Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Ramadan Bulan Jihad

SENIN, 02 MARET 2026 | 12:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA bangsa yang menandai kalendernya dengan musim liburan dan diskon tengah tahun. Ada pula bangsa yang menandai kalendernya dengan tanggal-tanggal luka dan harga diri, bangsa yang menambahkan jihad sebagai salah satu rukun iman.

Maka ketika serangan Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan terjadi tepat pada 10 Ramadan, bagi bangsa Iran itu bukan sekadar tanggal militer, melainkan tanggal jihad teologis. Bagi mereka, sejarah bukan hanya ditulis oleh para jenderal dan analis geopolitik, tetapi juga oleh ayat-ayat yang hidup dalam kesadaran kolektif.

Ramadan, dalam ingatan Islam, bukan hanya bulan puasa dan sirup kurma. Ia juga bulan terjadinya Perang Badar, bulan jihad, ketika komunitas kecil yang minim logistik mengalahkan kekuatan besar yang kenyang persenjataan.


Sejarah mencatat peristiwa itu bukan sebagai legenda, tetapi sebagai momentum psikologis yang membentuk mentalitas perlawanan. Bahkan, jadi titik tolak kebangkitan peradaban besar. Melawan penindasan dan kezaliman, dengan semangat ajaran jihad yang menghunjam di dada.

Maka ketika Iran merespons serangan pada hari yang sama, hanya dalam jeda sekian jam, bagi banyak warganya itu tidak dibaca sebagai operasi balasan biasa. Ia dibaca sebagai kelanjutan narasi bahwa perlawanan memiliki legitimasi spiritual.

Di titik ini geopolitik bertemu teologi, dan keduanya tidak selalu duduk di meja yang sama.

Dunia Barat membaca konflik dalam bahasa deterrence, stabilitas regional, dan keseimbangan kekuatan. Iran membacanya dalam bahasa kehormatan, kesyahidan (syahadah), dan tanggung jawab iman. Dua kamus ini sering kali tidak saling menerjemahkan.

Iran modern lahir dari Revolusi 1979 yang menjadikan ideologi sebagai fondasi negara. Dalam doktrin resmi Republik Islam, konsep perlawanan terhadap dominasi asing dan pembelaan terhadap kaum tertindas menjadi bagian dari identitas nasional.

Bagi banyak warga Iran, sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan tekanan militer bukan sekadar tekanan eksternal, melainkan harga yang telah diperhitungkan sejak awal pilihan politik mereka. Mereka tidak menganggap dirinya korban kebetulan sejarah, tetapi pelaku pilihan sejarah.

Di mata pendukungnya, pembalasan Iran terhadap serangan AS+Israel diproyeksikan sebagai mandat kehormatan: membela martabat, melindungi yang tertindas, dan menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu berakhir dengan kepatuhan.

Dalam perspektif ini, mitos “adidaya” tampak retak ketika intimidasi dijawab dengan ketegasan. Sejarah memang menunjukkan bahwa kekuatan besar sering runtuh bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena kehilangan legitimasi moral di mata dunia.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa setiap perlawanan membawa konsekuensi. Sanksi, isolasi, inflasi, dan penderitaan sipil bukan metafora, melainkan realitas sehari-hari. Iran sudah mengalami ini puluhan tahun, yang justeru membuatnya kuat dan mandiri.

Iran bukan negeri utopis; ia negeri nyata dengan rakyat nyata yang menanggung biaya pilihan geopolitik. Tetapi dalam psikologi kolektif yang dibangun oleh revolusi dan teologi, penderitaan dapat ditransformasikan menjadi narasi ketabahan. Di sinilah ideologi bekerja yakni mengubah biaya menjadi makna.

Pukulan Iran juga diarahkan pada Israel dalam konteks konflik panjang Palestina sejak 1948.

Bagi pendukung poros perlawanan, tindakan tersebut dipandang sebagai upaya mematahkan asumsi bahwa penindasan selalu aman di balik perlindungan kekuatan besar. Dunia internasional pun kembali dipaksa menyaksikan kenyataan lama bahwa konflik yang tidak pernah selesai akan selalu menemukan bentuk barunya.

Kontras terasa hingga ke negeri-negeri jauh seperti Indonesia. Sebagian umat membaca peristiwa ini sebagai cermin keberanian; sebagian lainnya melihatnya sebagai risiko eskalasi yang berbahaya.

Perdebatan ini menunjukkan satu hal bahwa dunia Islam tidak monolitik. Ia terdiri dari spektrum pandangan yang luas, dari pragmatis hingga ideologis, dari realis hingga spiritualis.

Di atas meja diplomasi, kekuatan diukur dengan angka: anggaran militer, jumlah rudal, daya jangkau drone, dan statistik ekonomi. Tetapi sejarah sering berbelok bukan karena angka, melainkan karena keyakinan.

Banyak peristiwa besar lahir dari aktor yang tampak kecil namun memiliki tekad besar. Pertanyaan klasik pun bergema kembali: berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar?

Di sinilah paradoks modernitas berdiri tegak. Dunia yang mengaku rasional tetap digerakkan oleh simbol, iman, dan identitas.

Negara-negara berbicara tentang stabilitas, tetapi rakyat berbicara tentang martabat. Diplomasi berbicara tentang kepentingan, tetapi sejarah berbicara tentang makna.

Akhirnya, peristiwa ini bukan hanya tentang rudal yang melintas langit Timur Tengah. Ia tentang bagaimana sebuah bangsa memahami dirinya sendiri: apakah sebagai objek tekanan global, atau sebagai subjek sejarah yang berhak menentukan arah.

Bagi Iran, pilihan itu telah diambil sejak lama, dengan kesadaran bahwa jalan tersebut mahal, sepi, dan penuh risiko.

Dan bagi dunia, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah jeda, bukan solusi. Bahwa kekuatan tanpa legitimasi hanyalah bayangan. Bahwa iman, entah disetujui atau ditolak, tetap menjadi energi politik yang tak bisa diabaikan.

Tragedi dapat menjadi luka. Luka dapat menjadi identitas. Identitas dapat menjadi daya tahan. Dan dari daya tahan itulah sejarah sering lahir kembali, dengan wajah yang tak pernah benar-benar baru.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya