Berita

Ketua MPP PKS Mulyanto (Foto: Dokumen Fraksi PKS)

Politik

PKS Minta Pemerintah Evaluasi Keanggotaan Indonesia di Board of Peace

SELASA, 03 MARET 2026 | 11:46 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diharakan agar mengevaluasi secara serius dan komprehensif terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP).

Permintaan itu disampaikan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera, Mulyanto, merespons perkembangan geopolitik terbaru di Timur Tengah, termasuk eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menurutnya, situasi tersebut secara objektif telah mengubah konteks strategis yang melatarbelakangi pembentukan dan partisipasi dalam forum Board of Peace. Karena itu, perlu adanya evaluasi sungguh-sungguh atas keanggotaan Indonesia dalam forum tersebut.


Mulyanto menegaskan, sejak awal Indonesia berpartisipasi dalam berbagai forum global dengan niat konstruktif untuk mendukung stabilitas dan perdamaian. 

Dalam isu Palestina, posisi Indonesia dinilai konsisten dan tegas, yakni mendukung kemerdekaan Palestina, penghentian kekerasan, perlindungan rakyat sipil, serta solusi yang adil berdasarkan hukum internasional dan prinsip hak menentukan nasib sendiri.

Namun demikian, ketika aktor-aktor kunci dalam suatu arsitektur perdamaian justru terlibat dalam eskalasi militer besar, wajar jika muncul pertanyaan terkait efektivitas dan kredibilitas forum tersebut.

“Evaluasi terhadap keanggotaan Indonesia dalam BoP bukanlah sikap emosional, melainkan langkah rasional dalam membaca dinamika baru yang berkembang,” ujar Mulyanto kepada wartawan, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menegaskan, Indonesia harus memastikan setiap keterlibatan dalam mekanisme stabilisasi atau keamanan kawasan tidak bertentangan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, serta tidak mengurangi ruang diplomasi Indonesia dalam menjaga hubungan seimbang dengan berbagai pihak.

Mulyanto juga menyoroti tingginya volatilitas tatanan global saat ini, seiring perubahan kebijakan strategis di negara-negara besar yang dipengaruhi dinamika politik dan hukum domestik. Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai perlu menjaga fleksibilitas dan kemandirian dalam menentukan posisi di berbagai forum internasional.

Atas dasar itu, pemerintah diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manfaat dan implikasi strategis keanggotaan dalam Board of Peace. 

“Jika forum tersebut tidak lagi secara efektif berkontribusi pada de-eskalasi dan penyelesaian konflik secara adil, maka opsi peninjauan ulang, termasuk pembekuan partisipasi, perlu dipertimbangkan secara serius,” kata Politikus Senior PKS ini.

Di sisi lain, Mulyanto meyakini pemerintah terus memonitor perkembangan secara cermat dan akan mengambil langkah bijak sesuai kepentingan nasional.

“Komitmen terhadap perdamaian dunia tetap menjadi pedoman utama, namun harus dijalankan dengan perhitungan strategis yang matang,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah menyampaikan hasil evaluasi tersebut kepada DPR dan publik secara terbuka guna memastikan legitimasi demokratis dan dukungan nasional terhadap setiap keputusan kebijakan luar negeri.

Indonesia, kata Mulyanto, harus tetap berdiri pada amanat konstitusi untuk memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 

“Dengan menjaga integritas dan kepentingan nasional dalam setiap langkahnya,” pungkasnya.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Bamsoet dan Ketum Perbakin Banten Berburu Babi Hutan Perusak Panen

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:27

UPDATE

BEI Atur Strategi Dorong Saham RI Kembali ke Panggung Global

Selasa, 26 Mei 2026 | 08:12

Kakak Beradik di Lubang Buaya Ditemukan Tak Bernyawa Setelah Hanyut di Selokan

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:59

DPR Minta Transisi Tata Niaga Sawit Tak Korbankan Petani

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:41

Meksiko Siap Tampung Timnas Piala Dunia Iran

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:30

Bersih-Bersih FTSE Russell: Empat Saham Indonesia Didepak dari Indeks Global

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:21

STOXX 600 dan DAX Melonjak Berkat Meredanya Risiko Energi

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:03

Utang Kapal dari Inggris

Selasa, 26 Mei 2026 | 06:46

Pemprov Papua Harus Punya Wewenang Beri Izin Tambang

Selasa, 26 Mei 2026 | 06:23

Sembilan Tokoh Didapuk jadi Tim Formatur Kongres Kembali ke UUD 1945 Asli

Selasa, 26 Mei 2026 | 05:59

Wagub Jabar Berharap Persib Bisa Bicara Banyak di Level Asia

Selasa, 26 Mei 2026 | 05:39

Selengkapnya