Berita

Direktur Great Institute, Teguh Santosa (Foto: Youtube Great Institute)

Dunia

Great Institute: Ancaman Terbesar Israel Bukan Palestina, Tapi Netanyahu

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 13:22 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ancaman paling serius yang dihadapi Israel saat ini bukan berasal dari Palestina maupun Hamas, melainkan strategi politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilu Oktober 2026.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Great Institute, Teguh Santosa dalam tayangan podcast di kanal YouTube Great Institute yang dipantau redaksi pada Kamis, 26 Februari 2026.

Teguh menekankan perlunya memahami Israel secara lebih kompleks dan tidak menilai semua pihak secara negatif. Mengabaikan hal tersebut dan hanya menyoroti kekerasan akan menutup peluang perdamaian.


"Jadi maksud saya soal Israel jangan kita lihat seperti mereka ini tidak punya fragmentasi. Kita harus mulai dan harus sering melakukan pebicaraan dengan kelompok-kelompok civil society, demokrat, moderat di Israel," tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa masyarakat Israel kerap salah fokus, karena ancaman terbesar justru berasal dari tokoh konservatif seperti Netanyahu.

"Sehingga nanti masyarakat Israel bisa memahami bahwa ancaman terbesar yang mereka hadapi itu bukan Palestina, bukan Hamas, bukan Iran. Tapi orang-orang konservatif seperti Netanyahu ini. Inilah ancaman terbesar mereka," kata dia. 

Dia menyoroti strategi politik internal Netanyahu menjelang pemilu Israel Oktober mendatang, yang memanfaatkan isu Hamas dan Palestina untuk memperkuat basis dukungan konservatif.

Netanyahu disebut sengaja melancarkan kebijakan yang menekan Palestina sebagai strategi politik menghadapi oposisi Yair Lapid dari Partai Yesh Atid, yang mendukung penyelesaian konflik melalui two-state solution.

"Maka yang dia (Netanyahu)gunakan sejak hari ini, sejak sekarang ini, adalah tema-tema yang mendorong kelompok konservatif untuk tetap mendukung dia. Mengatakan bahwa Hamas, mengatakan bahwa Palestina adalah sumber persoalan," ujar Teguh.

Teguh juga menjelaskan posisi tokoh lain, termasuk Presiden Israel Isaac Herzog, yang mendukung konsep two-state solution, meski mengalami penyesuaian retorika setelah serangan Hamas pada Oktober 2003.

"Isaac Herzog juga sebetulnya menerima two-state solution. Cuma memang Isaac Herzog kaget ketika Hamas menyerang di bulan Oktober tahun 2003. Dia kaget. Maka dia kemudian bilang, jangan ngomong dulu soal two-state solution. Karena serangan itu. Tetapi aslinya dia mendukung two-state solution," paparnya.

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

LPDP Perkuat Ekosistem Karier Alumni, Gandeng Danantara dan Industri

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:04

RDPU dengan Komisi III DPR, Hotman Paris: Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan Janggal

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:02

Kenaikan PT Bikin Partai di DPR Bisa Berguguran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:39

KPK Panggil Ketua KPU Lamteng di Kasus Suap Bupati

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:38

DPR Jadwalkan Pemanggilan Dirut LPDP Sebelum Lebaran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:30

Great Institute: Ancaman Terbesar Israel Bukan Palestina, Tapi Netanyahu

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:22

KPK Panggil Edi Suharto Tersangka Kasus Korupsi Penyaluran Bansos Beras

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:06

IHSG Siang Ini Tergelincir, Nyaris Seluruh Sektor Merana

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:51

Rusia Pertimbangkan Kirim Bantuan BBM ke Kuba

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:29

Partai Buruh Bakal Layangkan Gugatan Jika PT Dinaikkan

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:27

Selengkapnya