebelum ini berakhir. Begitulah kenyataannya,” katanya.
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
Presiden Donald Trump secara resmi mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melalui unggahan di platform Truth Social, Minggu (1/3) pagi waktu setempat.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan momentum bersejarah bagi rakyat Iran untuk melakukan perubahan besar di negara mereka.
"Ali Khamenei sudah tewas. Ini adalah peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka. "Ini adalah peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka," tulis Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social, seperti dilansir Reuters.
Pernyataan ini muncul menyusul klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengenai serangan gabungan yang menargetkan kediaman Khamenei di Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengklaim sebelumnya bahwa banyak indikasi bahwa Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2).
Dalam keterangannya, Netanyahu mengklaim bahwa mereka berhasil menghina orang yang sering melakukan penyerangan ke AS maupun Israel.
“Selama 47 tahun, rezim Ayatollah telah mengirimkan kematian untuk Israel dan kematian untuk AS. Mereka telah menumpahkan darah kita, mereka telah membunuh banyak orang AS,” ucap Netanyahu.
“Selama tiga setengah dekade, diktator kejam ini yang menakut-nakuti dunia dengan penghinaan terhadap rakyatnya. Rencana ini telah hilang dan ada banyak tanda bahwa diktator ini juga telah hilang,” ungkap Netanyahu.
Di lain pihak, Khamenei pernah mengucapkan kalimat: "Bunuhlah saya, perang tidak akan berakhir......"
*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78