Berita

Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Liputan6)

Global

Iran Tanpa Khamenei: Momentum Runtuhnya Rezim atau Justru Menguat?

SENIN, 02 MARET 2026 | 09:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS), mengguncang peta politik Timur Tengah. 

Konfirmasi resmi dari Teheran kurang dari 24 jam setelah serangan pertama menandai babak baru yang penuh ketidakpastian bagi Republik Islam tersebut.

Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, menilai peristiwa ini bukan sekadar kehilangan figur simbolik, tetapi berpotensi menjadi titik balik perubahan rezim di Iran.


“Saya turut berduka cita atas wafatnya Ayatullah Ali Khamenei. Beliau adalah pemimpin spiritual bagi kalangan Syiah dan simbol perlawanan terhadap Israel dan Amerika. Ini kehilangan yang sangat besar,” ujar Hasibullah dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 2 Maret 2026. 

Menurut Hasibullah, kecepatan konfirmasi kematian Khamenei, kurang dari 24 jam setelah serangan, menjadi faktor yang sangat mengejutkan.

“Secara logika keamanan, pemimpin tertinggi sebuah negara berdaulat seperti Iran harusnya memiliki pengamanan paling ketat. Fakta bahwa ia dilumpuhkan dalam waktu sangat singkat menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem perlindungan,” tegasnya.

Ia membandingkan peristiwa ini dengan tewasnya Hasan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, dalam konflik sebelumnya yang terjadi sekitar 10-12 hari setelah eskalasi serangan pada September 2024.

“Kali ini jauh lebih cepat. Ini mengindikasikan kombinasi teknologi pelacakan canggih dan kekuatan intelijen yang sangat efektif,” kata Hasibullah.

Ia juga menyoroti pola serangan yang sebelumnya menyasar tokoh-tokoh Hamas dan elite proksi Iran di kawasan, yang menurutnya memperlihatkan konsistensi strategi Israel dalam melumpuhkan figur kunci.

Fokus utama analisis Hasibullah adalah kemungkinan perubahan rezim. Ia memetakan dua skenario besar yang kini terbuka.

Skenario pertama adalah terjadinya pergantian rezim sebagaimana secara terbuka diharapkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. 

Trump bahkan disebut mendorong rakyat Iran untuk turun ke jalan membentuk pemerintahan baru.

“Dengan wafatnya Khamenei, jembatan menuju kemungkinan perubahan rezim itu terbuka,” ujar Hasibullah. 

Ia menambahkan, dalam perspektif Barat dan Israel, terdapat kepentingan strategis agar Iran kembali pada konfigurasi pra-Revolusi 1979, ketika Teheran menjadi mitra penting dalam arsitektur keamanan kawasan.

Namun skenario kedua justru berlawanan: rezim bertahan dan memperkeras perlawanan.

“Konstitusi Iran sudah mengatur mekanisme suksesi melalui Majelis Ahli. Secara sistem, negara tetap berjalan. Kematian Khamenei bisa menjadi momentum konsolidasi internal dan memperkuat narasi perlawanan terhadap ‘setan besar’ dan ‘setan kecil’,” jelasnya.

Hasibullah menilai peluang kedua skenario tersebut relatif berimbang. “

Saya melihat ini 50-50. Mekanisme politiknya kuat, tetapi jika pola serangan terhadap elite terus berlanjut, stabilitas rezim bisa benar-benar terganggu,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi pernyataan Trump yang mengklaim mengetahui sosok calon pengganti Khamenei. Jika benar demikian, potensi serangan lanjutan terhadap figur suksesor sangat mungkin terjadi. Itu bisa menjadi faktor penentu arah perubahan rezim.

Terkait kemungkinan meredanya konflik setelah kematian Khamenei, Hasibullah justru melihat indikasi sebaliknya.

“Hingga sekitar 20 jam pasca-serangan pertama, intensitas serangan belum menunjukkan penurunan. Kedua belah pihak masih saling melancarkan serangan,” ujarnya.

Ia menyebut Iran masih mampu menyasar target di Tel Aviv dan sejumlah pangkalan militer di kawasan Teluk. Artinya, kapasitas militer Iran tidak serta-merta melemah meski kehilangan figur sentral.

Situasi ini, menurut Hasibullah, akan sangat menentukan arah politik Iran dalam beberapa hari ke depan. Apakah kematian Khamenei menjadi pintu masuk perubahan rezim yang selama ini diidamkan musuh-musuhnya, atau justru menjadi katalis konsolidasi kekuatan internal Republik Islam, masih menjadi tanda tanya besar.

“Semuanya akan sangat ditentukan oleh dinamika elite dalam beberapa hari ke depan,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya