Berita

Anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana. (Foto: Dokumentasi Fraksi PDIP)

Politik

Bonnie Triyana: Kolonialisme Berakhir, Kolonialitas Masih Membelenggu

SABTU, 28 FEBRUARI 2026 | 00:21 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Meskipun penjajahan fisik telah berakhir, warisan kolonial masih membekas dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini. 

Demikian disampaikan sejarawan sekaligus Anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana, dalam Seminar Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) bertajuk 'Sejarah Sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme' di Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB, Bandung, Jumat, 27 Februari 2026.

Mengawali paparannya, Bonnie merespons pandangan mengenai nasionalisme yang kerap menyalahgunakan narasi sejarah. Ia pun mengutip buku Jason Stanley berjudul Erasing History yang membagi nasionalisme menjadi dua kategori, yaitu nasionalisme anti-kolonial dan nasionalisme supremasi.


Menurut politisi berlatar belakang sejarawan ini, kelompok nasionalis anti-kolonial hadir sebagai respons atas penjajahan dan memiliki solidaritas yang luas. 

“Sehingga dalam perjuangannya, dalam perannya sebagai kelompok anti-kolonial dan sebagai kelompok yang punya kesadaran tentang bangsa yang lahir dari penindasan itu sendiri, mereka jauh lebih kosmopolitan, lebih luas solidaritas yang dibangunnya," jelas Bonnie.

Penggagas Museum Multatuli Rangkasbitung ini kemudian mengajak audiens menelusuri problem kolonial yang menurutnya masih membayangi Indonesia. Bonnie menyoroti praktik diskriminasi dan segregasi ras yang diciptakan kolonial sebagai instrumen penting untuk menopang kekuasaan mereka.

"Rasialisme adalah temuan penting di dalam kolonialisme. Itu penemuan yang sangat penting yang menopang struktur kolonialisme, bahkan imperialisme itu sendiri," tegasnya.

Mantan kurator Rijksmuseum di Amsterdam ini juga menyoroti ironi demokrasi yang masih diwarnai pola hubungan patron-klien, mirip dengan struktur feodal masa lalu. Bonnie mencontohkan bagaimana kepala desa kerap menjadi target pendekatan politik karena pengaruhnya terhadap massa.

"Kita selalu bilang, di Papua pakai noken. Sejauh-jauh itu, di Dapil saya, di kampung saya di Banten itu, esensinya noken juga. Di Badui itu, sama. Artinya pola hubungan antara elit dengan massa, masyarakat dengan pemimpinnya, masih mencerminkan apa yang terjadi di masa lalu," ungkap Bonnie.

Dalam pemaparannya, Bonnie juga mengangkat kisah warga Desa Badur, Lebak, Banten, yang diabadikan dalam sebuah film. Desa ini adalah latar novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik keras praktik kolonial pada abad ke-19. 

Bonnie menceritakan bagaimana temannya, wartawan Belanda Arjan Onderdenwijngaard, merekam anak-anak Badur pada 1987. Tiga puluh tahun kemudian, Bonnie kembali mencari anak-anak itu dan menemukan kenyataan yang tak banyak berubah.

"Rasti lulus SD, umur 12 tahun, pergi ke Jakarta, jadi pembantu di sebuah keluarga Angkatan Udara di Halim. Dan bekerja di sana selama 18 tahun. Jumar, lulus SD juga, tidak diteruskan sekolahnya. Dan bekerja serabutan sebagai buruh, segala macam-macam," kenangnya.

Bonnie menyebut rata-rata lama sekolah di wilayah tersebut hanya 6,5 tahun, setara lulus SD. Bonnie menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan realitas yang masih berulang.

"Inilah yang disebut oleh Anibal Quijano, seorang sosiolog dari Peru, sebagai kolonialitas. Kolonialisme itu bersifat fisik dan administrasi, sudah selesai. Tapi kolonialitas yang prosesnya dibangun sejak zaman kolonialisme itu masih berlangsung sampai hari ini," jelas Anggota Komisi X DPR Fraksi PDIP ini.

Menurut Bonnie, kolonialitas tercermin dalam berbagai hal, mulai dari kontrol pengetahuan yang berpusat pada standar Eropa, struktur ekonomi yang masih timpang, hingga pola perilaku pejabat yang ia nilai mirip dengan tradisi feodal.

"Bahkan saya punya keyakinan, kebiasaan pejabat kita diiring-iring pakai patwal itu datangnya dari zaman feodal. Kalau baca di Max Havelaar disebutkan, keluarga Bupati Cianjur ketika mau berkunjung ke Bupati Lebak diiringi oleh kereta kuda. Banyak banget. Ada pengawalnya, ada tukang ini, tukang bawa itu. Dan saya agak curiga, kebiasaan yang sama sampai sekarang. Sama," pungkasnya.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

DPR Minta Pengusaha Klub Malam Jangan Beri Ruang Peredaran Narkoba

Selasa, 09 Juni 2026 | 02:09

Telkom Bersama KIP Dukung Literasi Keterbukaan Informasi Publik

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:45

Buku ‘Presiden Solusi’ Ulas Rekam Jejak Transformasi Prabowo

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:20

Ratifikasi ILO C188 Jangan Ulangi Kesalahan Implementasi MLC 2006

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:01

Miris! Purbaya Belum Siapkan Insentif buat Pedagang Tahu Tempe

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:42

Keanu Bantah Terima Duit Penipuan Jemaah Umrah Hanania

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:16

Ketum PPP Mardiono Dilaporkan ke Polisi, Dugaan Pemalsuan Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:12

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Bupati Muara Enim Dkk Langsung Digiring ke KPK Usai Terjaring OTT

Senin, 08 Juni 2026 | 23:45

Segel Gerai Tiffany & Co Dibuka Usai Sepakat Bayar Denda Rp97,49 M

Senin, 08 Juni 2026 | 23:16

Selengkapnya